Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Fenomena Pelajar Bunuh diri Meningkat, Islam Kaffah Solusi Tepat

Friday, November 14, 2025 | Friday, November 14, 2025 WIB Last Updated 2025-11-14T01:52:56Z

 



Oleh : Nia Umma Zhafran (Aktivis Muslimah)


Dunia pendidikan dikejutkan kembali dengan kasus bunuh diri anak sekolah. Dalam sepekan terakhir, dua anak ditemukan meninggal diduga akibat bunuh diri di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kasus pertama siswa berinisial MAA kelas V (10) di Kampung Cihaur, Desa Gunungsari, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur. Korban ditemukan ditemukan tergantung di pintu kusen kamar neneknya menggunakan tali sepatu pada Rabu sore (22/10).


Kasus kedua, siswi SMP berinisial AK (14) mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di kusen pintu rumahnya di Kecamatan Cikembar, karena mendapat perundungan disekolahnya. Hal ini terungkap dari selembar surat yang ditinggalkan korban sebelum mengakhiri hidup pada Selasa malam (28/10). Kompas.id (31/10)


Fenomena anak bunuh diri menjadi alarm serius bagi semua pihak, terutama orangtua, sekolah, masyarakat sampai pada negara untuk lebih peka terhadap kondisi psikologis anak. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono (30/10/2025), mengungkapkan data mengkhawatirkan dari program pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang menunjukkan lebih dari dua juta anak Indonesia mengalami berbagai bentuk gangguan mental. Data ini diperoleh dari sekitar 20 juta jiwa yang sudah diperiksa.


Jadi, apa penyebab maraknya bunuh diri di kalangan remaja? Maka, angka bunuh diri yang meningkat di kalangan pelajar perlu dicermati. Bila dicermati tidak semua bunuh diri ini disebabkan oleh perundungan (bullying). Fakta ini lebih menggambarkan bahwa kepribadian yang rapuh pada remaja merupakan faktor yang mendorong mereka melakukan bunuh diri.


Kerapuhan kepribadian anak mencerminkan lemahnya dasar akidah anak. Hal ini adalah implikasi dari pendidikan sekuler yang hanya sekedar mengejar prestasi fisik dan mengabaikan pengajaran agama. Agama hanya diajarkan secara teori tapi tidak meninggalkan pengaruh yang menjasad pada anak.


Paradigma batas usia anak juga berpengaruh. Pendidikan Barat menganggap anak baru dikatakan dewasa ketika berusia 18 tahun. Sehingga sering kali anak sudah balig namun masih diperlakukan sebagai anak dan tidak dididik untuk menyempurnakan akalnya.


Bunuh diri merupakan puncak dari gangguan kesehatan mental. Gangguan mental merupakan buah berbagai persoalan yang terjadi, mulai dari kesulitan ekonomi, konflik orang tua termasuk perceraian, hingga tuntutan gaya hidup, dan sebagainya. Hal ini akibat penerapan sistem kapitalisme. Berbagai faktor tersebut termasuk faktor non klinis yang mempengaruhi gangguan mental. Tak hanya itu, Paparan media sosial terkait bunuh diri dan komunitas sharing bunuh diri yang semakin banyak mendorong remaja dan anak-anak semakin rentan bunuh diri.


Buah sistem sekuler kapitalistik yang memisahkan agama dari kehidupan, menjadikan pendidikan menjadi instrumen untuk mencapai kesuksesan materil. Nilai-nilai spiritual dan moral tersingkirkan dari ruang belajar. Paradigma ini melahirkan budaya “survival of the fittest”, siapa yang lemah akan tertinggal, dan siapa yang kuat akan menguasai.


Maka tak heran pendidikan tidak lagi berfungsi untuk membentuk kepribadian yang kukuh dan beradab, yang lahir adalah manusia-manusia rapuh, egoistis, dan mudah terseret arus tekanan sosial. Wajar jika perundungan, kekerasan, bahkan bunuh diri menjadi gejala yang terus berulang di dunia pendidikan.


Berbeda dengan pendidikan dalam Islam. Islam menjadikan dasar pendidikan dalam keluarga, sekolah dan seluruh jenjang pendidikan adalah berlandaskan akidah Islam sehingga anak memiliki kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi setiap kesulitan. Karena paradigma, tujuan, orientasi, hingga metode pembelajaran dalam Islam disusun berdasarkan wahyu, bukan tuntutan pasar kerja sebagaimana sistem sekuler saat ini. 


Tujuan sistem pendidikan Islam adalah membentuk pola pikir dan pola sikap Islam, sehingga pada diri siswa terbentuk kepribadian Islam. Dalam Islam ketika balig anak juga diarahkan untuk aqil sehingga Pendidikan anak sebelum balig Adalah Pendidikan yang mendewasakan dan mematangkan kepribadian Islamnya. Dengan demikian setiap individu memiliki mental yang kokoh dan mampu menyikapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara yang benar (shahih) atau paham terkait hukum syara.


Negara memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan setiap warganya, termasuk menyediakan kebutuhan pokok yang murah dan mudah diakses. Upaya ini dapat menciptakan keluarga serta lingkungan yang lebih harmonis, sekaligus mencegah munculnya gangguan mental pada individu.


Selain itu, negara berkewajiban memilah konten yang beredar di masyarakat, khususnya konten yang dapat mempengaruhi pola pikir anak sampai meniru tindakan kekerasan atau perundungan. Bahkan, tayangan film yang menampilkan cara bunuh diri dengan narasi ‘menghapus’ beban hidup juga berpotensi memicu seseorang untuk melakukan tindakan serupa.


Solusi tepat atas fenomena ini mustahil dicapai selama negara masih mempertahankan sistem kapitalis-sekuler, karena pendekatannya tidak menyentuh akar persoalan bunuh diri secara menyeluruh. Hanya negara yang menerapkan sistem Islam secara kaffah yang mampu menyelesaikan problematika umat hingga ke akarnya.


Wallahu a’lam bi ash-shawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update