Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Makan Siang Gratis: Wajah Baru Penjajahan Global Oleh: Ummu Nazba

Wednesday, October 15, 2025 | Wednesday, October 15, 2025 WIB Last Updated 2025-10-15T02:01:49Z


 


Ketika kekuatan kapitalis menawarkan program makan siang gratis dengan embel-embel kemanusiaan, sesungguhnya mereka sedang menerapkan taktik lama dalam pembungkus baru. Ini adalah bentuk soft power kolonialisme kontemporer — bukan lagi lewat tank dan senjata, melainkan melalui bantuan, program sosial, dan retorika kesejahteraan global.

Kapitalisme dan Kontradiksi “Makan Siang Gratis”

Pepatah kapitalis lama mengatakan: “Tidak ada yang benar-benar gratis.” Ironisnya, kini mereka sendiri tampak melanggarnya. Program makan siang gratis bukanlah ungkapan kasih sayang semata, melainkan alat untuk mencapai tujuan strategis: mengalihkan perhatian, mempengaruhi kebijakan, dan melemahkan kapasitas mandiri negara-negara begitu sehingga tetap terikat pada orbit kapitalisme global.

Pemberian itu bukan sekadar soal makanan — melainkan alat pengendalian. Dalam politik dunia, pihak yang membiayai hidup orang lain seringkali turut menentukan cara berpikir dan pilihan hidup penerimanya.

Penetapan Global: Dari PBB hingga Pemerintahan Nasional

Kerap terlupakan bahwa program sosial besar yang dijalankan pemerintah biasanya tidak muncul begitu saja. Ketika badan internasional seperti PBB, IMF, Bank Dunia, atau UNICEF menganjurkan negara—termasuk Indonesia—mengadopsi program seperti school feeding, itu seringkali bagian dari paket kebijakan multilateral yang telah dibahas dalam forum global dan dibingkai sebagai SDGs.

Mereka menyebut tujuan itu sebagai upaya mengatasi kelaparan dan kemiskinan, namun di baliknya tersusun peta ekonomi yang menempatkan negara-negara Dunia Ketiga sebagai pasar, pemasok bahan mentah, pembayar utang, dan konsumen kebijakan berbasis pinjaman.

Makan Siang yang “Beracun”

Kita menyebutnya berbahaya karena bantuan itu sering datang bersamaan dengan penanaman ideologi dan kepentingan asing. Paket pangan kerap disertai tuntutan membuka pasar bagi perusahaan multinasional, mencabut subsidi untuk produksi lokal, dan melemahkan ketahanan ekonomi komunitas. Label “kemanusiaan” bisa jadi hanya penutup untuk praktik eksploitasi dan penindasan.

Kemanusiaan yang Menipu dalam Sistem Kapitalis

Negara-negara kapitalis sejatinya kurang memperhatikan kesejahteraan rakyat, termasuk di wilayah jajahan mereka. Di negara-negara maju sendiri banyak persoalan kemiskinan, akses pendidikan yang terbatas, dan biaya hidup tinggi — namun mereka tetap menggaungkan narasi “keadilan global”. Program free lunch dalam konteks ini berfungsi sebagai mekanisme domestikasi massa: menciptakan ketergantungan agar sistem politik dan ekonomi mereka tetap diterima.

Bahkan di tempat-tempat yang menderita konflik—seperti di Palestina—bantuan yang masuk seringkali disertai ambiguitas moral: datang dari pihak yang juga terlibat dalam dukungan atau pembiayaan praktik penjajahan. Narasi kemanusiaan dipakai agar perhatian tertuju pada upaya penyelamatan sementara akar masalah penindasan dibiarkan.

Alternatif Sejati: Sistem Islam sebagai Jawaban

Dalam pandangan penulis, Islam menawarkan jawaban yang berbeda. Sistem yang berdasarkan iman menganggap pemeliharaan kesejahteraan rakyat sebagai kewajiban negara, bukan sekadar kemurahan hati yang bersyarat. Sabda Nabi ﷺ diingatkan: “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat, dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kepemimpinan dalam Islam memberi karena kewajiban moral dan ketakwaan, bukan untuk mencari pujian. Kesejahteraan dibangun melalui keadilan sosial dan distribusi sumber daya yang adil, sehingga setiap orang memperoleh haknya tanpa terjerat ketergantungan atau utang yang menindas.

Khilafah diutarakan sebagai model pengelolaan sumber daya publik—bukan komoditas untuk memperkaya segelintir—dengan tujuan menjamin pangan, pendidikan, dan layanan kesehatan tanpa syarat politik. Dengan demikian, bantuan menjadi nyata, bermartabat, dan bebas dari agenda penjajahan.

Penutup

Di balik jargon seperti “program kemanusiaan” atau “pemberdayaan” sering terselip motif untuk mengukuhkan kontrol ekonomi dan ideologis. Saatnya umat Islam membuka mata terhadap bentuk-bentuk kolonialisme modern ini, menolak tipu daya yang mengaburkan kedaulatan, dan menyerukan penerapan sistem yang adil sesuai ajaran Islam. Hanya melalui keadilan yang sejati—bukan penaklukan yang tersembunyi—kelaparan dapat diatasi sambil menjaga martabat manusia. 

Wallahu a‘lam.


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update