Oleh: Suryani
Jakarta, Beritasatu.com – Serangan udara israel terhadap rumah sakit Nasser di Gaza pada Senin (25/8/2025) menewaskan sedikitnya 15 orang, termasuk empat jurnalis , menurut pejabat kesehatan Palestina. Salah satu korban adalah Hussam al-Masri, juru kamera sekaligus kontraktor reuters yang tewas dalam serangan Pertama. Fotografer Hatem Khaled, juga dari reuters mengalami luka dalam serangan kedua. Menurut saksi mata serangan kedua terjadi setelah tim penyelamat, jurnalis, dan warga mendatangi lokasi serangan pertama. Rekaman siaran langsung reuters dari rumah sakit yang dioperasikan oleh masri tiba-tiba terputus tepat saat serangan itu terjadi.
Kematian jurnalis ini menambah daftar panjang jumlah jurnalis yang tewas di Gaza sejak perang di mulai pada oktober 2023, yang mencapai 200 orang. Badan terkemuka yang mengedepankan kebebasan pers, Committee to Protect Journalists (CPJ), mencatat konflik di gaza adalah yang paling mematikan bagi jurnalis. CPJ mencatat bahwa selama dua tahun terakhir, angka kematian jurnalis di gaza melebihi total kematian jurnalis yang tercatat secara global dalam tiga tahun sebelumnya. Sejak perang di mulai israel telah melarang jurnalis internasional untuk masuk ke jalur gaza secara mandiri.
Dalih yang selalu di katakan Israel bahwa mereka tidak sengaja menargetkan warga sipil termasuk tenaga medis dan jurnalis hanyalah sebuah perkataan, mereka mengklaim bahwa serangan tersebut menargetkan hamas yang bersembunyi didalam fasiltas medis dan di antara warga sipil. Namun israel tidak mampu membuktikan dalih mereka sehingga menimbulkan kecaman internasional, tapi hanya sekedar kritik kita lagi dan lagi hanya dapat melihat pembantaian yang terjadi tampa dapat berbuat apa-apa. Dengan ini bisa di katakan bahwa gencatan senjata, kritik, dan apa yang dilakukan PBB hanya sebagai bentuk solusi sementara kenyataannya yang sampai saat ini Gaza, Palestina masih di bawah penjajahan. Seperti kita ketahui PBB merupakan organisasi yang pro terhadap amerika serikat, dan jelas sekali bahwa amerika membantu israel dalam merampas tanah palestina.
Mengapa israel menargetkan para jurnalis termasuk tenaga medis:
Penargetan jurnalis ini adalah bagian dari upaya yang disengaja israel untuk membatasi aliran informasi dari Gaza dan mencegah pelaporan terhadap tindakan militernya. Fakta sebagai penguat yaitu israel juga telah melarang sebagian besar jurnalis internasional untuk masuk ke Gaza dan dikutip dari beberapa sumber terpercaya israel bahkan membayar google untuk tidak memberitakan tentang Gaza, Palestina.
Israel menuduh bahwa hamas menggunakan fasiltas medis sebagai pusat komando dan kontrol, serta tempat untuk menyimpan senjata, dan menyembunyikan militan. Israel mengklaim telah menemukan jaringan terowongan yang mengarah ke fasilitas medis yang digunakan hamas untuk penggerakan militan, namun hal itu belum dapat dibuktikan oleh israel sendiri.
Penerapan solusi yang belum di coba:
Landasan agama: solidaritas dan keadilan
Dalam islam, membantu sesama terutama yang tertindas adalah kewajiban yang sangat di tekankan. Beberapa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis yang menjadi landasan yaitu:
Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Islam): umat islam di anggap sebagai satu tubuh. Jika salah satu bagian sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakitnya. Hadis nabi muhammad SAW menyatakan, “perumpamaan kaum mukmin dalam kecintaan dan kasih sayang mereka seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya. Ini adalah perumpamaan dasar moral untuk merasakan penderitaan rakyat palestina.
Melawan kezaliman: islam melarang segala bentuk penindasan. Al-Qur’an secara tegas memerintahkan umat untuk tidak menzalimi dan tidak membiarkan diri untuk tidak di zalimi. Oleh sebab itu, perlawanan terhadap penindasan di palestina dianggap sebagai bentuk pertahanan diri yang sah.
Namun itu akan dapat terjadi apabila islam bisa ditegakkan umat muslim bersatu memilih pemimpin dan membebaskan palestina dari penjajahan melalui jihad (perang di jalan allah).
Wallahu’alam.

No comments:
Post a Comment