Oleh : Ulfah Febriani
Baru pertama kalinya, negara-negara Arab kompak mengecam Hamas. Serangan kelompok militan Palestina itu ke Israel pada 7 Oktober 2023 mendapat kecaman dari Arab Saudi, Qatar, Mesir, Yordania, dan Turki—negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim.
Dalam deklarasi bersama yang diumumkan di markas PBB, New York, Selasa (29/7/2025), mereka mendesak Hamas untuk segera meletakkan senjata, membebaskan semua sandera, dan mengakhiri kekuasaannya di Gaza. Tak hanya itu, Hamas juga diminta menyerahkan kendali Jalur Gaza kepada Otoritas Palestina (PA).
Di waktu bersamaan, kabar lain datang dari Eropa dan Kanada. Prancis, Inggris, dan Kanada menyatakan rencana mereka untuk mengakui negara Palestina secara resmi pada September mendatang. Namun langkah itu memicu reaksi keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurut Trump, pengakuan tersebut justru dianggap sebagai bentuk “hadiah” bagi Hamas, padahal kelompok itu dinilai masih menjadi penghalang utama bagi terciptanya gencatan senjata dan pembebasan para sandera.
Deklarasi New York yang digagas 22 negara Arab bersama Uni Eropa dan sejumlah negara lain disebut sebagai langkah baru dalam menyikapi Hamas. Isinya mengusung rencana bertahap menuju penyelesaian konflik Palestina–Zion*s Yahudi, dengan target akhir berdirinya negara Palestina yang hidup berdampingan dengan entitas penjajah tersebut. Namun, bagi umat Islam, skema ini hanyalah angan kosong yang menutup mata dari kenyataan pahit di lapangan.
Pernyataan itu justru menyingkap kelemahan para pemimpin Arab. Mereka seolah menafikan ikatan iman dan persaudaraan dengan penduduk Gaza yang setiap hari menjadi korban kebiadaban Zion*s Yahudi. Alih-alih mengirim bala bantuan, mereka malah menekan Hamas—satu-satunya benteng terakhir yang masih berjuang mempertahankan tanah Muslim dari penjajahan—agar melucuti senjata. Lebih memalukan lagi, Mesir menekan Imam Besar Al-Azhar untuk menarik ucapannya yang mengecam pengepungan Gaza yang menyebabkan kelaparan massal.
Padahal, bukti penjajahan Zions Yahudi di Palestina sudah sangat nyata. Dalam sejarah, penjajah selalu harus diperangi dan diusir, bukan diberi legitimasi atas tanah rampasan. Karena itu, dukungan terhadap solusi dua negara tidak lain adalah bentuk pengkhianatan: melegalkan pendudukan Zions Yahudi di bumi suci umat Islam. Sikap ini bukan hanya mencederai hukum Allah, tetapi juga merupakan penghinaan terhadap seluruh kaum Muslim.
Keputusan para pemimpin negara-negara Muslim untuk menekan Hamas agar menyerahkan senjata dipandang sebagai bencana bagi rakyat Gaza dan umat Islam. Solusi dua negara yang mereka usung dianggap sebagai solusi palsu yang memihak penjajah, sehingga justru menghambat pembebasan hakiki Palestina dan mengkhianati kaum muslim.
Kekecewaan itu kian dalam mengingat dukungan militer Amerika Serikat terhadap tindakan Zionis yang menimbulkan penderitaan besar di Gaza dan represi terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Para penguasa Arab seharusnya menggunakan pengaruh diplomatik mereka untuk mendesak penghentian dukungan tersebut, tetapi kenyataannya mereka terus memelihara hubungan bilateral dan normalisasi, memilih kepentingan politik dan ekonomi di atas nasib saudara mereka.
Namun, langkah tegas itu tidak mereka ambil. Mereka tetap saja menjalin hubungan bilateral dengan AS, bahkan melakukan normalisasi dengan Zion*s. Mereka juga tetap tunduk pada kepentingan AS/Barat dan mengamankan kepentingan nasional masing-masing. Kepentingan harta, jabatan, dan kekuasaan telah mematikan ukhuah islamiah dan menjerumuskan mereka pada kelemahan di hadapan musuh Allah Taala. Ini sekaligus menunjukkan bahwa secara tidak langsung para penguasa muslim itu juga terlibat dalam aksi genosida saudara seiman mereka di Gaza.
Di tengah gelombang perampasan wilayah yang terus-menerus terjadi di Palestina, sesungguhnya Gaza adalah benteng terakhir kaum muslim Palestina yang belum ternoda oleh tangan Zion*s yang senantiasa berlumuran darah kaum muslim. Namun, kita bisa membayangkan kondisi yang memburuk pada umat Rasulullah saw. ini jika sayap jihad di Gaza benar-benar berhasil dilucuti. Na’uzubillahi mindzalik.
Pembebasan Palestina akan terwujud secara tuntas ketika Khilafah tegak. Khilafah akan mengomando satu kesatuan pasukan jihad untuk membebaskan Palestina seutuhnya. Untuk itulah, umat harus terus diseru untuk memanfaatkan momentum ini sebagai titik tolak perjuangan mewujudkan kembali kemuliaan Islam dan kaum muslim.

No comments:
Post a Comment