Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Revolusi Gen Z: Antara Ledakan Emosi dan Arah Perubahan Hakiki

Tuesday, September 16, 2025 | Tuesday, September 16, 2025 WIB Last Updated 2025-09-16T10:02:20Z

 


Oleh. Mila Ummu Muthiah

(Aktivis Muslimah)


Demonstrasi besar yang melanda Nepal pada September 2025, dikenal sebagai “Revolusi Gen Z”. Hal ini menjadi potret nyata bagaimana generasi muda mampu mengguncang kekuasaan. Pemicu utamanya adalah larangan pemerintah terhadap 26 platform media sosial serta maraknya korupsi yang sudah mendarah daging. Kebijakan represif ini memicu kemarahan rakyat, terutama kaum muda yang merasa ruang berekspresi dan masa depannya dirampas. (Kompas.com, 10-9-2025)



Aksi pun berujung pada kerusuhan besar. Gedung parlemen dibakar, hotel diserbu, hingga bentrokan berdarah yang menewaskan puluhan orang. Tekanan massa akhirnya memaksa Perdana Menteri Sharma Oli dan Presiden Ram Chandra Paudel mengundurkan diri.

Fenomena serupa sejatinya tidak asing bagi kita. Di Indonesia, generasi muda, khususnya Gen Z, juga turun ke jalan menolak berbagai kebijakan yang dinilai zalim, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok, mahalnya biaya pendidikan, hingga ulah wakil rakyat yang terkesan abai. Bahkan aksi mereka sering kali melibatkan pelajar SMP dan SMA, membuktikan bahwa keresahan sosial kini merata di semua lapisan. Namun, di balik keberanian itu tersimpan problem serius: pergerakan mereka kerap sporadis, tidak terarah, dan mudah terseret pada kerusuhan.


Potensi Besar Gen Z dan Fitrah Menolak Kezaliman


Psikolog menilai Gen Z memiliki mekanisme berbeda dalam menghadapi tekanan dibanding generasi sebelumnya. Jika generasi terdahulu cenderung “lari” atau “menghindar”, maka Gen Z lebih berani “face” atau menghadapi secara langsung, rasional, dan kreatif. Mereka memilih menyuarakan aspirasi lewat media sosial, poster, meme, dan narasi visual. Namun, tanpa arah yang jelas, energi ini rawan dimanfaatkan pihak tertentu atau berubah menjadi ledakan emosi destruktif.


Dalam perspektif Islam, keberanian Gen Z untuk menolak kezaliman adalah fitrah manusia, bagian dari naluri mempertahankan diri (baqa’). Islam tidak menolak potensi ini, tetapi justru menuntunnya agar tidak disalurkan dengan cara-cara keliru. Rasulullah ﷺ menegaskan pentingnya menasihati penguasa yang zalim, bahkan menyebut orang yang berani melakukannya sebagai pemimpin para syuhada. Artinya, keberanian berbicara kebenaran harus dibingkai dengan niat ibadah dan kesadaran politik Islam, bukan sekadar emosi atau sensasi viral di media sosial.


Sejarah peradaban Islam pun mencatat peran vital pemuda dalam membawa perubahan. Dari Ali bin Abi Thalib yang menerima Islam di usia 10 tahun, Mus’ab bin Umair yang menjadi duta dakwah di Madinah, hingga Usamah bin Zaid yang memimpin pasukan di usia 17 tahun. Semua menunjukkan bahwa kekuatan pemuda bukan sekadar jumlah, melainkan arah perjuangan yang jelas, yakni menegakkan kalimatullah di muka bumi.


Taghyir Hakiki: Jalan Perubahan untuk Gen Z


Pelajaran dari Nepal, Indonesia, dan berbagai belahan dunia adalah sama: protes tanpa arah hanya melahirkan kerusuhan sesaat, bukan solusi. Korupsi akan terus berulang, harga tetap mencekik, dan rezim berganti tanpa perubahan berarti jika sistem yang dipakai tetap sekuler kapitalisme. Oleh karena itu, Gen Z perlu mengarahkan potensi mereka pada taghyir hakiki—perubahan menyeluruh dari sistem buatan manusia menuju sistem Islam kafah.


Taghyir hakiki mencakup perubahan akidah, pola pikir, hingga sistem kehidupan. Islam menawarkan mekanisme muhasabah lil hukkam (mengoreksi penguasa) dengan hikmah dan nasihat yang tegas. Islam juga menempatkan pemuda sebagai garda terdepan kebangkitan, bukan pengikut arus globalisasi atau konsumen budaya Barat.


Ketika Gen Z berbicara soal perubahan, itu bukan sekadar menuntut mundurnya pejabat, membakar gedung parlemen, atau menurunkan harga. Perubahan sejati adalah mengembalikan kehidupan umat pada aturan Allah, mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera di bawah naungan syariat Islam. Inilah proyek besar yang seharusnya menjadi orientasi Gen Z, agar energi, keberanian, dan kecerdasan mereka tidak sia-sia, melainkan menjadi pilar kebangkitan umat.


Khatimah 


Revolusi Gen Z di Nepal menjadi alarm global bahwa generasi muda tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Mereka bisa menjatuhkan rezim, mengguncang kekuasaan, bahkan mengubah arah bangsa. Namun, tanpa visi Islam, perubahan hanya akan menjadi lingkaran setan yang berulang. Kini saatnya Gen Z mengambil inspirasi dari para pemuda sahabat Rasulullah ﷺ: menjadikan keberanian sebagai jalan dakwah, menjadikan idealisme sebagai energi perjuangan, dan menjadikan Islam kafah sebagai tujuan perubahan hakiki.

Wallahu a’lam bishawwab.[]

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update