Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Darurat Kekerasan, Islam Jadi Solusi Pilihan

Wednesday, October 29, 2025 | Wednesday, October 29, 2025 WIB Last Updated 2025-10-28T22:15:12Z

 


Oleh: Sartinah

(Pegiat Literasi)


Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) seolah tidak ada habisnya. Satu KDRT selesai, muncul kasus serupa di tempat yang berbeda. Nelangsanya, banyak kasus KDRT yang berujung kematian. Orang-orang terdekat yang harusnya saling menjaga dan menyayangi, justru paling banyak menjadi pelaku.


Contohnya adalah penganiayaan dan pembunuhan seorang wanita bernama Ponimah (42) yang berasal dari wilayah Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Korban P dianiaya sebelum dibakar oleh suaminya sendiri yang berinisial FA (54) dengan maksud untuk menghilangkan jejak. Kini, pelaku dijerat dengan Pasal 340 tentang pembunuhan berencana dan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan. (Beritasatu.com, 16-10-2025)


Kasus kekerasan juga terjadi di Pacitan, Jawa Timur. Seorang remaja berumur 16 tahun tega membacok nenek angkatnya hingga mengalami luka serius. Bahkan, di Cilincing, Jakarta Utara, seorang remaja berumur 16 tahun diduga mencabuli dan membunuh seorang anak perempuan yang masih berumur 11 tahun. Kasus-kasus kekerasan makin marak di negeri ini yang dilakukan oleh anak remaja hingga orang dewasa. Lantas, apa yang menyebabkan maraknya kasus kekerasan di negeri ini?


Penyebab Maraknya Kekerasan


Maraknya kasus kekerasan dalam rumah tangga sesungguhnya menunjukkan rapuhnya ketahanan dalam sebuah keluarga. Ketahanan keluarga yang rapuh mengakibatkan hilangnya fungsi perlindungan dalam keluarga. Hilangnya fungsi perlindungan mengakibatkan maraknya kekerasan sebagaimana yang terjadi saat ini.


Maraknya KDRT bisa disebabkan oleh banyak faktor. Dari sisi internal misalnya, banyak pasangan yang tidak memahami hakikat dan tujuan membangun pernikahan, minim kesiapan mental, rapuhnya landasan keimanan dalam menghadapi masalah, dll. Sementara itu, dari sisi eksternal bisa disebabkan oleh perilaku buruk yang menyimpang dari aturan agama seperti perselingkuhan, perjudian, miras, seks bebas, dan lainnya. 


Mirisnya lagi, adanya keretakan hubungan di dalam keluarga turut berdampak nyata bagi perilaku anak-anak. Lihat saja saat ini, perilaku remaja makin tidak terkendali yang memicu meningkatnya kasus kekerasan yang dilakukan remaja. Mereka tak segan membegal, mencuri, menganiaya, bahkan membunuh. Suatu hal yang seharusnya jauh dari perilaku remaja.


Buah Sekularisme


Maraknya kasus kekerasan tak bisa dilepaskan dari sistem kehidupan yang dibangun saat ini, yakni sekularisme. Sekularisme yang mematikan aturan agama telah berdampak buruk dalam berbagai sendi kehidupan. Saat nilai agama disingkirkan dari kehidupan, perilaku manusia tidak lagi menggunakan ukuran agama. Akibatnya, banyak pasangan yang kehilangan landasan iman dan tanggung jawab moral dalam keluarga.


Realitas ini makin diperparah dengan sistem pendidikan sekuler yang diterapkan saat ini. Pendidikan sekuler saat ini telah melahirkan kebebasan tanpa batas karena mengeliminasi norma-norma agama dalam kehidupan. Prinsip kebebasan ini pula yang telah melahirkan perilaku remaja yang jauh dari karakter ideal pemuda Islam.


Inilah yang terjadi saat materi menjadi standar kebahagiaan. Banyak orang menganggap ketika memiliki materi melimpah maka itulah bentuk kebahagiaan sejati. Namun, saat materi tidak ada, hal itu dianggap sebagai bentuk ketidakbahagiaan. Saat materi menjadi standar, maka keridaan Allah tak lagi menjadi pertimbangan. Akibatnya, saat keluarga diterpa tekanan hidup, bukan kesabaran yang diperlihatkan, tetapi kekerasan demi kekerasan yang selalu dipertontonkan. 


Kasus-kasus kekerasan yang tidak berujung juga disebabkan lemahnya perlindungan negara melalui undang-undang. Undang-undang yang dibuat untuk mencegah kekerasan ternyata tidak menyentuh akar permasalahan. Hal ini karena UU yang ada hanya menindak pelaku kekerasan, tetapi tidak mengubah sistem yang rusak. Artinya, selama sistem yang diterapkan masih sekuler liberal, sebanyak apa pun undang-undang yang diterapkan tidak akan mampu mencegah maraknya kekerasan.


Urgensi Sistem Islam dalam Mencegah Kekerasan


Kekerasan dalam rumah tangga dan perilaku buruk generasi muda hanya dapat dicegah dengan solusi Islam. Pasalnya, Islam adalah agama dan sistem hidup paripurna yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan manusia, termasuk mencegah terjadinya kekerasan. Salah satu yang sangat berperan dalam membentuk karakter masyarakat islami adalah dengan penerapan sistem pendidikan Islam. 


Sistem pendidikan dalam Islam ditujukan untuk membentuk individu-individu yang bertakwa dan berakhlak mulia. Satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa pendidikan Islam tidak berorientasi duniawi semata, tetapi juga berorientasi ukhrawi. Karena itu, seseorang yang dibekali pendidikan Islam dalam dirinya, maka takwanya akan terwujud dalam aktivitas kehidupan, baik keluarga, masyarakat, maupun negara.


Tak hanya itu, dalam membangun keluarga, syariat Islam akan mengokohkan bangunan keluarga dengan menjadikan ketaatan dan takwa sebagai fondasi serta akhirat sebagai tujuan. Selain itu, Islam telah membagi peran masing-masing anggota keluarga. Misalnya, peran suami dan istri telah diatur sangat sempurna dan saling melengkapi. Ayah sebagai qawwam (pemimpin dalam rumah tangga) bertugas mencari nafkah, melindungi, menjaga kehormatan, menjadi teladan, dll. 


Sementara itu, ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ibu lebih difokuskan pada pengasuhan dan pembentukan karakter anak-anak. Dengan ketakwaan yang melekat dan pemahaman akan perannya dalam keluarga, suami-istri akan melahirkan generasi saleh dan salihah. Rumah tangga pun akan terhindar dari berbagai kekerasan.


Di sisi lain, negara memiliki peran penting dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan seluruh rakyatnya, termasuk bagi tiap-tiap keluarga. Hal ini karena negara (Khilafah) adalah pengurus seluruh urusan rakyat, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, "Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang ia urus."


Untuk mewujudkan hal tersebut, negara menerapkan sistem ekonomi Islam yang menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar seluruh rakyat, mulai dari sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Dengan kebijakan tersebut, keadilan dan kesejahteraan akan terwujud dan tidak ada keluarga yang tertekan secara ekonomi.


Satu hal yang tak kalah penting, negara akan menegakkan sistem sanksi bagi para pelaku kejahatan dan pelanggaran terhadap hukum syariat. Selain sebagai pencegah dan penebus, sistem sanksi juga berfungsi untuk mendidik masyarakat agar mereka hidup sesuai syariat Islam. Demikianlah solusi yang ditawarkan Islam untuk mencegah maraknya kekerasan. 


Khatimah


Kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan remaja akan terus terjadi selama sistem kehidupan masih rusak dan merusak. Untuk membangun keluarga dan generasi yang bertakwa, satu-satunya cara adalah kembali pada Islam dan seluruh aturannya. Dengan penerapan aturan Islam dalam berbagai aspek, kasus-kasus tentang kekerasan dapat dicegah.

Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update