Beberapa waktu lalu, dunia kembali dibuat geram oleh tindakan Israel yang mencegat kapal-kapal Global Sumud Flotilla yaitu kapal yang membawa bantuan obat, makanan, dan harapan bagi warga Gaza yang terus menerus diblokade.
Ironisnya, datang itu bukan tentara, melainkan relawan kemanusiaan dari berbagai negara, namun mereka tetap dianggap sebagai ancaman oleh penjajah israel yang tak pernah merasa bersalah.
Masyarakat dunia pun tidak tinggal diam, masyarakat terus bersuara. Dari London, Paris, Roma, hingga Brussel, aksi protes pecah di berbagai belahan dunia. Di dunia Muslim, termasuk di Maroko dan Bandung, generasi muda turun melakukan aksi ke jalan. Mereka menolak pencegatan kapal kemanusiaan dan menyerukan kebebasan bagi Palestina.
Melihat hal itu, tentu ada rasa bangga tersendiri. Gen Z hari ini ternyata tidak apatis. Mereka peduli, bersuara, dan berani. Namun di sisi lain, dunia kembali mendorong narasi lama yaitu Two State Solution, atau solusi dua negara.
Kedengarannya seperti jalan damai, namun faktanya tidak pernah menjadi solusi tuntas untuk palestina.
Sudah lebih dari 30 tahun ide ini dipromosikan, tapi apa hasilnya? Palestina tetap terjajah. Blokade terus berlanjut hingga detik ini. Bahkan, wilayah Palestina semakin mengecil dari waktu ke waktu. Kalau begitu, untuk siapa sebenarnya solusi ini dibuat?
Kita sebeagai generasi muda perlu sadar, narasi Two State Solution bukanlah tentang keadilan, tapi tentang kompromi. Kompromi antara penjajah dan yang dijajah. Antara kebenaran dan kebatilan. Dan dalam sejarah, tidak pernah ada keadilan yang lahir dari kompromi seperti itu.
Kepedulian generasi muda hari ini harus naik level dari sekadar empati, menjadi kesadaran politik. Kenapa? Karena persoalan Palestina bukan cuma isu kemanusiaan, tapi isu penjajahan. Dan penjajahan tidak bisa diakhiri dengan diplomasi, tapi dengan kekuatan.
Karena itu, penting bagi generasi muda Muslim untuk menolak narasi Two State Solution ini. Dunia memang butuh perdamaian, tapi perdamaian yang lahir dari keadilan bukan dari kesepakatan yang malah menggadaikan tanah suci umat Islam.
Palestina tidak butuh dua negara. Palestina butuh satu umat, satu kepemimpinan, satu bendera yang kembali dikibarkan di Al-Quds.
Dan itulah tugas besar generasi ini yang menjadi bagian dari kebangkitan umat yang akan menegakkan kembali keadilan hakiki di bawah hukum Allah SWT.
Wallahu a'lam
.png)
No comments:
Post a Comment