Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sekolah Rakyat Benarkah Langkah Tepat

Wednesday, August 13, 2025 | Wednesday, August 13, 2025 WIB Last Updated 2025-08-13T06:32:30Z
Sekolah Rakyat Benarkah Langkah Tepat

Oleh : Anna Ummu Maryam 

Pegiat Literasi Peduli Negeri Dan Generasi 


Ratusan siswa dan guru sekolah rakyat resmi mengundurkan diri. Menteri Sosial Saifullah Yusuf memastikan program sekolah rakyat tetap berjalan. Diketahui, sebanyak 114 atau 1,4 persen dari keseluruhan 99.700 siswa resmi mengundurkan diri. Kemudian ada 143 guru sekolah rakyat yang memutuskan tidak mengajar di sekolah rakyat karena berbagai alasan.


Gus Ipul mengatakan guru yang mundur adalah yang telah lolos seleksi memilih mengundurkan diri sebelum menjalani penempatan. "Kami tidak memaksa. Itu pilihan, dan kami hormati. Tapi kami juga siapkan pengganti," ujarnya. ( Detik.com,  0/8/2025)


Menarik saat kita disuguhkan fenomena ratusan siswa dan guru pada sekolah yang diprogramkan ini ternyata banyak yang mengundurkan diri. Bukankah kita mengetahui bahwa rakyat ini kebanyakan adalah rakyat yang hidup miskin yang tentu hal ini merupakan angin segar ditengah himpitan ekonomi keluarga.


Begitu juga terasa amat aneh saat ratusan para guru yang lulus seleksi juga beramai-ramai juga ikut mengundurkan diri ditengah angka pengangguran yang kian meningkat dinegeri ini. Tentu menimbulkan pertanyaan pada kita, ada apa dan mengapa?. Bukankah banyak fasilitas dan biaya yang besar yang diperdengarkan sehingga menggiurkan sebagian besar ikut berpartisipasi.


Program ini dirancang tanpa tes akademik namun diganti dengan pemetaan bakat atau talent mapping sebagai dasar pembelajaran ini. Ditargetkan ada 159 titik sekolah rakyat yang beroperasi hingga akhir tahun 2025.


Usut punya usut ternyata ada beberapa kendala yang dialami siswa dan guru yang memilih mengundurkan diri. Diantaranya penyebab utamanya adalah lokasi penempatan yang jauh dari domisili mereka. Ketatnya aturan asrama apalagi bagi orang tua yang ingin datang untuk menjenguk dirasakan amat sulit. Alasan lainnya disebutkan juga karena tidak memenuhi panggilan dan menyatakan mundur.


Pendidikan Dalam Kapitalis


Dari fakta yang ada sangat menarik untuk kita bahas. Dimana ditengah keterbatasan dan banyaknya laporan sekolah - sekolah yang mengalami kerusakan dan bahkan hampir tidak layak disebut sekolah. Tiba - tiba muncul sekolah rakyat yang notabenenya adalah untuk mengatasi dan memperbaiki pendidikan yang dinilai kian memburuk. 


Bukan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang telah ada hingga selesai namun kita disuguhkan dengan problem baru didunia pendidikan. Begitu banyaknya masalah dalam dunia pendidikan dari yang banyak sekolah yang harus diperbaiki, gaji murah guru, sekolah yang tak punya murid, sekolah didaerah pelosok ada murid tak ada guru.


Dan banyak lagi dalam hal lainnya sehingga banyak PR yang harus diselesaikan bukan dengan menambah tugas baru. Namun demikianlah realitanya. Bahwa semua terkesan dipaksakan dan penuh sensasi. Apakah kebijakan ini sudah tepat atau harusnya fokus pada solusi pendidikan?.


Jangan heran mengapa kebijakan dengan mudah dapat berubah. Jangan heran masalah kian datang bertubi-tubi. Jangan heran kalau yang muncul bukan solusi tapi sensasi. Ya ini semua berawal dari penerapan sistem kapitalis yang telah ikut andil dalam menentukan sistem pendidikan.


Pendidikan bukan prioritas penuh pelayanan negara bagi rakyat tapi hanya pemuas sesaat ditengah kemelut krisis moral dan ilmu. Pendidikan dalam sistem ini tidak berbasis pada keyakinan yang dianut tetapi buah kejeniusan akal manusia. Pendidikan tidak punya tolak ukur yang pasti sehingga memungkinkan pemikiran yang rusakpun diadopsi.


Begitu beracunnya sistem kapitalis ini dan telah membunuh karakter dan azas pendidikan pada manusia dengan cara yang amat pelan namun mematikan. Negara seolah latah dengan masalah yang ada. Tidak berfikir berdasarkan Wahyu namun bebas tanpa batas. 


Maka wajar hasil yang didapatkan pun tidak memuaskan namun menimbulkan masalah baru. Pendidikan dalam sistem ini sebagai bahan uji coba dan peran negara betul betul dimandulkan. Manusia hasil didikan sistem kapitalis menghasilkan pemikir pragmatik, minim solusi banyak sensasi. Generasi perusak dan minim harapan.


Kembali Pada Sistem Islam


Islam hadir bukan hanya sebagai petunjuk bagi manusia tapi juga pengatur tatanan hidup dan ibadah setiap hamba. Islam telah menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan dasar dan menjadi tanggung jawab negara untuk mengadakan, memfasilitasi dan penghargaan atas dedikasi.


Islam telah melarang setiap umatnya berada dalam kebodohan dan diwajibkan menuntut ilmu agama terlebih dahulu sebelum mengambil ilmu yang lain yang hukumnya mubah. Begitu urgent nya pendidikan hingga dana yang dikeluarkan juga tidak main-main oleh negara.


Mengapa demikian?. Posisi agama dan ilmu dibuat selaras sehingga pemanfaatan ilmu benar untuk kemaslahatan manusia bukan diperjual-belikan. Dalam Islam negara wajib terlibat langsung sehingga semua warga negara berhak belajar setinggi tingginya. Untuk biaya begitu murah bahkan gratis. 


Keselarasan ini sebagaimana yang diatur dalam agama Islam. Bahwa Islam adalah agama yang jika diterapkan maka akan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi pemeluknya. Bahkan Islam tidak membedakan agama selama ia adalah warga daulah maka ia berhak mendapatkan pendidikan.


Maka wajar dunia pendidikan begitu diminati hingga melahirkan tokoh yang faham agama sekaligus pakar dalam keilmuan. Pendidikan Islam telah menjadi model terbaik selama 1300 abad lamanya ditandai pada masa Rasulullah Saw dan dilanjutkan oleh Khalifah sesudahnya.


Maka jika ingin masa depan pendidikan gemilang dan generasi berada dalam kecemerlangan hanya dengan penerapan sistem Islam secara kaffah kembali.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update