Oleh Nani Salna Rosa
Gencatan senjata yang disahkan pada 10 Oktober 2025 memang membukakan sedikit harapan bagi warga Gaza. Sebab bantuan pangan bisa mulai masuk ke wilayah Gaza setelah berbulan-bulan diblokade. Hal ini membuat Dunia berpikir bahwa Palestina sudah baik-baik saja. Padahal nyatanya banyak sekali pelanggaran yang dibuat Zionis saat gencatan senjata terjadi. Contohnya seperti kutipan berita berikut.
Sejak gencatan senjata mulai diberlakukan pada 10 Oktober, warga di seluruh Gaza melaporkan ledakan terjadi hampir setiap hari di area timur, yang diyakini berasal dari operasi Israel yang menargetkan terowongan dan bangunan yang rusak.
Garis Kuning juga membatasi akses bagi ribuan warga yang seharusnya bisa kembali ke rumah mereka di Gaza City bagian timur, Khan Younis, dan kota Beit Hanoun dan Beit Lahia di sebelah utara. Warga setempat mengatakan bahwa puluhan warga Palestina yang berupaya mendekati atau melintasi garis tersebut ditembak oleh pasukan Israel. Israel menyampaikan bahwa pasukannya menargetkan militan yang berupaya melewati garis itu, yang dianggapnya sebagai ancaman keamanan.
Otoritas kesehatan Gaza melaporkan bahwa sedikitnya 260 warga Palestina tewas dan lebih dari 630 lainnya mengalami luka-luka sejak gencatan senjata dimulai. Sejumlah keluarga mengatakan tembakan dan ledakan sporadis terus membahayakan warga sipil. Dikutip dari antaranews.com/15/11/2025
Memang sudah menjadi tabiat Zionis Israel, mereka selalu saja melanggar perjanjian gencatan senjata, dan seluruh dunia sudah tahu itu. Tetapi anehnya, tidak pernah ada sanksi apapun yang diberikan kepada zionis. Yang ada malah para pemimpin Muslim berbondong-bondong membuka hubungan diplomatik dengan zionis Israel. Tentunya hal tersebut sangat menyakitkan bagi umat Muslim, terutama warga Palestina. Karena bukannya membela sesama Muslim, mereka justru tega mengkhianati dengan mempererat hubungan diplomatik dengan Zionis Israel.
Bukan hanya itu pengkhianatan yang dilakukan para pemimpin Muslim. Pemimpin Arab bersekongkol dengan Barat, bahwa jika gencatan senjata tercapai maka ada komite administratif transisi yang akan beroprasi di Gaza di bawah naungan Otoritas Palestina. Proposal ini sudah mendapat dukungan dari Gedung Putih sebelum menyerahkan kembali kepada Palestina.
Apabila ini terjadi, maka kawasan Gaza terancam kebijakan pelucutan senjata dan pelarangan kehadiran kelompok-kelompok pejuang Palestina, seperti Hamas. Bahkan PM Palestina Mohamed Mustafa meminta agar Hamas menyerahkan kekuasaannya kepada pemerintahan Otoritas Palestina. Padahal yang kita semua tahu, bahwa selama ini garda terdepan pejuang Palestina adalah Hamas. Dari sini terlihat jelas, Solusi Barat tidak akan pernah menyelesaikan masalah, justru mereka hanya ingin manggengkan penjajahan di Palestina.
Maka dari itu, solusi gencatan senjata maupun two state solution bukanlah solusi yang membuat Palestina merdeka. Para Pemimpin negeri Muslim harusnya paham betul bahwa hanya jihad dan Khilafah yang dapat menuntaskan permasalahan penjajahan ini. Imam Ibnu Qudaman al-Maqdisi (620 H) menyatakanbahwa jika kaum kafir menduduki suatu negeri kaum Muslim maka penduduk negeri itu wajib memerangi kaum kafir tersebut. Jika mereka tidak mampu maka kewajiban itu meluas kepada kaum Muslim yang ada di negeri sekitarnya (Imam Qudamah, Al-Mughni, 9/228).
Dan juga Allah SWT berfirman dalam Surat alhBaqarah, ayat 190. Yang artinya; ”Peranglah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian.” (TQS al-Baqarah [2]: 190)
Oleh karenanya, hanya dengan jihad dan Khilafah yang dapat menjadi solusi hakiki. Sebab Khilafah adalah junnah (perisai) yang dapat membentengi umat Muslim dari penjajahan di atas muka bumi. Dan dengan dakwah Islam ideologislah kita mampu memahamkan umat urgensitas jihad dan khilafah.
Wallaahua'lam bishshowwab.
No comments:
Post a Comment