Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mengapa Rakyat Sulit Hidup Sejahtera?

Thursday, September 18, 2025 | Thursday, September 18, 2025 WIB

 



Oleh : Sari Setiawati


Baru-baru ini ada sebuah kejadian yang sangat miris yang terjadi pada seorang ibu di Kabupaten Bandung yang melakukan bunuh diri, setelah sebelumnya, ia meracuni kedua anaknya agar bisa mati bersama. Tindakannya tersebut dilatarbelakangi oleh depresi akibat tekanan kemiskinan dan kondisi rumah tangga.


Beberapa waktu sebelumnya, akibat kemiskinan juga, seorang anak di Kabupaten Sukabumi viral karena meninggal akibat setelah tubuhnya dipenuhi ratusan cacing gelang. Sang ibu adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), dan ayahnya menderita TBC. Ironinya, mereka selalu kesulitan berobat karena tidak memiliki Kartu Keluarga (KK) dan BPJS Kesehatan. 


Angka bunuh diri di Indonesia semakin meningkat Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI (Bareskrim Polri) melaporkan, bahwa jumlah kasus bunuh diri terus meningkat setiap tahun. Kenaikannya mencapai 60% dalam lima tahun terakhir. Polri mencatat dari tahun 2022 jumlah bunuh diri adalah 887 jiwa. Angka ini terus naik dari tahun ke tahun, apalagi banyak kasus yang tidak dilaporkan (underreporting). 


Salah satu faktor yang menyebabkan sebagian orang melakukan jalan pintas/bunuh diri diantaranya, karena himpitan ekonomi/kemiskinan yang tidak sanggup dihadapinya, hingga putus asa, yang menyebabkan seorang ibu tega membunuh anaknya. 


Fakta ini sangat ironis terjadi di Indonesia, apalagi sebagai negeri dengan mayoritas penduduk muslim terbesar, padahal tindakan bunuh diri dalam Islam merupakan perbuatan yang haram. Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya yang artinya:

" Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri. Sesungguhnya Allâh Maha Penyayang kepada kalian" (TQS an-Nisa’ [4]: 29). 


Bahkan Rasulullah saw menegaskan: jangan melakukan bunuh diri dan juga mengingatkan orangtua agar jangan membunuh anak-anak mereka hanya karena takut anak-anak akan menyusahkan mereka atau menderita karena ketiadaan rezeki. 


Rasulullah saw. menginginkan umat ini tidak terjatuh dalam azab-Nya. Karena itu, Beliau ingin menyelamatkan kita dari perbuatan tercela itu. 

Baginda Nabi saw. diutus oleh Allah SWT dengan membawa ajaran Islam yang akan memberikan kehidupan yang tenteram dan sejahtera lahir maupun batin bagi umat manusia., karena Beliau membawa risalah Islam dari Allah SWT untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.


Hal tersebut tampak ketika,

Pertama: Beliau membangun masyarakat dan tatanan negara di Madinah, berlandas akidah Islam yang kokoh, yang terpancar keyakinan hidup yang kokoh akan rezeki, lahir sikap tawakal dan optimisme dalam hidup. 

Kedua: Rasulullah mengajari umatnya dengan kesabaran dalam menghadapi kesulitan hidup. 

Ketiga: Rasulullah saw. mengingatkan kaum lelaki untuk bekerja bersungguh-sungguh sebagai tulang punggung keluarga. Tidak malas, apalagi meminta-minta kepada orang lain. 

Keempat: Rasulullah saw. memberikan keteladanan dan tuntunan kepada umatnya untuk menjadi tetangga yang baik dengan cara saling memperhatikan dan saling memberi. Begitu juga ketika Rasulullah sebagai kepala negara, Beliau adalah panutan dalam mengurus umat. Beliau menetapkan bahwa rakyat tidak akan bisa hidup sejahtera dan tenteram tanpa peran negara. Pemimpin negara wajib mengatur urusan umat dan menjamin kehidupan mereka. Beliau tidak pernah menunda-nunda untuk memberikan pelayanan kepada umat. Rasulullah saw. juga mengingatkan para pejabat negara agar senantiasa membantu urusan rakyatnya dan tidak mengabaikan mereka.


Alhasil, keadaan rakyat saat ini sangat terpuruk dengan banyaknya kemiskinan, kesengsaraan hidup serta gelombang keputusasaan, karena lemahnya iman pada diri individu, dan tidak diterapkannya syariat Islam dalam kancah kehidupan. Masyarakat saat ini diatur dengan aturan dan asas kehidupan sekularisme- kapitalisme, yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga akidah Islam tidak lagi menjadi dasar kehidupan. 


Hal inilah yang menyebabkan manusia melupakan kekuasaan Allah SWT, meragukan rezeki-Nya, enggan bertawakal kepada-Nya, dan malah bersandar pada manusia yang lemah, menjadikan manusia begitu rapuh seperti sarang laba-laba. 

Selain itu, penerapan Sekularisme - Kapitalisme menciptakan kesenjangan sosial yang dalam, eksploitasi sesama manusia, mendorong perilaku individualisme, kompetisi dalam kehidupan, dan menghapuskan adab saling tolong-menolong.


Diperparah lagi dengan negara yang hanya berpihak kepada oligarki, dengan menyokong kekuasaan segelintir orang, dan rakyat hanya menjadi obyek pajak yang terus diburu hartanya, dan dibiarkan dengan prinsip survival of the fittest, bertarung sendiri jika ingin bertahan hidup. Adapun para pejabat dan wakil rakyat justru mendapatkan berbagai fasilitas kemewahan.


Inilah bukti kegagalan sekularisme- kapitalisme dalam mengurus rakyat, jauh dari kata sejahtera. Kaum muslimin di negeri ini butuh sistem hidup yang sahih (benar) yang dapat mengurus rakyat secara adil, yakni sistem hidup dari Sang Pencipta, Allah SWT, itulah sistem islam. Melalui penerapan syariah Islam secara kaffah seperti tuntunan Baginda Nabi saw dan dilanjutkan oleh sahabat Rasulullah ( Khulafaur Rasyidin) para khalifah berikutnya, telah terbukti menjadikan umat Islamdiberkahi oleh Allah SWT.



WalLahu a 'lam bhiswab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update