Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Muhasabah di Balik Musibah

Wednesday, July 23, 2025 | Wednesday, July 23, 2025 WIB Last Updated 2025-07-23T05:09:07Z
Muhasabah di Balik Musibah


Sepanjang bulan Juli ini Bogor dan sekitarnya diguyur hujan terus menerus. Tercatat, sejak 5 Juli 2025 hujan meluas memicu dampak alam yang mencemaskan warga setempat. Tanah longsor, banjir yang merendam banyak pemukiman, angin kencang tak kurang dari 48 titik terdampak dari 35 desa yang dilaporkan. Beberapa di antaranya bahkan memutuskan untuk mengungsi sementara hingga kondisi memungkinkan. Menurut laporan, 108 kepala keluarga terdampak dan 24 jiwa pun mengungsikan diri. Sejumlah rumah ada yang ambruk dan fasilitas umum rusak parah.


Hujan adalah rahmat yang sepatutnya kita syukuri. "Dan dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan dialah yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji (TQS. Asy Syura : 28)." Namun, melihat realita dan fakta yang tercantum di atas, hujan seolah tidak lagi menjadi rahmat melainkan pembawa musibah, kesedihan dan kerugian finansial. Sesungguhnya kehadiran hujan, dinilai dari unsur, volume maupun keteraturannya adalah objek yang lumrah serta datang berkesinambungan dari waktu ke waktu. Lantas kenapa kita seolah-olah khawatir tatkala hujan turun?  Apa yang salah?


Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yus Budiono, mengungkapkan bahwa ada empat faktor utama penyebab banjir di Jabodetabek yaitu penurunan muka tanah (land subsidence), perubahan tata guna lahan (land use change), kenaikan muka air laut, serta fenomena cuaca ekstrem. Beliau menambahkan ada efek dari perubahan iklim global yang terus berjalan sejak kurun waktu  1 Januari 2020 hingga Januari 2025, artinya sudah 5 tahun berlangsung, yang mana terjadilah curah hujan ekstrem dengan kenaikan lebih dari 300 m, jauh di atas normal sebagaimana biasanya. Yus menekankan bahwa pengurangan luas hutan dan daerah resapan air di wilayah hulu, khususnya di sepanjang Sungai Bekasi dan Ciliwung, menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya aliran air permukaan yang berujung pada banjir. 


Renungan bagi kita sebagaimana yang disebutkan dalam surah Ar-Ruum ayat 41 yang berbunyi: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Kerusakan demi kerusakan yang menimpa individu, maupun masyarakat dengan skala yang lebih besar hendaknya menjadi teguran keras bagi umat manusia. Terlebih kepada para pemangku kebijakan yang diberi amanah untuk bersikap profesional dan menyelaraskan kepentingan tata kelola kota, pertanahan dan pengairan sebagaimana mestinya. 


Penyalahgunaan wewenang seperti pemberian perizinan industri maupun perumahan harus diperketat regulasinya, bukan hanya sebatas retorika dan janji kampanye belaka. Bencana yang menimpa atas ulah tangan manusia tidak hanya menimpa si pelaku tetapi masyarakat luas sebagai bagian dari satu kesatuan entitas kehidupan. Sebagaimana kutipan ayat di atas, terkandung kata "Al-bahr" yang artinya negeri-negeri dan kota-kota yang terletak di pinggir sungai. Dalam pemaknaan lain, "Al-barru" yakni daratan yang sudah diketahui dan "Al-Bahr" adalah lautan yang sudah diketahui, memperjelas maksud dari ayat tersebut bahwa akan terjadi dampak dan kerusakan nyata yang bisa diprediksikan apabila  manusia bersikap lalai dan ingkar serta egois terhadap kepentingannya sendiri tanpa mengindahkan bahaya laten yang datang sewaktu-waktu. Lahan pertanian berubah menjadi gersang dengan didirikannya bangunan-bangunan kokoh tetapi sejatinya rapuh. Kompensasi dari pengabaian ini adalah bencana, dan satu-satunya cara untuk menebusnya adalah dengan mengembalikan keseimbangan alam yang sudah direnggut oleh manusia dengan diterapkannya hukum Allah yang melindungi jiwa, raga bahkan duniawi. Alam hendak berkata, tatkala manusia gagal menjalankan misinya selaku kholifah di muka bumi maka gagal pula ia melindungi dirinya sendiri. Wallahu’alam. []


Oleh : Dian Hasibuan (penulis paruh waktu, pemerhati citizen jurnalism)

dianhasibuan@gmail.com

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update