Oleh: Amrillah Silviana, S.E.
(Aktivis Muslimah)
Tak kurang dari 295 anak di bawah umur ditangkap polisi dan dijadikan tersangka buntut demo besar pada akhir Agustus hingga awal September lalu. menurut Kabareskrim Mereka ditetapkan sebagai tersangka atas tindakan penghasutan untuk membuat kerusuhan, menyebarkan dokumentasi kerusuhan lewat sosial media dengan maksud memprovokasi, menghasut massa melakukan pembakaran, membuat, menyimpan dan menggunakan bom molotov saat kerusuhan serta tindakan penjarahan. Komnas HAM dan KPAI menyorot soal perlakuan aparat kepada ratusan anak tersebut. Mereka menilai ada proses yang tidak memenuhi standar perlakuan pada anak saat interogasi yaitu adanya perlakuan tidak manusiawi hingga pengancaman akan dikeluarkan dari sekolah. KPAI meminta agar proses penyidikan dilakukan dengan transparan.
Terlepas dari tuduhan-tuduhan terhadap mereka, tak dimungkiri bahwa gen-z kini mulai melek sosial dan politik. Mereka yang sering dianggap sebagai generasi instan dan memiliki daya juang lemah ternyata mampu tergugah karena melihat carut marut politik para penguasa yang menekan keadilan kepada rakyat. Namun sayang kesadaran politik ini dianggap sebagai bentuk anarkisme anak muda. Alih-alih memperhatikan apa yang dituntut anak-anak muda ini, yang terjadi seolah suara anak muda harus dibungkam dengan berbagai label negatif yang disematkan kepada mereka yang bersuara kritis kepada penguasa.
Jargon demokrasi yang mengatakan kedaulatan suara rakyat sepertinya hanyalah pepesan kosong. Suara rakyat tidak pernah diperhatikan dan didengar, hanya bisa dipukul dan dibungkam apabila tidak sejalan dengan kepentingan para penguasa. Begitulah rupanya yang terjadi hari ini. Ketika rakyat menjerit menyuarakan ketidakadilan yang mereka rasakan akibat perundang-undangan ataupun perlakuan para penguasa, mereka menulikan telinga dan tetap duduk nyaman di kursinya. Lupa bahwa mereka menjabat untuk menunaikan amanat bukan menjadi konglomerat. Sayangnya memang begitulah watak pemerintahan demokrasi karena menjalankan ekonomi kapitalisme. Kepentingan yang bercuan itulah yang akan diperhatikan. Tindakan menggoyang kekuasaan akan ditumpas dan dilibas.
Presiden pertama Indonesia, Soekarno, pernah mengatakan, ”Berikan aku sepuluh orang pemuda maka akan aku guncang dunia”, menunjukkan betapa besar peran dan pengaruh pemuda terhadap perubahan. Potensi pemuda yang besar wajib dikawal dengan benar. Agar perubahan hakiki lah yang mereka suarakan dan perjuangkan. Yaitu perubahan sistem menuju sistem dari ilahi, bukan sekedar perubahan orang yang menduduki kursi.
Dalam Islam mengoreksi penguasa yang lalai adalah sebuah keharusan. Apalagi jika kelalaian itu menimbulkan banyak ketidakadilan. Yakni kewajiban amar ma’ruf nahy munkar kepada penguasa. Rasulullah saw bersabda, “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” Maka pada praktiknya di masa Khulafaur Rasyidin memimpin, aktivitas menyampaikan kebenaran di hadapan para penguasa adalah hal yang lumrah bukan sesuatu yang dihalangi atau dikriminalisasikan. Bagi seorang pemimpin yang paham tentang tanggung jawab besarnya maka ia pasti akan merasa senang apabila tindakannya yang lalai justru diingatkan dan diluruskan.
Hanya saja di sebuah pemerintahan demokrasi yang tegak berdasarkan asas sekulerisme tidak bisa mencetak generasi muda bertakwa yang mengoreksi penguasa karena dorongan aqidah Islam dan dalam koridor yang dibenarkan oleh syara’ bukan dorongan semangat saja apalagi dibarengi dengan anarkisme. Sangat berbeda dengan di dalam sistem pemerintahan Khilafah. Khilafah mampu mencetak generasi rabbani yang melakukan koreksi karena ketakwaan diri. Hal ini karena di dalam Khilafah pendidikan dari dasar hingga pendidikan atas diselenggarakan berdasarkan kurikulum berbasis aqidah Islam. Maka generasi telah ditanamkan ketakwaan mulai dini. Kemudian penerapan islam tidak hanya di sekolah saja namun juga dalam semua lini kehidupan sehingga kepribadian islam generasi benar-benar terwujud secara integral. Mereka akan menjadi penjaga sistem juga penjaga para penguasa dari kesilapan sebagai seorang manusia dalam menerapkan hukum-hukum Allah swt. Mereka mencintai para pemimpinnya dan para pemimpin pun mencintai mereka dalam bingkai ketakwaan. Wallahu'alam bis shawab.

No comments:
Post a Comment