Oleh: Sartinah
(Pegiat Literasi)
Delapan puluh tahun sudah negeri ini merdeka. Memasuki usia ke-80 tahun, seharusnya negeri ini sudah mampu membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Hal ini pun sejalan dengan visi pemerintah yang tercantum dalam tema kemerdekaan yakni, "Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju".
Sayangnya, visi mulia mewujudkan kesejahteraan rakyat hanyalah manis dalam retorika. Faktanya, puluhan tahun negeri ini memperingati kemerdekaannya, kedaulatan dan kesejahteraan tak kunjung tiba. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, di momen peringatan kemerdekaannya, negeri ini masih dijerat segudang masalah di berbagai bidang kehidupan.
Dijerat Banyak Persoalan
Di tengah euforia kemerdekaan negeri ini, rakyat terus saja menerima berbagai "kado pahit". Di antaranya adalah maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai bidang, salah satunya dalam bidang ekonomi. Dari data Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) per Januari—Desember 2024, terdapat 77.965 orang yang mengalami PHK.
Sementara itu, dari Januari sampai akhir April 2025, terdapat 24.036 orang yang di-PHK (Tempo.co, 8-5-2025). Tak hanya itu, kondisi ekonomi masyarakat kelas menengah pun masih kocar-kacir. Penghasilannya yang stagnan atau cenderung turun, nyatanya tidak sebanding dengan pengeluaran yang makin membesar.
Penghasilan yang stagnan ataupun menurun mengakibatkan daya belinya pun ikut melemah. Ditambah pula dengan melambungnya harga berbagai kebutuhan pokok yang makin membuat ekonominya tercekik. Belum lagi berbagai pungutan yang harus dibayarkan pada negara yang mengakibatkan sebagian masyarakat terpaksa makan tabungan. Berbagai fakta tersebut sangat berpotensi menjatuhkan masyarakat kelas menengah ke jurang kemiskinan.
Persoalan lain yang tak kalah mengkhawatirkan adalah pembajakan potensi generasi. Betapa miris nasib generasi saat ini. Mereka yang seharusnya dipersiapkan untuk melanjutkan peradaban Islam di masa mendatang, justru dijerat oleh sistem kapitalisme. Generasi muda hanya dimanfaatkan potensi dan tenaganya sebagai tenaga kerja dan target pasar demi mengokohkan bangunan kapitalisme. Belum lagi dengan masuknya pemikiran-pemikiran rusak dalam benak kaum muslim seperti Islam moderat, deradikalisasi, dan lainnya yang makin menjauhkan umat dari pemikiran Islam.
Belum Merdeka
Memang benar, negeri ini telah bebas dari penjajahan fisik selama bertahun-tahun yang lalu. Namun, meski penjajahan fisik telah lenyap, penjajahan pemikiran masih terjadi di segala bidang. Realitas ini bukanlah kemerdekaan. Kemerdekaan seharusnya terwujud dari kesejahteraan, yakni terpenuhinya kebutuhan dasar seluruh rakyat mulai sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan hingga keamanan.
Jika rakyat masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya, sejatinya negeri ini belum benar-benar merdeka. Selain itu, kemerdekaan seharusnya juga tampak ketika umat Islam mampu berpikir sesuai dengan standar syariat. Jika umat masih berpikir dan berperilaku jauh dari nilai-nilai Islam, sekali lagi kita sejatinya belum merdeka.
Sulitnya kata sejahtera diwujudkan di negeri ini sejatinya disebabkan oleh penerapan sistem sekuler kapitalisme. Sistem kapitalisme telah mengakibatkan kesengsaraan abadi bagi rakyat. Bagaimana tidak, sistem ini telah melegalkan kepemilikan SDA kepada swasta yang mengakibatkan harta kekayaan hanya dirasakan oleh segelintir orang.
Akibatnya, para kapitalis makin kaya, sementara rakyat makin merana. Karena itu, sistem ini jelas tidak memiliki misi menyejahterakan rakyat karena fokus utamanya adalah meraup keuntungan. Karena itu, selama sistem kapitalisme masih dijadikan pijakan untuk menyelesaikan segala persoalan, kesejahteraan rakyat dan kemerdekaan hakiki hanyalah sebatas angan.
Urgensi Sistem Islam
Sistem kapitalisme dan Islam ibarat dua bangunan yang tidak bisa disandingkan, apalagi disatukan. Kegagalan sistem kapitalisme dalam mewujudkan kesejahteraan seharusnya menumbuhkan kesadaran bahwa umat harus mencari solusi alternatif lainnya. Solusi satu-satunya dan terbaik hanyalah Islam. Pasalnya, Islam adalah agama sekaligus sistem hidup yang mampu menjadi solusi terhadap seluruh persoalan manusia.
Karena itu, penerapan sistem Islam kafah menjadi kebutuhan urgen saat ini. Pasalnya, hanya sistem Islam (Khilafah) yang dapat memberi jaminan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Jaminan tersebut akan terwujud dengan penerapan sistem ekonomi Islam oleh Khilafah. Dalam sistem ekonomi Islam, negara menerapkan beberapa kebijakan. Pertama-tama, negara akan membagi kepemilikan menjadi tiga jenis, yakni individu, umum, dan negara.
Berkaitan dengan harta kepemilikan umum, negara akan mengelolanya dengan benar dan amanah. Hasil dari pengelolaan milik umum tersebut akan digunakan sebaik-baiknya dalam rangka menjamin kesejahteraan setiap individu rakyat. Negara Islam akan menjamin terpenuhinya semua kebutuhan asasi warga negara, mulai dari papan, sandang, pangan, pendidikan, kesehatan, hingga keamanan.
Negara juga membuka banyak lapangan pekerjaan. Hal ini dilakukan agar para lelaki dewasa yang sehat dan mampu, dapat dengan mudah memperoleh pekerjaan demi memenuhi nafkah bagi keluarganya. Banyaknya lapangan pekerjaan yang tersedia karena negara melakukan industrialisasi.
Masih banyak lagi kebijakan yang dilakukan negara untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, termasuk memberikan tanah bagi orang yang mampu mengelolanya serta membagikan santunan kepada fakir miskin. Tak hanya itu, negara juga akan menjaga akidah dan pemikiran umat agar tidak menyimpang dari rambu-rambu syariat.
Sementara itu, terkait dengan kemerdekaan hakiki maka perlu dilakukan perubahan hakiki pula. Perubahan tersebut yakni dengan membuang sistem kapitalisme yang rusak dan terbukti gagal mewujudkan kesejahteraan. Selanjutnya beralih pada sistem yang terbukti mampu memberikan jaminan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, yakni sistem Islam. Hal ini dapat disaksikan dalam sejarah keemasan Islam di masa lalu. Namun, perubahan hakiki tersebut membutuhkan peran umat dan jemaah dakwah untuk mewujudkannya.
Khatimah
Kemerdekaan dan segala euforianya sangat kontras dengan kondisi masyarakat negeri ini. Hal ini membuktikan bahwa peringatan kemerdekaan yang digelar setiap tahun hanyalah seremonial semata, bukan kemerdekaan sesungguhnya. Saatnya kembali pada satu-satunya sesembahan manusia, yaitu Allah Swt. dengan menerapkan sistem Islam secara sempurna dalam berbagai bidang kehidupan. Allah Swt. berfirman dalam surah An-Nahl ayat 36, "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut ...."
Wallahualam bissawab.

No comments:
Post a Comment