Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perubahan Nama RSUD Al-Ihsan, Simbol Islam Tergeser oleh Kearifan Lokal

Saturday, August 02, 2025 | Saturday, August 02, 2025 WIB Last Updated 2025-08-02T14:47:12Z






Oleh Sriyanti

Ibu Rumah Tangga, Pegiat Literasi

 

 

Mengangkat kearifan lokal Sunda, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Al-Ihsan Baleendah Kabupaten Bandung, atas usulan Gubernur Jawa Barat akan diganti namanya menjadi RSUD Welas Asih. Proses pergantian nama tersebut sudah berjalan 30 persen. Untuk perubahan ini pihak rumah sakit pun telah melakukan uji publik, dengan menerima aspirasi masyarakat dan pasien yang ada, semua responden setuju.

 

Menurut Zidney Fahmidyun yang merupakan analis hukum ahli pertama RSUD Al-Ihsan, dipilihnya  nama Welas Asih karena  makna dari kata tersebut adalah kasih sayang, ini sangat mencerminkan kepribadian dan budaya Sunda. Selain itu juga terinspirasi dari Asmaul Husna yaitu Ar-Rahman dan Ar-Rahim. (tribunjabar.id Rabu 02/07/2025)

 

Rumah sakit merupakan salah satu fasilitas umum yang sangat diperlukan masyarakat, untuk mendapatkan layanan kesehatan. Untuk itu pemerintah wajib menjamin ketersediaannya, dengan kualitas layanan yang terbaik. Fungsi utama rumah sakit bukan sekedar bergantung pada nama, melainkan pelayanan maksimal pada pasien dengan biaya yang terjangkau, karena jaminan kesehatan adalah hak semua rakyat.

 

Perihal pergantian nama sebenarnya bukanlah sesuatu yang urgen. Kata Al-Ihsan sendiri sudah mengandung makna yang sangat baik, walaupun bukan berasal dari undak unduk bahasa Sunda ataupun kearifan lokal. Terlebih untuk penggantian nama pada sebuah instansi akan mengeluarkan anggaran biaya, baik untuk biaya administratif maupun biaya lain untuk perubahan logo dan sebagainya. Daripada digunakan untuk hal demikian, alangkah lebih baiknya jika dana tersebut dipergunakan untuk lebih memaksimalkan layanan, melengkapi fasilitas, sarana dan prasarana, ataupun subsidi biaya untuk pasien. Tidak dipungkiri, di tengah kondisi perekonomian saat ini, masih banyak masyarakat yang terkendala biaya untuk mendapatkan layanan kesehatan.

 

Sekilas perubahan nama rumah sakit di atas memang terlihat wajar, namun mengapa nama yang identik dengan Islam yang harus diganti? Dikhawatirkan hal ini bukan hanya sekedar sesuai budaya Sunda, tapi sudah mengarah ke pemikiran untuk menghapus simbol-simbol Islam dengan dalih kearifan lokal.

 

Adanya kejadian di atas, mengingatkan kita pada sejarah perubahan Turki di tahun 1924. Polanya hampir serupa, dan akibatnya luar biasa fatal. Turki yang awalnya menjadi pusat pemerintahan Islam yaitu Kekhalifahan Utsmaniyah, diruntuhkan oleh Mustafa Kemal Attaturk. Setelah ia menjadi penguasa baru di Turki, langkah pertama yang ia lakukan adalah, menghapus nilai-nilai dan jejak Islam  di ruang publik. Karena Islam dianggap sebagai penghambat kemajuan, kuno, dan sebagainya. Di mulai dengan perubahan nama, istilah, bahkan lafal adzan pun dikumandangkan versi bahasa Turki.

 

Maka perubahan nama Al-Ihsan ini, bukan hanya terletak pada bahasa, namun mengasingkan bahkan memutuskan akar ruhani umat dari ajaran agamanya. Padahal sejatinya Sunda tidak alergi dengan Islam, banyak pejuang dari tatar Sunda yang berasal dari para Ulama. Semoga apa yang dilakukan penguasa tersebut bukan cerminan Islamofobia, ataupun tekanan para pembenci Islam.

 

Inilah resiko hidup dalam alam sekularisme kapitalis. Islam dan ajarannya sering dengan mudahnya dipermasalahkan. Oleh karena itu agar kemuliaan Islam dan umatnya terjaga, kita harus berusaha menumbangkan sistem batil yang rusak dan merusak ini, dengan memahamkan masyarakat pada Islam kafah, hingga mereka bersedia menegakkan kembali Islam dalam sebuah kepemimpinan.

 

Wallahu a'lam bi ash shawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update