Penulis : Neni Maryani
Pendidik
Ketika militer Israel pada Sabtu, 6 September 2025, meminta seluruh warga Kota Gaza untuk mengungsi ke selatan dengan alasan operasi militer, dunia kembali menyaksikan babak baru dari tragedi kemanusiaan yang tak kunjung usai. Kota Gaza—wilayah perkotaan terbesar di Jalur Gaza—kini berada di ambang kehancuran total. Perintah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar pasukan militernya merebut kota itu, menjadi sinyal bahwa penderitaan rakyat Palestina masih jauh dari kata akhir.
Serangan demi serangan dilancarkan sejak berminggu-minggu lalu, khususnya di bagian utara kota. Warga sipil yang tidak bersalah—anak-anak, perempuan, hingga lansia—dipaksa mengungsi, kehilangan rumah, dan menghadapi kelaparan serta kekurangan obat-obatan. Laporan organisasi kemanusiaan internasional menunjukkan situasi yang mengarah pada bencana kelaparan (famine) akibat blokade dan penghancuran infrastruktur vital. Namun, suara dunia internasional, meskipun keras dalam retorika, masih lemah dalam aksi nyata.
Dukungan Global pada Zionis dan Diamnya Dunia
Kejahatan yang dilakukan rezim Zionis tidak berdiri sendiri. Dukungan politik, ekonomi, bahkan militer dari negara-negara besar, khususnya Amerika Serikat, membuat Israel semakin berani melanjutkan penindasan. Donald Trump bahkan kembali menggaungkan dukungan penuh agar Israel segera mengambil alih Gaza. Dukungan semacam ini memberi legitimasi internasional bagi Israel untuk melanjutkan kebijakan genosida dan pembersihan etnis.
Ironisnya, penguasa-penguasa Arab yang semestinya menjadi garda terdepan pembela Palestina justru lebih banyak diam atau bahkan melakukan normalisasi hubungan. Normalisasi ini bukan hanya melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia, tetapi juga memperkuat kedudukan Israel di panggung internasional. Sementara itu, negara-negara Barat lainnya hanya mengeluarkan kecaman formal tanpa langkah konkrit untuk menghentikan agresi. Diamnya dunia dan pengkhianatan sebagian penguasa Arab justru menjadi “lampu hijau” bagi Israel untuk melanjutkan proyek kejahatannya.
Upaya Kemanusiaan: Penting, tapi Belum Cukup
Meski demikian, di sisi lain kita juga menyaksikan gelombang solidaritas dari masyarakat dunia. Flotilla kemanusiaan “Gaza Sumud” misalnya, lahir dari inisiatif berbagai negara dan individu yang peduli untuk menyalurkan bantuan langsung ke Gaza. Mereka menggalang dana, mengirim obat-obatan, makanan, dan dukungan moral. Tindakan ini menunjukkan bahwa hati nurani manusia sejatinya masih hidup. Dunia masih memiliki sisi kemanusiaan yang menolak genosida.
Namun harus disadari, bantuan kemanusiaan semata tidak akan menghentikan tank, jet tempur, atau rudal yang diluncurkan Israel. Bantuan pangan tidak mampu mencegah serangan udara yang merobohkan rumah-rumah warga. Obat-obatan tidak cukup untuk menghalangi genosida yang sedang berlangsung. Dengan kata lain, solusi kemanusiaan sangat penting, tetapi tidak memadai untuk menghentikan akar masalah: penjajahan dan agresi Zionis.
Perspektif Islam: Keadilan dan Perlawanan
Islam sebagai agama yang sempurna (kaffah) memberikan kerangka solusi yang menyeluruh. Islam menempatkan keadilan (‘adl) sebagai prinsip utama. Allah memerintahkan umat-Nya untuk menegakkan keadilan dan melawan setiap bentuk penindasan (zulm). Apa yang terjadi di Gaza hari ini jelas merupakan bentuk penindasan paling nyata: pembunuhan warga sipil, pengusiran massal, penghancuran harta benda, dan penghalangan akses bantuan.
Dalam Islam, jihad fii sabilillah adalah jalan syar’i untuk membela kaum tertindas. Jihad bukanlah sekadar perlawanan fisik tanpa aturan, tetapi sebuah kewajiban kolektif (fardhu kifayah) yang diatur oleh hukum Allah. Tujuannya jelas: membebaskan kaum Muslimin dari penindasan, menjaga kehormatan mereka, dan mengembalikan hak-hak yang dirampas. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang melihat kemungkaran, hendaklah ia merubah dengan tangannya; jika tidak mampu, dengan lisannya; jika tidak mampu juga, dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).
Ketika sebuah umat menghadapi genosida, diam tanpa aksi bukanlah pilihan. Menggalang dana, menyuarakan protes, hingga mendorong negara-negara Muslim untuk bersatu memberikan bantuan militer, adalah bagian dari implementasi jihad sesuai kapasitas masing-masing.
Solusi Kaffah: Jalan Keluar yang Sejati
Pertama, penguatan solidaritas umat. Umat Islam di seluruh dunia harus bersatu menyuarakan tuntutan agar para penguasa Muslim mengambil sikap nyata, bukan hanya retorika. Tekanan massa bisa menjadi kekuatan politik untuk menggerakkan negara.
Kedua, bantuan militer yang sah. Negara-negara Muslim, terutama yang memiliki kekuatan militer besar, wajib mengerahkan kekuatan untuk menghentikan agresi Israel. Bukan dengan cara sporadis, melainkan melalui strategi kolektif yang terorganisir. Dalam syariah, melindungi jiwa dan kehormatan Muslim adalah kewajiban.
Ketiga, perlawanan politik internasional. Umat Islam harus mendorong pemutusan hubungan diplomatik dengan Israel, boikot produk yang mendukung rezim Zionis, serta mendorong pengadilan internasional menuntut para pelaku kejahatan perang.
Keempat, penegakan sistem Islam kaffah. Selama dunia Islam terpecah dalam negara-bangsa dengan kepentingan masing-masing, sulit membayangkan lahirnya kekuatan politik yang solid untuk membebaskan Palestina. Islam kaffah mengajarkan persatuan umat dalam satu kepemimpinan (khilafah) yang memiliki kewenangan penuh untuk melindungi umat di manapun mereka berada. Dengan kekuatan ini, jihad bisa dijalankan secara sah, terukur, dan terarah.
Tragedi Gaza adalah ujian bagi umat manusia, khususnya umat Islam. Apakah kita akan terus menjadi penonton, hanya mengirim doa dan bantuan seadanya, sementara saudara-saudara kita dibantai setiap hari? Ataukah kita akan mengambil langkah berani sesuai tuntunan Islam kaffah—menuntut para pemimpin Muslim untuk turun tangan dengan kekuatan nyata?
Islam tidak mengajarkan pasif di hadapan kezaliman. Islam mengajarkan perlawanan, solidaritas, dan jihad yang sah untuk membebaskan kaum tertindas. Dunia sudah terlalu lama membiarkan darah warga Gaza mengalir. Kini saatnya umat Islam bersatu, menegakkan syariah Allah secara kaffah di bawa naungan Khilafah, dan menunjukkan pada dunia bahwa Islam adalah solusi sejati bagi keadilan dan kemanusiaan.
Wallahu ‘alam bishawab.
No comments:
Post a Comment