Oleh. Putri Ayu Wulandari ( Aktivis Muslimah Sultra)
Ibu seharusnya pelindung bagi anaknya. Kasih sayang seorang ibu disebut sebagai kasih sayang tak terhingga, bahkan kasih sayang tersebut kerap kali disalahartikan hingga membawakannya ke akhirat. Sebagaimana kasus terbaru yang mengejutkan publik di Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pasalnya, seorang ibu berinisial EN (34) ditemukan bunuh diri setelah diduga meracuni kedua buah hatinya yang berusia 9 tahun dan 11 bulan.
Dalam pemeriksaan, polisi mengungkapkan bahwa telah menemukan surat wasiat yang berisi ungkapan penderitaan dan kekesalan terhadap suami yang diduga terkait tekanan ekonomi dan utang keluarga. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan bahwa kasus ini merupakan terkategori filisida maternal. Seperti perspektif psikologi forensik yang menjelaskan bahwa kasus ini termasuk dalam kategori maternal filicide-suicide, yaitu ketika seorang ibu mengakhiri hidup anaknya sebelum kemudian mengakhiri hidupnya sendiri. Filisida adalah tindakan orang tua yang membunuh anaknya sendiri dalam keadaan sadar. Lantas, apa yang menyebabkan seorang ibu tega melakukan hal tersebut?
Akar Masalah
Sejatinya menjadi ibu adalah pekerjaan yang paling mulia sebab segala hal yang dilakukan untuk keluarga merupakan suatu ibadah yang bernilai pahala. Seorang ibu sejatinya menjadi garda terdepan bagi seorang anak untuk menitih masa depannya. Ia juga merupakan orang yang paling berperan dalam tumbuh kembangnya para generasi, bahkan dari hal-hal terkecil. Misalnya, saat anak terluka, maka ibu adalah orang pertama yang menyembuhkan lukanya. Begitu pula dalam keluarga, seorang ibu laksana pelita yang dengan cahayanya ia mampu menerangi seisi rumah dari kegelapan malam. Namun, ketika cahaya itu redup, maka redup pula cahaya rumah tersebut. Kebahagiaan tak lagi ada, canda tawa tak lagi terdengar, sebab dunia tak lagi menghargai usaha kecil yang dilakukan seorang ibu.
Bagaimana jika pekerjaan yang sangat mulai ini berubah menjadi derita yang berkepanjangan bagi pemeran utamanya? Seorang ibu sampai hilang akal dalam pengasuhan anak-anak mereka. Hal ini terjadi bukan tanpa alasan sebab ketika kita berada dalam negara dengan sistem yang rusak, maka bisa dipastikan kerusakan itu juga akan menjalar pada kehidupan orang-orang yang berada di dalamnya.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi perubahan sikap dari seseorang dalam menjalankan perannya sebagai orang tua, termasuk dalam kasus bunuh diri dan pembunuhan 2 orang anak ini.
Pertama, faktor psikologis, yang mana seorang ibu mengalami depresi dan stres berkepanjangan yang disebabkan perubahan hormon usai melahirkan, juga tekanan mental dalam menguras keluarga. Hal inilah yang memicu penurunan kemampuan berfikir secara rasional dan memunculkan pemikiran yang salah namun dianggap benar oleh pelaku.
Kedua, faktor sosial dan ekonomi. Masalah ekonomi dan utang juga dapat menjadi pemicu utama dalam perubahan sikap seseorang, sebab kebutuhan hidup yang semakin mahal seakan tidak mampu untuk dipenuhi, sehingga berhutang menjadi pilihan utama untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Inilah yang membuat beban ini semakin berat, sebab ini bukan hanya persoalan materi, tetapi juga soal harga diri ketika seorang ibu merasa gagal dalam menjalankan perannya.
Ketiga, adalah minimnya dukungan kesehatan mental oleh masyarakat maupun negara. Sosialisasi dalam dukungan kesehatan mental perlu dilakukan agar para ibu mendapatkan tempat yang tepat untuk mengutarakan keluh kesahnya dalam mengurus keluarga, sehingga dengan ini dapat mengurangi beban yang dirasakan oleh para ibu.
Keempat, lemahnya iman. Lemahnya keimanan seseorang menyebabkan seorang itu tidak bisa mengendalikan nafsunya, sehingga amarah dan kekecewaan membutakan segalanya. Sebab standar kebahagiaan seseorang hanyalah berupa materi saja.
Faktor di atas merupakan masalah cabang yang bersumber dari penerapan sistem kapitalisme demokrasi. Sistem ini telah membuat tatanan negara, masyarakat, serta keluarga porak poranda. Negara yang harusnya mengurusi urusan rakyat, dijauhkan perannya, bahkan dihilangkan sehingga menimbulkan berbagai masalah, mulai dari lapangan pekerjaan yang minim, bahan pokok yang mahal, biaya hidup kian mencekik, dan sebagainya. Alhasil, kondisi ini berdampak pada kemiskinan ekstrem yang menjadi pemicu terjadinya penderitaan rakyat.
Solusi Hakiki
Kondisi seperti ini tentu tidak akan kita dapati ketika negara menerapkan sistem yang sehat lagi benar. Sebuah sistem kehidupan yang mana kesejahteraan rakyat benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh alam. Tidak hanya umat manusia, tetapi hewan-hewan, bahkan tumbuhan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, sebab sistem ini berasal dari Allah SWT yang maha benar, lagi maha bijaksana. Sistem ini adalah sistem Islam.
Islam datang sebagai rahmat bagi seluruh alam. Islam dibawa oleh Muhammad saw. sebagai utusan Allah SWT untuk menyelamatkan umat manusia dari ketidakadilan. Hanya dengan menerapkan sistem Islamlah kesejahteraan masyarakat bisa dirasakan seluruh kalangan terlebih fakir miskin. Sebab Islam bukan hanya sekedar agama, lebih dari itu, Islam adalah aturan yang shahih sesuai dengan fitrah manusia.
Dalam Islam, kaum perempuan terutama seorang ibu tidak diwajibkan untuk bekerja dan mencari nafkah agar seorang ibu dapat menjalankan perannya dengan baik, yaitu sebagai ummu wa rabbatul bait. Islam menjamin nafkah seorang istri melalui suami dan walinya dengan cara menyediakan lapangan pekerjaan untuk para kepala rumah tangga. Namun, ketika suami dan walinya tidak mampu menafkahi diakibatkan hal-hal tertentu, semisal sakit parah, maka Islam menyerahkan urusan nafkah perempuan kepada negara.
Selain itu, Khilafah juga menyejahterakan rakyat dengan cara menerapkan sistem ekonomi Islam. Islam mengawasi jalannya pasar agar sesuai permintaan dan penawaran. Akan tetapi, ketika barang langka dan harga membumbung tinggi, negara akan menstabilkan harga kebutuhan bahan pokok dengan cara melakukan distribusi pangan sehingga stok pangan cukup untuk seluruh masyarakat.
Tidak sampai di situ, Khilafah juga menggratiskan biaya pendidikan juga kesehatan, serta menjaga keamanan lingkungan dari tindak kejahatan. Sehingga dengan ini akan mengurangi beban pikiran yang dirasakan oleh para ibu. Selain itu negara juga wajib menyediakan akses kesehatan mental seperti psikolog klinis guna untuk memberikan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental bagi seorang ibu agar kejadian maternal filicide-suicide dapat dicegah.
Dengan demikian seorang ibu dapat menjalankan perannya sebagaimana mestinya yakni menjaga keharmonisan rumah tangga,mendidik anak-anaknya dengan pemahaman Islam, tanpa terbebani dengan perasaan gelisah dan tekanan ekonomi yang dapat merusak keimanannya. Sebab peran ibu adalah sebagai Ummu wa rabbatul Bait yang mana masa depan anak dan rumah tangga sangat bergantung padanya. Oleh karena itu menjaga perasaan dan mental ibu adalah kewajiban para suami juga negara sebagai raa'in atas urusan umatNya. Wallahu alam Bisshawab.

No comments:
Post a Comment