Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Konflik Sudan Menunjukkan Rapuhnya Sistem Demokrasi

Tuesday, November 11, 2025 | Tuesday, November 11, 2025 WIB Last Updated 2025-11-11T03:42:46Z





Oleh Heni Rohaeni 

Aktivis Muslimah 


KHARTOUM – Sebanyak 1.500 warga Sudan meninggal dalam waktu tiga hari menyusul penguaasaan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di el-Fasher. Angka ini menandai eskalasi mengerikan perang saudara di Sudan. Aljazirah melaporkan, RSF yang berperang melawan militer Sudan untuk menguasai negara it, menewaskan sedikitnya 1.500 orang selama tiga hari terakhir ketika warga sipil mencoba melarikan diri dari kota yang terkepung, Jaringan Dokter Sudan mengatakan pada hari Rabu. Kelompok tersebut, yang memantau perang saudara di negara tersebut, menggambarkan situasi tersebut sebagai “genosida yang nyata”. “Pembantaian yang disaksikan dunia saat ini merupakan perpanjangan dari apa yang terjadi di el-Fasher lebih dari satu setengah tahun lalu, ketika lebih dari 14.000 warga sipil terbunuh akibat pemboman, kelaparan, dan eksekusi di luar hukum,” kata kelompok tersebut. Dikatakan bahwa serangan tersebut dilakukan sebagai bagian dari “kampanye pembunuhan dan pemusnahan yang disengaja dan sistematis”. Pernyataan tersebut muncul ketika bukti baru pembunuhan massal di wilayah strategis tersebut muncul dari Humanitarian Research Lab (HRL) Yale, yang melaporkan bahwa citra satelit el-Fasher, yang diambil setelah RSF masuk, menunjukkan kumpulan objek yang sesuai dengan ukuran tubuh manusia, serta area perubahan warna merah yang luas di tanah. https://www.republika.id 

Perang saudara di Sudan bukan sekedar perebutan kekuasaan antara ASF dan RSF, konflik keduanya menjadi pembantaian terhadap warga sipil. Di balik krisis perebutan kekuasaan di Sudan ada perang asing di dalamnya, yaitu Amerika Serikat dan Inggris,mengadu domba rakyat Sudan, tujuannya demi mengokohkan hegemoni mereka sambil mengeruk kekayaan alam Sudan.ASF dan RSF hanyalah pion dalam skenario asing.

Konflik Sudan Menunjukkan rapuhnya sistem demokrasi yang mementingkan kekuasaan yang direbutkan maka rakyatlah menjadi korban dari perang,  memecah belah, dan kediktatoran sekuler yang didukung oleh Barat.

Solusi sejati dan abadi untuk Sudan bukanlah kompromi dengan sistem sekuler, tetapi mengembalikan kehidupan Islam dibawah naungan khilafah.

Khilafah akan memulihkan keadaan dengan cara hidup islami menjadikan kekuasaan sebagai amanah, bukan rampasan. Menghapus segala bentuk hegomoni asing menjajah di berbagai bidang. Kepemimpinanya berfungsi sebagai pelindung urusan umat, melindungi dari penindasan, menjamin perdamaian dunia, menegakkan keadilan, melindungi menoritas. Khilafah akan menyatukan umat Islam lintas etnis dan suku, menyingkirkan pengaruh asing, mengelola sumber daya alam secara adil.

Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update