Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kapitalisme Menciptakan Kesenjangan dan Merampas Peran Ayah

Wednesday, October 22, 2025 | Wednesday, October 22, 2025 WIB Last Updated 2025-10-22T08:40:35Z



Oleh Heni Rohaeni

Aktivis Muslimah 


Salindia terakhir yang berisi balon obrolan berwarna putih-hijau, Rut Helga (31) meminjamkan papanya pada warganet. Sang papa tersentuh cerita warganet yang mengalami fatherless. Konten yang terdiri dari empat salindia itu terbit di Instagram @ruthhelga pada 17 Juli 2025. Hingga Senin (18/8/2025), konten tersebut sudah disukai 32.400 akun, dikirimkan 1.213 kali, serta memperoleh 959 komentar. Di kolom komentar, seorang warganet bercerita, air matanya tumpah saat membaca salindia terakhir konten Rut. Warganet itu tak merasakan peran ayahnya meskipun tinggal seatap. Ia menilai ayahnya tidak dewasa sehingga membuatnya tidak bermimpi untuk berumah tangga. (kompas.id)

Fenomena fatherless merupakan kondisi yang disebabkan berbagai faktor seperti perceraian atau perpisahan orang tua, Ayah yang kerja di luar kota atau negeri, Ayah yang mengalami perekonomian menurun, Ayah yang secara fisik ada tetapi tidak ada figur seorang ayah dalam kehidupan anak.

Kondisi fatherless akan memengaruhi perkembangan anak, berbagai aspek emosional, psikologis, sosial dan akademis. Anak-anak yang tumbuh tanpa figur ayah kerap menyimpan luka yang tidak terlihat, rasa tidak aman, kepercayaan diri yang rapuh, dan sulit beradaptasi dengan lingkungan sosial. Berdampak negatif pada prestasi belajar bagi anak laki-laki yang merasa kehilangan sosok panutan dalam memahami arti kedewasaan dan tanggung jawab. Bagi anak perempuan kehilangan pelindung dalam hidup, renta akan kecemasan dan depresi.

Kapitalisme telah menciptakan kesenjangan dan merampas fitrah seorang Ayah sebagai pelindung, memiliki peran  penting dalam membangun rasa percaya diri, kini justru menjadi sosok asing di rumah sendiri, bukan panutan, anak tumbuh dengan gawai, ini semua dibungkus dengan rapi dengan narasi kemandirian dalam keluarga. Di tengah sistem yang menyanjung kebebasan, peran ayah sekadar pencari nafkah yang diukur dari besarnya gaji, hingga kehilangan perannya sebagai pemimpin dan pelindung keluarga.

Berbeda dalam pandangan Islam ayah bukan sekadar pencari nafkah, tapi juga sebagai pendidik, pelindung dan teladan bagi anak-anaknya, tugas seorang ayah bukan hanya memberi makan, tetapi memberi  arah hidup menanamkan nilai tauhid, membangun iman dan membentuk karakter yang kuat agar anak menjadi generasi yang beriman dan berakhlak.

Peran ibu memegang amanah mengasuh, menyusui dan menumbuhkan kasih sayang dalam rumah. Dalam Islam tidak ada kesenjangan yang ada keseimbangan saling menguatkan. 

Dalam Sistem Islam tidak ada anak yang dibiarkan tumbuh tanpa figur, menjamin setiap anak memiliki sosok ayah  yang mendidik, menjadi imam dalam rumah tangganya. Ketika Islam diterapkan secara kaffah, negara, masyarakat, dan keluarga berjalan dalam ideologis yang sama menegakkan tanggung jawab, menumbuhkan kasih dan menjaga generasi.

Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update