Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Arahkan Umat pada Perubahan Hakiki dengan Islam

Wednesday, September 24, 2025 | Wednesday, September 24, 2025 WIB Last Updated 2025-09-24T04:04:24Z

 


Oleh: Arsanti Rachmayanti (Aktivis Dakwah)


Pada 25 Agustus hingga awal September 2025, demonstrasi disertai kerusuhan terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Unjuk rasa ini awalnya dipicu oleh protes terhadap adanya tunjangan baru bagi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), yakni berupa tunjangan perumahan. Selain itu juga didorong oleh adanya kenaikan pajak bumi dan bangunan yang terjadi di beberapa wilayah, serta ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah dalam mengatasi kesenjangan ekonomi dan kenaikan biaya hidup.


Aksi demonstrais tersebut berlangsung di tiga titik. Menurut data yang disampaikan Kasi Humas Polres Metro Jakpus, Ipda Ruslan Basuki, Koalisi Nasional untuk Reforma Agraria akan berunjukrasa di depan Kementerian Kehutanan, di Silang Monas Gambir dan Aliansi Mahasiswa di Taman Proklamator Menteng. Aksi unjuk rasa yang berakhir ricuh yaitu aksi menuntut keadilan bagi pengemudi Ojol Affan Kurniawan yang tewas dilindas kendaraan taktis Brimob pada Kamis (28/8) sore saat aksi demo di Pejompongan. (Liputan6.Com/23/9/2025) 


 *Perubahan Semu* 


Memang demonstrasi di negara demokrasi seperti Indonesia bukanlah hal yang baru. Aksi tersebut sudah sangat lazim digunakan sebagai instrumen untuk mengomunikasikan sesuatu atau menyampaikan aspirasi. Di berbagai belahan dunia pun, demonstrasi seakan menjadi cara yang paling ampuh bagi masyarakat bawah yang terbungkam untuk menyuarakan aspirasi kepada penguasa. Khusus di Indonesia, semenjak demonstrasi besar-besaran yang digelar mahasiswa saat menggulingkan pemerintahan Orde Baru, semenjak itu pula demonstrasi selalu menjadi peristiwa rutin yang menghiasi halaman pemberitaan di Indonesia. Begitu pula kasus Arab spring tahun 2010 (Tunisia, Libya dan Mesir) dianggap ampuh bagi masyarakat untuk meruntuhkan sebuah rezim dan beralih ke rezim berikutnya yang dianggap perubahan rezim mampu mengarah pada perubahan.


Indonesia sendiri pernah punya pengalaman soal kondisi chaos pada 1998, terjadi demo besar-besaran hingga menumbangkan rezim yang dipandang korup dan diyakini sulit ditumbangkan. Sebagian meyakini bahwa 1998 ini menjadi pintu gerbang bagi bangsa ini untuk menyongsong masa depan yang jauh lebih baik di bawah bendera reformasi. Namun apa yang terjadi? Alih-alih membawa kepada perubahan yang didambakan, warisan masalah dari orde baru dan lama justru kian bertumpuk dan bertambah berat dari rezim ke rezim yang ada pada era reformasi. Liberalisasi ekonomi dan sosbud pun berjalan makin masif, hingga kondisi negara makin rusak di semua sektor dan di semua lini.


Pada era Reformasi justru lahir berbagai undang-undang liberal yang memberi karpet merah kepada pihak swasta dan asing, tapi pada saat yang sama justru menambah kehidupan rakyat makin berat. UU Cipta Kerja, misalnya, bukannya mampu menciptakan jutaan lapangan kerja sebagaimana yang telah dijanjikan, PHK justru terjadi di mana-mana. Perekonomian negara dan masyarakat pun makin terpuruk dari sebelumnya.


Betapa tidak, keberadaan UU Ciptaker ini justru melegalisasi perampokan berbagai sumber daya milik rakyat oleh para pemilik modal. Kapitalisasi layanan publik pun makin menjadi-jadi Begitu pun kasus-kasus perampasan ruang hidup dan perusakan lingkungan di berbagai wilayah nusantara kian marak atasnama pembangunan dan investasi. Semua ini dipicu oleh ambisi penguasa untuk mewujudkan proyek-proyek mercusuar bernama Proyek Strategis Nasional (PSN) yang sebagiannya malah mangkrak dan meninggalkan utang yang besar.


Tampak pula pada masa ini ada upaya terstruktur, sistematis dan masif untuk membangun dinasti kekuasaan. Sampai-sampai berbagai aturan diubah tanpa ada yang mampu melakukan perlawanan. Suara oposisi dibungkam bahkan dengan menggunakan undang-undang.


Sesungguhnya, mayoritas masyarakat sudah lama memimpikan perubahan. Bukannya kehidupan mereka membaik, malah kemiskinan makin meluas dan makin parah, moral generasi makin hancur, politik pun penuh dengan intrik dan tipu muslihat. Namun sayangnya perubahan yang ada pada benak mereka masih sebatas asal berubah. Cara berpikir mereka masih sangat pragmatis dan selalu fokus pada pergantian personal.


Meskipun rakyat sering dikecewakan, rakyat selalu saja melakukan kesalahan yang berulang. Dengan hanya menempuh jalur demokrasi yang hanya fokus pada pergantian orang. Padahal, jika dicermati lebih dalam, akar dari semua problem kehidupan yang mereka hadapi justru karena buruknya sistem sekuler demokrasi yang diterapkan.


 *Islam Satu-satunya Jalan Perubahan

Sejatinya, masyarakat hari ini sudah memiliki modal pertama untuk perubahan, yakni adanya kesadaran bahwa kondisi mereka dan negaranya sedang tidak baik-baik saja. Aksi-aksi massa dan tuntutan yang terus berulang menjadi bukti bahwa kesadaran itu telah ada. Hanya saja, sadar akan adanya masalah saja tentu tidak cukup untuk menggerakkan seseorang atau masyarakat untuk berubah. Diperlukan juga kesadaran tentang apa akar masalah bagi semua problem yang terjadi, ke mana arah perubahan atau kehidupan ideal yang layak dikejar, dan bagaimana peta jalan mewujudkan perubahan tersebut.


Alhasil menempuh jalur demokrasi untuk perubahan hakiki, justru bagai pungguk merindukan bulan. Bukan hanya tidak akan sampai pada kondisi ideal yang diinginkan, keterlibatan umat dalam perubahan ala demokrasi justru hanya akan melanggengkan keburukan.


Islam telah memberi tuntunan yang jelas dan komprehensif tentang perubahan, mulai arah, hingga jalannya. Satu-satunya arah perubahan yang harus menjadi tujuan adalah tegaknya sistem Islam (Khilafah) sebagai versus dari sistem demokrasi sekuler kapitalisme yang terbukti destruktif dan memunculkan kekacauan. Khilafah ini tegak di atas landasan akidah Islam dan berfungsi menegakkan hukum-hukum Allah yang diturunkan sebagai problem solving atas seluruh problem kehidupan.


Sejarah mencatat keberadaan Khilafah telah membawa umat Islam tampil sebagai umat yang mulia-sejahtera selama belasan abad. Sebaliknya ketiadaan Khilafah menjadi sebab keterpurukan dan kemunduran umat hingga sekarang. Hal ini merupakan bukti dari janji 

Allah sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an.


Allah Swt. berfirman, “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka menyebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf: 96).


Adapun jalan mewujudkan Khilafah adalah dengan membangun kesadaran ideologis di tengah umat untuk menggantikan cara berpikir pragmatis yang ada pada mereka. Caranya adalah dengan menggencarkan dakwah di tengah umat agar mereka paham bahwa jalan kemuliaan dan kebangkitan mereka hanya ada pada Islam. Yakni Islam yang diterapkan secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan, bukan jalan demokrasi yang penuh dengan tipuan dan keburukan.


Dakwah seperti ini tentu bukan perkara mudah dan ringan. Para penjaga sistem sekarang akan berusaha menjauhkan umat dari dakwah Islam kafah dan para penyerunya dengan menciptakan berbagai fitnah. Mereka tentu tidak akan rela membiarkan sistem yang telah lama menguntungkan mereka akan runtuh begitu saja. Mereka siap mengerahkan seluruh daya dan upaya agar kekuasaannya akan langgeng sepanjang masa.


Hanya saja mereka lupa bahwa sejarah akan ada saatnya berubah. Abad mereka akan segera lewat dan berganti dengan abad Khilafah. Terlebih kedatangan kembali Khilafah yang tegak di atas minhaj kenabian sudah Allah janjikan dan Rasulullah saw kabarkan. Yang pasti, kita tinggal memastikan bahwa kita ada di barisan jamaah Islam ideologis yang tidak kenal lelah bekerja untuk segera mewujudkannya. Wallahua’lam bishshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update