oleh: Suryani
detik.com – jakarta, fenomena baru uncul di dunia kerja, di sebut dengan istilah “job hugging”. Kalau dulu banyak orang sering pindah-pindah kerja atau job hopping, kini justru banyak pekerja memeluk pekerjaannya yang ada saat ini. Fenomena ini makin marak di tengah situasi pasar kerja yang penuh ketidakpastian. Para pekerja merasa lebih aman bertahan di tempat lama dari pada harus ambil risiko pindah kerja.
Tidak hanya dari sisi pekerja saja tetapi tren ini juga di terapkan oleh perusahaan untuk memeluk karyawannya. Akibatnya banyak perusahaan tidak ingin kekurangan pekerja dan tidak ingin merekrut pekerja baru sehingga menimbulkan krisis dalam dunia kerja.
Apa itu job hugging?
Job hugging merupakan istilah yang menggambarkan tren di dunia kerja di mana karyawan cenderung bertahan (berpegangan teguh) pada pekerjaan atau jabatan mereka saat ini.
Konsultan korn ferry berpendapat bahwa banyak karyawan yang kini lebih memilih menahan diri daripada mengambil risiko pindah, fenomena yang dihadapi gen milenial dan Z ini berpegangan ada pekerjaan sebab khawatir sulit mendapatkan pekerjaan baru.
Meskipun job hugging terlihat aman-aman saja tetapi bisa berakibat pada sisi negatif seperti pekerja yang terlalu lama bertahan berpotensi kehilangan keinginan kenaikan gaji karena sudah merasa di zona nyaman, selain itu terlalu nyaman bisa membuat pekerja kurang berkembang, pada akhirnya pekerja tidak kompetitif ketika pasar tenaga kerja kembali memanas, dan pekerja memaksakan diri bertahan meski sudah tidak nyaman.
Pendorong tren job hugging:
Sistem kapitalisme berfokus pada akumulasi modal dan memaksimalisasi keuntungan hal ini seringkali mengakibatkan beberapa hal yaitu pertama, ketidakpastian ekonomi akibatnya terjadi ketidakstabilan pasar kerja, PHK massal, atau kesulitan mencari pekerjaan baru yang lebih baik. Kedua, pengaruh sistem kapitalisme terhadap tren job hugging sangatlah signifikan karena sistem ini secara fundamental menciptakan kondisi yang mendorong perilaku tersebut respon bertahan diri terhadap ketidakpastian dan kerentanan dala pasar kerja yang saat ini bersifat kapitalis. Ketiga, kontrak kerja jangka pendek, sistem kapitalisme cenderung mendorong jenis pekerjaan yang tidak menawarkan keamanan jangka panjang ini dilakukan demi efesiensi biaya dan kemudahan sewaktu-waktu membuang tenaga kerja.
Pengaruh job hugging: karena pasar tidak menjanjikan peluang yang jauh lebih baik atau bisa saja lebih buruk dan takut tidak menemukan pekerjaan sama sekali, pekerja memilih jalan aman dengan tetap tinggal. Mereka tidak berani mengambil loncatan karir demi pertumbuhan, melainkan memilih stabilitas meskipun harus mengorbankan pengembangan diri.
Penerapan sistem islam:
Menghilangkan sumber eksploitasi dan ketidakpastian, dengan meniadakan bunga, transaksi ekonomi di dorong berbasis pada sektor rill dan bagi hasil. Ini menjadikan sistem lebih tahan terhadap gelombang ekonomi tidak stabil dan krisis keuangan yang merupakan penyebab utama PHK massal dan ketidaknyamanan kerja
Islam tidak membenarkan spekulasi berlebihan, prinsip ini menuntut adanya kejelasan, transparansi, dan keadilan dalam setiap kontrak, termasuk kontrak kerja dan pengusaha dari risiko yang tidak perlu, sehingga mengurangi ketakutan pekerja terhadap kontrak kerja yang rentan.
Namun yang menjadi pertanyaan saat ini, apakah penerapan sistem islam sudah di coba, sistem saat ini dibawah kapitalisme yang merupakan akar dari permasalahan yang ada termasuk pengaruhnya terhadap fenomena job hugging. Jadi apapun bentuk penyelesaiannya itu hanya bersifat sementara jika akar masalahnya tidak diganti.
Wallahu’alam.

No comments:
Post a Comment