Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Insiden Kepala Sekolah dan Murid Soal Merokok di Sekolah, Cermin Krisis Moral dan Pendidikan

Tuesday, October 28, 2025 | Tuesday, October 28, 2025 WIB Last Updated 2025-10-28T10:57:04Z

 


Oleh : Nur Chusnul Ramadhan (Relawan Opini)


Polemik Kepala SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, Dini Fitri, diduga menampar siswa yang merokok di lingkungan sekolah telah diselesaikan secara damai. Orang tua siswa pun mencabut laporan polisi terhadap Dini.Insiden penamparan ini bermula ketika siswa bernama Indra ketahuan merokok oleh Dini di belakang sekolah. Dini pun menegur tapi Indra berbohong jika dirinya merokok.


Foto seorang siswa SMA di Makassar berinisial AS, yang dengan santainya merokok dan mengangkat kaki di samping gurunya, Ambo, menyebar cepat di jagat maya. Insiden ini bukan sekadar cerita tentang kenakalan remaja, melainkan sebuah dilema besar yang dihadapi para pendidik di era modern. 


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 15 juta remaja berusia 13--15 tahun di seluruh dunia menggunakan rokok elektrik atau vape. Dalam laporan terbarunya, WHO menyebut remaja memiliki kemungkinan sembilan kali lebih besar untuk menggunakan vape dibandingkan orang dewasa.


Betapa rumitnya posisi pendidik saat ini. Akar masalah adanya ruang abu-abu dalam penerapan disiplin siswa dan tergerusnya wibawa guru. Tatkala guru hendak menegakan disiplin pada anak didik tak jarang sikap tersebut disalah artikan sebagai bentuk kekerasan fisik yang berujung dipolisikannya guru oleh orang tua murid yang tak terima didikan sang guru terhadap anaknya. Hal ini menjadi dilematis bagi para tenaga pendidik. Disatu sisi ingin mendisiplinkan dan membentuk karakter anak didik namun di lain sisi menjadi ancaman bagi guru itu sendiri.


Fenomena ini menunjukkan bagaimana siswa merasa punya kebebasan untuk bertindak di luar batas etika, sementara guru merasa tak berdaya. Ketika guru ingin melakukan pendisiplinan bagi siswanya, sering kali guru diadukan ke polisi bahkan mengancam posisinya.


*Sekularisasi Pendidikan dan Krisis Nilai*


Dahulu sosok guru menjadi sosok yang dipercaya dan di diteladani perbuatannya. Semboyan guru "digugu dan ditiru" saat ini hanya sekadar semboyan kosong tak bermakna, murid semakin berani berbuat amoral dihadapan guru bertindak dan bersikap semena-mena.


Sistem liberal dan negara yang abai melahirkan generasi yang tidak taat aturan dan krisis moral. Merokok menjadi alasan ungkapan kedewasaan, jati diri dan kebanggaan agar dibilang keren. Di sisi lain rokok mudah dijangkau remaja, ini bukti lemahnya negara dalam pengawasan. Negara abai dalam membentuk karakter anak didik dengan membiarkan bersikap serba bebas serba boleh mempertontonkan perilaku buruk tanpa adanya sanksi dan efek jera. Pendidikan agama dipangkas waktunya menjadi sangat minim. 


Dampak dari berubahnya arah sistem pendidikan yang bergonta ganti kurikulum anak didik jauh dari bimbingan agama dan karakter yang terbentuk tidak mencerminkan generasi yang soleh dan berbudi pekerti luhur. Saat ini anak didik hanya ditekankan unggul dalam akademik namun kosong jiwanya dari kepribadian yang islami. Pola pikir dan pola sikap sekulerisme tengah meracuni generasi saat ini. Maka sangat wajar apabila karakter generasinya hancur tanpa arah. Jauh dari nilai-nilai ruhiyah.


Krisis pendidikan diperparah dengan tontonan yang kini menjadi tuntunan bagi remaja khususnya Gen Z. Era digitalisasi menjadikan remaja lekat dengan ponsel pintarnya banyak menyerap informasi melalui media sosial yang bebas tanpa adanya tuntunan dari guru maupun orangtua.


Segala bentuk kekerasan tidak dibenarkan. Maka butuh pendidikan yang menjadikan remaja paham siapa dirinya dan arah hidupnya. Dengan begitu baik guru sebagai tenaga pendidik paham akan tugas mulianya mendidik. Adapun remaja sebagai generasi yang akan melanjutkan estafet peradaban memiliki karakter yang khas yakni kepribadian Islam.


Dalam sistem pendidikan saat ini tidak ada perlindungan yang jelas bagi guru, guru berada dalam tekanan yang luar biasa. Mengingatkan seseorang yang bersalah adalah salah satu bagian dari amar makruf nahi mungkar, tapi tidak melalui kekerasan. Upaya tabayun dan pendekatan untuk mengetahui latar belakang seseorang melakukan perbuatan.


Sistem pendidikan sekuler yang diterapkan saat ini memberikan ruang kebebasan, terbukti telah gagal mencetak peserta didik yang bertakwa dan berakhlak mulia. Perlu menanamkan kembali nilai-nilai fundamental sopan santun dan rasa hormat kepada guru.


*Pendidikan Berbasis Islam*


Dalam Islam guru adalah pilar peradaban, posisinya dihormati dan dimuliakan karena tugasnya membentuk kepribadian muridnya. Guru bukan hanya gudang ilmu namun pendidik yang memberikan suri teladan bagi muridnya.


Dalam Islam hukum merokok memang mubah, tapi di sisi lain tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain. Merokok bisa membahayakan kesehatan bagi perokok aktif maupun pasif. Selain itu juga menjadikan hidup boros. 


Pada akhirnya mendidik generasi bukan hanya menjadi tanggung jawab guru disekolah namun ada peran orangtua yang menanamkan nilai akidah dan akhlak serta negara sebagai penyokong untuk memperkuat karakter pelajar dengan menyusun kurikulum berbasis akidah Islam. Hal ini  sejalan dengan tujuan penciptaan manusia untuk beribadah kepada Allah sebagaimana firman Allah Taala dalam QS.Az-zariyat : 56 yang artinya " Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan beribadah kepadaku ". 


Sistem pendidikan Islam mengajarkan bagaimana pelajar mempunyai pola pikir dan pola sikap yang sesuai Islam. Melahirkan generasi yang mempunyai kesadaran bahwa tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah dan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Bahwa remaja muslim harus berprinsip dan bangkit menjadi generasi yang beriman bukan generasi yang merusak. Wallahu'alam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update