Zahrah (Pegiat Literasi)
Dibalik tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat. Tapi pada faktanya sekarang, justru sebaliknya, banyak yang sehat secara fisik tapi mentalnya sakit. kesehatan mental semakin menyeruak dan hangat dibicarakan oleh berbagai pihak baik di dunia nyata maupun dunia maya. Ditengah banyaknya orang hari ini yang mengalami gangguan penyakit mental mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan tak jarang gangguan ini membuat seseorang berani untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Dilansir dari Kompas,com (07/11/2025) sepanjang bulan Oktober 2025 lalu terjadi empat peristiwa anak bunuh diri di Sumatera Barat dan Jawa Barat. Di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, dua siswa SMP ditemukan tewas bunuh diri di lingkungan sekolah. Fenomena serupa juga terjadi di Cianjur, Jawa Barat siswa SD ditemukan tewas gantung diri di rumah neneknya pada Rabu (22/10/2025).
Banyaknya kasus bunuh diri dikalangan remaja saat ini merupakan alarm tingginya gangguan mental yang dirasakan oleh anak-anak saat ini. Masa anak-anak yang seharusnya dijalani dengan penuh kebahagiaan justru dipenuhi dengan berbagai tekanan. Menurut Psikolog sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung, Efnie Indrianie, generasi Alpha banyak yang memiliki kondisi mental yang sangat rapuh jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Kerapuhan mental ini berujung pada Tindakan bunuh diri. Tindakan bunuh diri yang dilakukan Gen Alpha bukanlah keputusan tiba-tiba, melainkan akumulasi tekanan emosional yang menumpuk sejak lama. (Kompas,com (07/11/2025)
Fenomena bunuh diri di kalangan anak-anak memunculkan tanda tanya besar tentang kondisi psikologis anak-anak masa kini. Kenapa kepribadian mereka begitu rapuh ? Seberat apa tekanan yang menimpa mereka sehingga mereka dengan mudah melakukan aksi bunuh diri?
Rapuhnya kepribadian anak dan remaja disebabkan oleh berbagai faktor. Manajer Center for Public Mental Health (CPMH) Universitas Gadjah Mada, Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., Psikolog menyatakan bahwa Gen Alpha rentan mengalami tekanan psikologis karena mereka tumbuh dalam paparan teknologi digital, aktif berinteraksi dengan orang lain di dunia maya dan mendapatkan banyak informasi dari sana. Kondisi ini membuat mereka begitu akrab dengan dunia digital tetapi rentan terhadap tekanan emosional yang berpotensi membuat anak terjebak dalam tekanan mental yang berat hingga berujung pada tindakan ekstrem seperti bunuh diri. Di sisi lain lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat tidak tercipta lingkungan yang ideal untuk tumbuh kembang anak secara psikologis. Lingkungan keluarga dan sekolah yang menjauhkan peran agama dalam mendidik generasi menjadikan mereka lemah iman dan lemah mental. Berbagai tontonan tidak mendidik yang banyak berseliweran di media sosial juga menjadi problem tersendiri bagi mental generasi. Apa yang dilihat media sosial tidak sesuai dengan kenyataan hidup yang harus dihadapi. Selain itu, masifnya paparan media sosial terkait bunuh diri dan komunitas sharing bunuh diri yang semakin banyak mendorong remaja dan anak2 makin rentan bunuh diri. (ugm.ac.id, 12/11/2025)
Berbagai tekanan hidup dan kondisi lingkungan yang jauh dari islam menjadikan generasi jauh dari Allah. Mereka tidak memahami arah dan tujuan hidup di dunia. Maka tidak mengherankan banyak generasi muda dengan gangguan mental yang berakhir tragis. Bunuh diri adalah puncak dari gangguan kesehatan mental. Gangguan mental adalah buah berbagai persoalan yang terjadi, mulai dari kesulitan ekonomi, konflik orang tua termasuk perceraian, hingga tuntutan gaya hidup, dan sebagainya. Hal ini akibat penerapan sistem kapitalisme. Berbagai faktor tersebut termasuk faktor non klinis yang mempengaruhi gangguan mental.
Oleh karena itu, masalah gangguan mental perlu diatasi berdasarkan Solusi islam. Karena islam adalah agama yang sempurna yang akan menjadi rahmat bagi siapa saja yang mengaplikasikannya dalam kehidupan. Islam memberikan solusi secara menyeluruh, termasuk dalam mengatasi masalah kesehatan mental.
Dalam islam, akidah dijadikan sebagai pondasi dasar pendidikan di keluarga, sekolah, masyarakat hingga negara. Dengan akidah yang kokoh anak akan memiliki kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi setiap kesulitan hidup yang dialami. Karena ia tahu bahwa tujuan hidupnya adalah mendapatkan ridho Allah swt. Dengan Pendidikan islam anak-anak akan memiliki pola piker dan pola sikap Islami, sehingga terbnetuk syakhsiyah islam dalam diri siswa. Selain itu, dalam islam anak akan dipersiapkan untuk memikul segala tanggung jawab syariat saat dia aqil baligh. Anak akan memahami setiap perbuatannya akan dicatat oleh malaikat dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan allah Ketika dia sudah aqil baligh. Tidak hanya siap secara fisik anak juga akan siap secara mental dan keilmuan sehingga anak mampu menyikapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara syar’i.
Penerapan islam secara kaffah akan menjaga anak dari gangguan mental. Mulai dari penerapan sistem pendidikan islam yang akan membentuk kepribadian islam, sistem ekonomi yang dapat menjamin setiap kebutuhan pokok mereka terpenuhi, penerapan sistem pergaulan sesuai syariat akan menjauhkan anak dari bulliying.
Semua sistem islam itu hanya bisa diterapkan jika khilafah tegak. Persoalan bunuh diri dapat teratasi hingga ke akar-akarnya jika islam diterapka secara kaffah dalam berbagi lini kehidupan, mulai dari keluarga, sekolah, Masyarakat hingga negara. Wallahu A’lam bishowwab

No comments:
Post a Comment