Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Two State Solution: Ilusi Damai yang Harus Ditolak Gen Z

Friday, October 17, 2025 | Friday, October 17, 2025 WIB Last Updated 2025-10-17T11:46:04Z

 



Oleh; Kursiyah Azis ( Penulis dan Aktivis Muslimah)



Ketika gen z turun tangan membela Palestina, Zionis berusaha membungkam. Tapi semangat kebenaran tak bisa dicegat, ia terus mengalir dari hati yang merdeka, menolak tunduk pada tirani penjajah.


Melansir dari Kompas.Com, 04/10/2025. Aksi protes gen z di Maroko berlangsung selama hampir sepekan, mereka menuntut agar pemerintah saat ini dibubarkan. Hal itu sebagai imbas atas kebijakan pencegatan kapal global sumud flotilla yang di nilai sebagai bentuk kegagalan pemerintah dalam memenuhi hak-hak sosial masyarakat. Tuntutan itu disampaikan oleh kelompok gen z usai demonstrasi digelar pada hari kamis, 02/10/2025 di berbagai kota.


Selama puluhan tahun, dunia digiring untuk percaya bahwa two-state solution, yakni gagasan dua negara bagi Israel dan Palestina adalah jalan menuju perdamaian. Namun, di balik jargon diplomasi itu tersimpan ilusi yang menyesatkan. Sebab penjajahan tetap dibiarkan, dan kezaliman dilegalkan atas nama kompromi.


Gen Z, generasi yang tumbuh di era keterbukaan informasi, tidak boleh lagi terjebak dalam narasi palsu ini. Mereka harus berani menyuarakan kebenaran bahwa Palestina bukan sekadar persoalan batas negara, tetapi soal penjajahan yang wajib dihapus, bukan dinegosiasikan.


*Damai Palsu di Tanah Terjajah Harus di Hapuskan*


Sejak disepakatinya Oslo Agreement pada tahun 1993, konsep two-state solution terus dijual sebagai solusi “realistis”. Dunia Barat, terutama Amerika Serikat dan sekutunya, berperan seolah penengah, padahal merekalah dalang yang menanamkan benih penjajahan itu sendiri. Terbukti di lapangan seringkali menunjukkan sebaliknya. Setiap upaya menuju dua negara selalu diiringi perluasan pemukiman ilegal, peningkatan kekerasan terhadap warga Palestina, dan pembatasan ruang hidup mereka.


Sementara itu, rakyat Palestina terus dipaksa bertahan di bawah blokade, pengusiran, dan bombardir yang tak henti. Gaza menjadi penjara terbesar di dunia terbuka, dan Tepi Barat dikepung oleh tembok apartheid. Lalu dunia menyebut ini sebagai “proses perdamaian”? Inilah paradoks paling kelam dalam sejarah modern.Ketika kezaliman dikemas dengan label diplomasi, dan penjajahan dibungkus dalam bahasa hak asasi manusia.




*Gen Z Wajib Menolak Normalisasi Penjajahan*


Menolak two-state solution bukan berarti menolak perdamaian. Sebaliknya, itu adalah bentuk perlawanan terhadap damai palsu yang menindas satu pihak dan menguntungkan pihak lain. Bagaimana mungkin ada perdamaian ketika penjajah tetap berdaulat, sementara yang dijajah hanya diberi secuil tanah tanpa kedaulatan sejati?


Dalam kacamata Islam, tidak ada kompromi dengan penjajahan. Keadilan sejati hanya lahir dari pencabutan akar kezaliman, bukan dari pembagian wilayah yang melanggengkan dominasi. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa perdamaian sejati adalah ketika hak ditegakkan dan kebatilan dihancurkan. Maka, two-state solution sejatinya bukan solusi, melainkan jalan buntu yang menutup kemungkinan tegaknya keadilan bagi rakyat Palestina.



Oleh karena itu, sudah seharusnya Gen Z memiliki kesadaran baru untuk mewujudkan Keadilan Global. Gen Z tumbuh di tengah derasnya arus informasi global, mereka menyaksikan kekejaman Israel secara langsung di layar ponsel, tanpa filter propaganda media Barat. Mereka melihat bagaimana anak-anak Palestina kehilangan keluarga, rumah, dan masa depan, sementara dunia diam seribu bahasa. Kesadaran inilah yang melahirkan gelombang solidaritas baru yang bermula dari kampus, jalanan, hingga dunia digital.


Namun, solidaritas saja tidak cukup. Gen Z harus melangkah lebih jauh. Yakni memahami akar masalahnya, menolak narasi penjajahan, dan berpihak pada solusi yang benar-benar adil. Menolak two-state solution bukan berarti anti-perdamaian, tapi justru tanda kesadaran politik yang matang. Sebab, damai yang dibangun di atas ketidakadilan sejatinya hanyalah jeda menuju tragedi berikutnya.


 


Gen Z dikenal sebagai generasi yang berani bersuara, kritis terhadap ketimpangan, dan peduli terhadap isu kemanusiaan. Kini, keberanian itu diuji di hadapan tragedi terbesar abad ini. Yaitu penjajahan atas Palestina. Apakah mereka akan membiarkan ilusi damai menipu kesadaran umat, atau memilih berdiri di barisan kebenaran yang menuntut keadilan sejati?


Menolak two-state solution adalah bentuk keberpihakan pada nilai-nilai universal. Yakni keadilan, kemanusiaan, dan kebenaran. Inilah saatnya Gen Z menunjukkan sikap yang sesungguhnya sembari menegaskan bahwa perdamaian sejati tidak lahir dari kompromi dengan kezaliman, melainkan dari keberanian melawan penjajahan hingga tuntas.


*Solusi Islam*


Palestina tidak butuh dua negara. Akan tetapi Palestina butuh satu hal. Yakni pembebasan penuh dan tegaknya keadilan hakiki di bawah kebenaran yang tak bisa ditawar, dan semua itu hanya akan bisa terwujud ketika sistem Islam diterapkan di muka bumi, hanya dalam naungan khilafah, perdamaian bisa diwujudkan tanpa mendzalimi pihak yang lain.


Two State Solution adalah proyek penjajahan terselubung. Sejatinya gagasan dua negara hanyalah cara baru untuk melegitimasi pendudukan Zionis atas tanah kaum Muslimin. Ia memisahkan Palestina menjadi wilayah kecil yang tidak berdaulat, sementara sebagian besar tanah tetap dikuasai entitas Zionis. Ini bukan solusi, tapi justru pengkhianatan terhadap darah para syuhada dan penderitaan umat.


Padahal dalam Islam tidak tidak ada istilah kompromi dengan para penjajah, sebab seluruh tanah kaum Muslimin termasuk Palestina adalah ardh al-Islam. Yaitu tanah yang wajib dibebaskan dan dijaga kehormatannya. Islam tidak mengajarkan kompromi dengan penjajah, tetapi kewajiban untuk mengusirnya dengan kekuatan dan persatuan umat.


Olehnya itu maka Solusi sejati bagi tanah terjajah adalah pembebasan total di bawah kepemimpinan Islam (Khilafah). Dengan mengembalikan kepemimpinan Islam yang mempersatukan negeri-negeri Muslim dalam satu barisan politik, militer, dan ideologis. Dengan kekuatan itu, umat Islam dapat menghapus entitas penjajah Zionis, membebaskan seluruh tanah Palestina, dari sungai hingga laut. Serta menjamin keamanan dan kedamaian sejati di bawah hukum Allah SWT.



Dengan demikian, maka sudah saatnya Sistem buatan manusia di singkirkan untuk diganti dengan sistem Islam yang mampu membawa perdamaian hakiki, bukan kompromi palsu. Keadilan dan kedamaian hanya terwujud jika hukum Allah ditegakkan, bukan hukum buatan manusia yang lahir dari kepentingan politik global. Dalam sistem Islam, Yahudi, Nasrani, dan semua non-Muslim akan hidup damai di bawah perlindungan dzimmah, bukan dalam konflik abadi yang dipelihara kapitalisme global. Wallahu a'lam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update