Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rokok di Tangan, Etika di Buang

Saturday, October 25, 2025 | Saturday, October 25, 2025 WIB Last Updated 2025-10-25T00:24:46Z

 


Oleh : Astina

Sebuah potret yang mengiris hati dari dunia pendidikan Indonesia kembali menjadi sorotan tajam. Foto seorang siswa SMA di Makassar berinisial AS, yang dengan santainya merokok dan mengangkat kaki di samping gurunya, Ambo menyebar cepat di jagat maya. 

Insiden ini bukan sekadar cerita tentang kenakalan remaja, melainkan sebuah dilema besar yang dihadapi para pendidik di era modern. Di satu sisi, ada guru yang ragu bertindak karena takut dicap melanggar HAM. Di sisi lain, ada pendidik yang memilih jalur kekerasan, seperti kasus kepala sekolah di Banten yang menampar muridnya karena ketahuan merokok.

Dalam klarifikasinya kepada Dinas Pendidikan Makassar, Ambo sang guru dalam foto viral tersebut, memberikan penjelasan yang justru menyoroti betapa rumitnya posisi pendidik saat ini. Ia mengaku tidak menyadari muridnya memegang rokok karena fokusnya teralihkan pada permintaan AS untuk diajari membaca puisi. Namun, pengakuannya yang paling mencuri perhatian adalah keraguannya untuk menegur secara tegas. Pernyataan ini menyiratkan adanya tembok tak kasat mata yang membuat para guru ragu dalam menegakkan disiplin, takut tindakan mereka disalahartikan dan berujung pada sanksi.

Kasus ini menjadi antitesis tajam dari insiden yang terjadi di Banten, baru-baru ini. Jika guru Ambo memilih kehati-hatian yang berujung pada kesan pembiaran, seorang kepala sekolah di Banten mengambil tindakan sebaliknya. Menghadapi siswa yang juga melanggar aturan dengan merokok di lingkungan sekolah, sang kepala sekolah memilih respons fisik dengan menampar murid tersebut. Hasilnya bisa ditebak, tindakan itu menuai kecaman luas, dianggap sebagai kekerasan di lingkungan pendidikan, dan berpotensi membawa konsekuensi hukum. Dua peristiwa ini, meskipun terjadi di tempat yang berbeda dengan respons yang kontras, sebenarnya berakar dari masalah yang sama adanya ruang abu-abu dalam penerapan disiplin siswa dan tergerusnya wibawa guru.

Kejadian seperti sudah sering terjadi di beberapa wilayah di Negara Indonesia. Orang tua yang marah ketika anaknya ditegur dengan cara yang tegas oleh guru di sekolah. Padahal seharusnya orang tua juga menilai dari sisi perilaku anaknya, tetapi tidak bisa dipungkiri saat ini, banyak orang tua yang memanjakan anaknya meskipun anaknya sudah jelas bersalah, tetapi tetap ada pembelaan dari pihak orang tua.

Pendidikan saat ini sangat berbeda dengan pendidikan di tahun 90-an, murid memiliki etika yang lebih baik, takut berbuat salah di depan guru, dan ketika diberikan sanksi ketika melakukan kesalaha, orang tua tidak membela seperti saat ini. Berbeda keadaan saat ini, jika guru menegur lansung dilaporkan kepada polisi. Padahal seorang guru disekolah seperti orang tua, para guru berusaha mendidik anak-anak agar menjadi penerus bangsa yang berilmu dan beradab. 

Betapa rumitnya posisi pendidik saat ini. Akar masalah adanya ruang abu-abu dalam penerapan disiplin siswa dan tergerusnya wibawa guru. Fenomena ini menunjukkan bagaimana siswa merasa punya kebebasan untuk bertindak di luar batas etika, sementara guru merasa tak berdaya. Ketika guru ingin menegakkan kedisiplinan bagi siswanya, sering kali guru diadukan bahkan mengancam posisinya. Sistem liberal dan negara yang abai melahirkan generasi yang tidak taat aturan dan krisis moral. Merokok menjadi alasan ungkapan kedewasaan, jati diri dan kebanggaan agar dibilang keren. Di sisi lain rokok mudah dijangkau remaja, ini bukti lemahnya negara dalam pengawasan. Segala bentuk kekerasan tidak dibenarkan. Maka butuh pendidikan yang menjadikan remaja paham siapa dirinya dan arah hidupnya.

Dalam sistem pendidikan saat ini tidak ada perlindungan yang jelas bagi guru, guru berada dalam tekanan yang luar biasa.Mengingatkan seseorang yang bersalah adalah salah satu bagian dari amar makruf nahi mungkar, tapi tidak melalui kekerasan. Upaya tabayun dan pendekatan untuk mengetahui latar belakang seseorang melakukan perbuatan. Sistem pendidikan sekuler yang diterapkan saat ini memberikan ruang kebebasan, terbukti telah gagal mencetak peserta didik yang bertakwa dan berakhlak mulia. Perlu menanamkan kembali nilai-nilai fundamental sopan santun dan rasa hormat kepada guru. Berbeda dengan pendidikan dalam Islam, guru adalah pilar peradaban, posisinya dihormati dan dimuliakan karena tugasnya membentuk kepribadian muridnya. Guru bukan hanya gudang ilmu namun pendidik yang memberikan suri teladan bagi muridnya. Dalam Islam hukum merokok memang mubah, tapi di sisi lain tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain. Merokok bisa membahayakan kesehatan bagi perokok aktif maupun pasif. Selain itu juga menjadikan hidup boros. Sistem pendidikan Islam mengajarkan bagaimana pelajar mempunyai pola pikir dan pola sikap yang sesuai Islam. Melahirkan generasi yang mempunyai kesadaran bahwa tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah dan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Bahwa remaja muslim harus berprinsip dan bangkit menjadi generasi yang beriman bukan generasi yang merusak.

Pada masa keemasan Islam, umat Islam berhasil mencapai kemajuan besar dalam bidang pendidikan. Banyak lembaga pendidikan seperti Baitul Hikmah di Baghdad, Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko, dan Madrasah Nizamiyyah berdiri sebagai pusat ilmu pengetahuan. Para ilmuwan Muslim seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan Al-Ghazali lahir dari sistem pendidikan yang maju ini. Keberhasilan tersebut menjadikan dunia Islam sebagai pusat peradaban dan sumber inspirasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update