Oleh. Irma Sari Rahayu
Kasus stunting masih menjadi salah satu momok selain berbagai masalah yang juga belum terurai di Bekasi. Berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah Kota dan Kabupaten Bekasi untuk mengatasi stunting.
Dalam peringatan Hari Kontrasepsi sedunia ke- 18, Pemerintah Kota Bekasi dan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) mensosialisasikan kontrasepsi di Puskesmas Sepanjang Jaya Rawalumbu, Kota Bekasi. Sosialisasi KB ini bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat akan penerapan KB sekaligus langkah mencegah stunting. (Bekasi satu.com, 12-9-2025)
Kepala DPPKB Kota Bekasi Dr. dr. Kusmanto Saidi, MARS menjelaskan, program Keluarga Berencana bukan hanya sekadar pengaturan kelahiran tapi juga mendukung realisasi penurunan stunting di Bekasi. Melalui sosialisasi KB, DPPKB Kota Bekasi juga mengedukasi peran orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Stunting Membuat Pening
Kasus stunting di Bekasi mulai menjadi perhatian serius sejak tahun 2024. Berdasarkan data dari e-PPGBM, jumlah kasus stunting di tahun 2024 tercatat sebanyak 3.948 anak di wilayah Kabupaten Bekasi. Berbagai upaya dilakukan mulai dari edukasi kepada calon ibu dan ibu muda, program intervensi gizi kepada ibu hamil, menyusui, dan balita serta kolaborasi dan data.
Edukasi pencegahan stunting kepada calon ibu mulai diberikan kepada remaja putri melalui edukasi kesehatan, pemberian tablet penambah darah, dan menyiapkan diri menjadi ibu. Program ini terlaksana melalui kerja sama antara Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan Diskominfosantik. Ibu muda juga menjadi sasaran edukasi cegah stunting melalui edukasi pemberian makanan bergizi, menjaga kesehatan dan sanitasi lingkungan rumah, dan pola asuh yang diselenggarakan oleh Posyandu atau kelompok PKK.
Upaya-upaya ini dilakukan untuk mendukung target menurunkan angka stunting menjadi di bawah 10 persen di tahun 2024 dan angka satu digit di tahun 2025. Penetapan target ini bukan tanpa alasan. Target penurunan angka stunting tersebut dibuat oleh Pemkab Bekasi berdasarkan penurunan angka stunting dari 23,2 persen menjadi 18,4 persen di tahun 2024. Untuk mengejar target angka stunting satu digit inilah penerapan KB menjadi langkah berikutnya yang dilakukan untuk menurunkan angka stunting.
Cegah Stunting dengan KB?
Pemerintah Daerah Bekasi menganalisa berbagai hal yang memicu masalah stunting di Bekasi, yaitu:
1.Urbanisasi
Bekasi, sebagai kota industri dan UMK terbesar di Indonesia menjadi magnet penarik bagi pendatang. Maraknya kaum urban yang memenuhi Bekasi memiliki tujuan yang sama yaitu mengadu nasib. Akibatnya, beberapa daerah yang dekat dengan pusat industri seperti Tambun Selatan dan Cibitung menjadi daerah padat penduduk dan rawan stunting.
Biasanya, daerah padat penduduk memiliki sanitasi lingkungan yang buruk dan tidak sehat. Akibatnya, kesehatan anak pun terganggu.
2.Rendahnya pemahaman ibu
Stunting disebabkan oleh buruknya gizi pada anak, mulai dari bayi hingga balita. Akibatnya tumbuh kembang anak menjadi terhambat. Salah satu faktornya adalah rendahnya pemahaman ibu akan makanan bergizi.
3. Faktor ekonomi
Pemicu utama masalah stunting adalah ekonomi. Selain rendahnya pemahaman akan gizi, ibu kerap tidak mampu untuk memberikan makanan bergizi kepada anak karena ketidakmampuan ekonomi untuk membelinya. Ibu akhirnya terpaksa memberikan makanan seadanya, dengan dalih yang penting anak kenyang.
Program KB lebih menitik beratkan kepada pengaturan kelahiran dan pengendalian jumlah penduduk. Kalaupun KB digadang-gadang mampu untuk mencegah stunting, namun belum menyentuh masalah utama, yaitu ekonomi.
Penetapan sistem ekonomi kapitalisme akan meniscayakan munculnya masyarakat berpenghasilan rendah sedangkan kebutuhan sehari-hari kian mencekik. Apalagi, Bekasi adalah kota kedua dengan biaya hidup termahal setelah Jakarta. Ibu sering kali menjadi dilema dalam mengatur keuangan keluarga. Sayangnya, terpaksa yang dikorbankan adalah konsumsi pangan. Maka tak heran jika angka stunting mencuat di Bekasi.
Pemenuhan Kebutuhan Pokok
Rasulullah saw. bersabda: Anak Adam tidak memiliki hak pada selain jenis ini: rumah yang ia tinggali, pakaian yang menutupi auratnya serta roti tawar dan air (HR at-Tirmidzi, al-Hakim, Abdu bin Humaid, adh-Dhiya’ al-Maqdisi dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Imân).
Hadis ini menunjukkan bahwa rumah, pakaian, makanan, dan air adalah kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh setiap orang. Jika tidak, maka akan menyebabkan dharar atau bahaya. Jika kebutuhan ini tidak mampu dipenuhi oleh individu, maka tugas pemimpin negara lah yang memenuhinya. Karena ia memiliki tanggung jawab untuk mengurusi rakyatnya.
Maka permasalahn stunting tidak akan selesai hanya dengan edukasi atau KB selama masalah utamanya belum terurai yaitu kesulitan ekonomi. Jika makanan bergizi, rumah yang layak dengan sanitasi yang baik dapat terpenuhi, niscaya kasus stunting dapat teratasi. Anak-anak dan ibu sehat, keluarga pun tenang.
Siapa saja di antara kalian yang bangun pagi dalam keadaan aman dalam hal diri dan keluarganya, sehat fisiknya dan ia mempunyai makanan harinya, maka seolah-olah ia mendapatkan dunia (HR at-Tirmidzi).
Wallahua’lam bishawab.

No comments:
Post a Comment