Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Serangan Militer Israel Semakin Intensif, Jihad Fii Sabilillah Solusi Komprehensif

Tuesday, September 16, 2025 | Tuesday, September 16, 2025 WIB Last Updated 2025-09-16T09:31:08Z



 

Oleh Rosita

Pegiat Literasi


Lagi dan lagi, serangan brutal militer Israel  terhadap Palestina mengundang geram dunia. Bagaimana tidak, kali ini militer Israel telah melancarkan serangan besar-besaran di pinggiran kota bagian utara selama selama berminggu-minggu. Hal tersebut tidak lepas dari perintah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk merebut wilayah Gaza. Netanyahu berdalih bahwa Kota Gaza merupakan basis Hamas dan penguasaan wilayah tersebut diperlukan untuk mengalahkan kelompok militan Islamis Palestina yang serangannya pada Oktober 2023 memicu perang.


Serangan tersebut mengancam tergusurnya ratusan ribu warga Palestina yang selama hampir dua tahun berlindung di kota itu. Sebelum perang, sekitar satu juta orang atau hampir separuh populasi Gaza tinggal di kota tersebut, oleh sebab itu sebagian penduduk Gaza menolak untuk mengungsi lagi. Dalam serangan tersebut Pejabat militer Israel menyebut mereka telah menewaskan sejumlah pemimpin kunci Hamas serta ribuan pejuangnya, sehingga kelompok itu kini beroperasi sebagai pasukan gerilya. 


Netanyahu mendorong kesepakatan “all or nothing” yang membebaskan seluruh sandera sekaligus dan membuat Hamas menyerah. Akan tetapi dari pihak Hamas menyatakan siap membebaskan semua sandera jika Israel setuju mengakhiri perang dan menarik seluruh pasukannya dari Gaza. Namun, perundingan tersebut gagal di akhir Juli. Dan kedua belah pihak saling menuduh beritikad buruk.   (Republika.co.id, 06/09/2025)


Kebiadaban Zionis sudah terang benderang. Dengan tangan besinya militer Israel membabi buta menghabisi warga Gaza, tidak peduli apakan mereka itu dari pihak militer atau sipil. Bahkan fasilitas umum tidak lepas dari kebiadaban mereka. Meningkatnya kekejaman yang dilakukan militer Israel tidak lepas dari para pendukungnya, salah satunya yakni datang dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump,  ia meminta agar Zionis Israel untuk segera mengambil alih wilayah Gaza,  Karena wilayah tersebut akan dijadikan area pengembangan real estate di masa depan.


Kekejaman yang dilakukan Israel sudah tentu memicu kemarahan umat manusia di berbagai negara. Mereka berorasi dan melakukan apapun yang mereka bisa untuk membantu warga Palestina, dari mengumpulkan uang, logistik, tenaga medis, dan bantuan lainnya. Bahkan mereka berinisiatif membuat armada sipil internasional yang dinamakan dengan Global Samud Flotilla (GSF). Saat ini armada tersebut tengah berlayar di laut Mediterania, dengan membawa misi kemanusiaan sekaligus pesan politik.


Flotilla ini lebih dari 50 kapal dan ratusan relawan dari 44 negara bergabung, dengan latar belakang beragam. Mereka terdiri dari aktivis, jurnalis, tenaga medis, hingga politisi dan figur publik. Mereka berangkat dengan satu tujuan: yakni menembus blokade Gaza yang selama hampir dua dekade mengekang arus barang dan manusia. Global Samud menilai pemerintah dunia terlalu lambat menyelamatkan rakyat Gaza dari kelaparan, penyakit, dan krisis kemanusiaan.


Meski kecaman datang dari berbagai penjuru dunia, nasib Gaza masih sama. Tertindas dan terancam dihapuskan dari tanah Palestina. Penderitaan panjangmereka tidak lepas dari pengkhianatan penguasa Arab dan diamnya penguasa muslim untuk mengirim tentara militernya. Selama ini tidak ada satupun penguasa negeri  muslim yang secara serius membantu Palestina. Mereka hanya sebatas beretorika, memberikan bantuan berupa makanan, minuman, obat-obatan bahkan kain kafan, sekedar menunjukan simpati terhadap warga Gaza, namun tak ada aksi nyata untuk menghapuskan penjajahan yang dilakukan Israel dan sekutunya.


Pengkhianatan penguasa muslim dengan hanya jadi penonton atas nasib Gaza tak lepas dari sistem dunia yang hari ini diterapkan, yakni kapitalisme. Sistem ini bukan hanya penyebab tercerai berainya persatuan umat Islam dalam sekat nasionalisme, tapi juga melanggengkan sifat al Wahn (cinta dunia namun takut mati). Alih-alih mengusung seruan jihad dan mengirim pasukan melindungi Palestina, yang terjadi justru mempererat hubungan dengan penjajah pembantai. 


Kondisi tersebut harusnya semakin menyadarkan kaum muslim tentang bobroknya sistem kufur kapitalisme. Padahal, umat Islam adalah umat yang satu dan memiliki karakter khas. Cinta damai tapi tegas terhadap kufar musuh seperti halnya Zionis Israel dan AS. Islam juga berkarakter anti penjajahan, baik penjajahan di bidang politik, sosial, ekonomi, maupun budaya. Oleh karena itu menghilangkan penjajahan yang ada di Palestina tentunya harus dengan kekuatan yang sama dan mampu menghadapi kekuatan fisik dan militer. Negara penerap islamlah yang mampu mengirimkan militer dan senjata dalam skala besar untuk mengusir penjajah zionis terhadap Gaza.


Solusi untuk mengusir dan membela Palestina hanyalah jihad. Hal ini telah dicontohkan di masa Rasulullah saw tentang sikap tegas dan keras beliau kepada Yahudi Bani Qainuqa,  Bani Nadir dan Bani Quraizah. Begitu pula masa Khulafaur Rasyidin dan kekhilafahan Islam setelahnya. 


Pada masa Kekhalifahan Umar bin Khaththab ra. Palestina menjadi wilayah kekuasaan Islam melalui perjanjian Umariyah. Selanjutnya Palestina menjadi tanah milik kaum muslimin sebagai Kharajiyah hingga hari kiamat. Dan di masa Kekhalifahan Abbasiyah (di bawah pimpinan pasukan Shalahuddin al-Ayyubi) Palestina kembali difutuhat setelah sebelumnya dikuasai kaum salib selama perang ratusan tahun. Kedua aktivitas pemimpin ini memiliki pola yang sama, yakni jihad fi sabilillah dalam satu wadah persatuan dan dalam satu naungan kekhilafahan yaitu institusi yang menerapkan hukum syarak dalam mengurus dan melindungi darah kaum muslimin.


Wajibnya jihad atas kaum muslimin telah ditegaskan Allah Swt. dalam firmanNya, antara lain:


"...Siapa saja yang menyerang kalian, seranglah dia secara seimbang dengan seràngannya terhadap kalian.”  (TQS. al-Baqarah: 194)


"Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya)." (TQS An-Nisa: 84)


Wallahualam bishawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update