Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

AI dan Masa Depan Pendidikan: Islam Menjawab Tantangan

Saturday, September 13, 2025 | Saturday, September 13, 2025 WIB Last Updated 2025-09-13T13:10:53Z

 


Oleh. Mila Ummu Muthiah


Dilansir dari Kompas.com (1-9-2025), UNESCO dalam KTT Guru Dunia 2025 menegaskan, guru tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan (AI). Mereka bukan sekadar penyampai kurikulum, melainkan pembimbing moral, penanam nilai, sekaligus teladan sosial. Data UNESCO menunjukkan dunia masih kekurangan 44 juta guru hingga 2030. Celah ini diperparah dengan kehadiran AI yang menawarkan efisiensi, tetapi juga menimbulkan persoalan kesetaraan dan etika.


Seorang guru dari Chile, Militza Saavedra Montero, menyebut AI memang membantu menghemat waktu dan memunculkan kreativitas. Namun, ia menegaskan bahwa mendampingi siswa tetap tugas manusia. Guru bertanggung jawab membimbing anak agar mampu menggunakan teknologi secara kritis dan bijak. Artinya, secanggih apa pun algoritma, AI hanyalah alat bantu.


AI dalam Jerat Kapitalisme


Masalah muncul ketika AI ditempatkan dalam paradigma sekuler-kapitalis. Sistem ini tidak menjadikan teknologi sebagai sarana maslahat, melainkan komoditas yang dieksploitasi demi profit segelintir korporasi. Pendidikan, kesehatan, hingga kehidupan sosial dipandang sebagai pasar yang harus diefisienkan. Maka, AI diarahkan untuk menggantikan peran manusia, menekan biaya, dan memaksimalkan laba.


Dampaknya jelas, dehumanisasi. Guru direduksi menjadi “konten delivery system”, dokter diganti algoritma, interaksi manusia dipersempit menjadi data statistik. Kapitalisme tidak peduli pada nilai kemanusiaan; yang dihitung hanya neraca biaya. Guru yang semestinya dimuliakan sebagai pendidik peradaban justru diperlakukan sebagai beban anggaran. Tak heran, jutaan guru di negeri-negeri kapitalis, termasuk Indonesia, dibiarkan berstatus honorer dengan gaji minim.


Ketika AI hadir, logika kapitalisme makin kentara. Peran guru perlahan digeser aplikasi atau perangkat digital atas nama efisiensi. Padahal AI tidak mampu membentuk karakter, menginternalisasi nilai, atau membangun hubungan ruhiyah dengan peserta didik. Hasilnya adalah generasi yang miskin adab, dangkal pemikiran, dan semakin bergantung pada korporasi teknologi global.


AI dalam Paradigma Islam


Islam memandang teknologi, termasuk AI, hanya sebagai wasilah (alat bantu). Ia netral, bisa membawa maslahat atau mafsadat tergantung paradigma penerapannya. Dalam sistem sekuler, algoritma AI sarat bias ideologi Barat: liberalisme, individualisme, materialisme. Ia berpotensi menjadi medium penjajahan intelektual dan kultural, mengikis akidah serta moral generasi Muslim.


Islam menolak pandangan kapitalistik yang menjadikan guru sebagai beban biaya. Dalam Khilafah, guru ditempatkan pada posisi mulia sebagai murabbi dan mu’allim, pewaris tugas kenabian. Pendidikan tidak diarahkan untuk mencetak buruh “siap industri”, melainkan membentuk syakhsiyyah Islamiyah—manusia berkepribadian Islam yang berilmu dan berakhlak.


Karena itu, AI tidak akan pernah diposisikan sebagai pengganti guru. Ia boleh digunakan bila membantu mempercepat administrasi, mempermudah penelitian, atau memperluas akses ilmu. Namun, jika mengandung konten sekuler, menyingkirkan peran guru, atau memperlebar ketimpangan akses, penggunaannya wajib dibatasi bahkan dilarang.


Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad).

Hadis ini menegaskan, teknologi hanya boleh digunakan jika membawa maslahat dan tidak menimbulkan kerusakan.


Menjawab Tantangan


Hari ini, pemerintah di negeri-negeri kapitalis kerap menjual narasi modernisasi dan digitalisasi, padahal di lapangan akses pendidikan masih timpang. Di Indonesia, ketidakmerataan infrastruktur digital membuat daerah 3T tertinggal jauh. Alih-alih jadi solusi, AI justru berpotensi memperlebar jurang kaya-miskin, kota-desa. Inilah buah paradigma kapitalistik yang menilai guru sekadar angka dalam laporan anggaran.


Islam menawarkan jalan berbeda. Dalam Khilafah, pendidikan dijamin sebagai hak dasar setiap individu, bukan komoditas pasar. Negara wajib menyediakan guru yang layak, bergaji terhormat, dan memikul amanah mendidik generasi. AI hanya diletakkan sebagai sarana teknis, sementara inti pendidikan tetap berporos pada manusia: guru yang menanamkan akidah, akhlak, dan tsaqafah Islam.


Pertanyaannya sederhana: apakah generasi bisa dibentuk algoritma? Jawabnya tidak. AI bisa menghitung angka, mengolah data, atau menyusun pola, tetapi ia tidak memiliki ruh. Mendidik membutuhkan teladan, cinta, dan nilai yang hanya bisa ditanamkan oleh manusia. Kapitalisme gagal memahami ini karena orientasinya semata efisiensi dan profit. Islam, sebaliknya, menjadikan pendidikan sebagai ladang membangun peradaban.


Khatimah


AI hanyalah alat. Jika dipandu kapitalisme, ia menjadi mesin dehumanisasi yang merusak pendidikan. Jika ditempatkan dalam bingkai Islam, ia menjadi sarana yang mendukung peran guru, tanpa menyingkirkan martabatnya.

Khilafah akan menyeleksi penggunaan AI dengan hukum syarak, halal jika maslahat, haram bila mafsadat. Dengan cara inilah, pendidikan tetap berada di tangan guru sebagai pendidik sejati, bukan mesin tak bernyawa. Hanya dengan Islam, masa depan pendidikan bisa menjawab tantangan teknologi sekaligus menjaga martabat manusia. []

Wallahu a’lam bishawwab.[]

2 comments:

×
Berita Terbaru Update