Oleh Annisa Amalia Farouq, S.Sos.
Hari ini, 22 Juli 2025. 655 hari sudah kaum Muslim di Palestina menjadi korban kebiadaban Zionis Israel dengan serangan-serangan yang membabi buta. Tak segan-segan, lebih dari 55.000 warga Palestina telah kehilangan nyawa akibat serangan ini.
Zionis Israel tak pernah memilih siapa dan di mana ia akan menyerang. Warga sipil yang lemah seperti anak-anak, wanita, dan orang tua tak luput dari sasarannya. Tempat tinggal, pengungsian, sekolah-sekolah, rumah sakit, dan klinik pun tak menjadi tempat pengecualian sasaran bomnya.
Setidaknya 15 orang, termasuk 10 anak-anak, dilaporkan meninggal dunia akibat serangan Israel yang menyasar kerumunan warga di sekitar pos layanan kesehatan di wilayah Gaza tengah pada Kamis (10/7/2025). Serangan itu menghantam sejumlah keluarga yang tengah mengantre untuk menerima bantuan gizi dan pelayanan medis di posko kesehatan yang terletak di Deir al-Balah. (Tirto.id, 11/07/2025)
Tak cukup sampai di situ, Zionis Yahudi menggunakan berbagai cara untuk memperlancar tindakan genosida terhadap warga muslim di Gaza. Salah satunya adalah dengan menghalangi masuknya bantuan pangan, sehingga warga terpaksa menghadapi kelaparan yang dapat berujung pada kematian. Selain itu, mereka juga menetapkan lokasi distribusi bantuan, lalu menjadikan kerumunan warga yang tengah menunggu bantuan sebagai target serangan, dan masih banyak tindakan kejam lainnya.
Kejahatan genosida yang terjadi di Palestina telah melampaui batas-batas kemanusiaan. Namun, alih-alih berdiri membela dan berupaya mengusir penjajah Zionis, para pemimpin negara-negara muslim justru memilih menjalin hubungan erat dengan negara Yahudi tersebut. Sikap mereka mencerminkan bentuk nyata dari sebuah pengkhianatan.
Banyak pengamat memang mengkritik tindakan brutal yang dilakukan oleh Zionis Israel, namun sayangnya mereka tidak menawarkan solusi nyata untuk menghentikannya. Mereka kehilangan gambaran atas solusi total menghentikan kebrutalan serangan Zionis Yahudi di Palestina.
Kaum muslim di Palestina memang membutuhkan makanan, pakaian, dan obat-obatan untuk menyambung hidup mereka, namun hal tersebut sama sekali tak menyelesaikan masalah utamanya, yaitu menghentikan penyerangan Zionis Israel secara total. Kaum muslim Palestina membutuhkan seorang pemimpin kaum muslim dalam sebuah institusi khilafah yang akan menyerukan bersatunya kekuatan seluruh tentara kaum muslim untuk membalas dan menyerang balik tentara Zionis Yahudi tanpa ampun.
Umat Islam perlu terus menggencarkan narasi bahwa satu-satunya solusi mendasar bagi Palestina adalah melalui jihad dan tegaknya khilafah. Setiap muslim yang telah memahami akar persoalan ini kemudian memiliki tanggung jawab untuk menyadarkan saudara seimannya. Gerakan ini akan menumbuhkan kesadaran kolektif dan memperkuat umat berdasarkan pemahaman yang mendalam.
Tumbuhnya kesadaran kolektif di kalangan mayoritas umat akan mendorong mereka untuk istikamah berjuang melalui jalan dakwah sesuai dengan metode yang dicontohkan Rasulullah. Hanya thariqah dakwah Rasulullah-lah yang mampu membawa umat menuju kemenangan sejati. Oleh karena itu, umat harus senantiasa diingatkan untuk menjauhi metode-metode yang tidak mengarah pada kemenangan, seperti jalur people power maupun mekanisme demokrasi dan parlemen.
Kaum muslim harus meyakini sepenuh hati bahwa hanya thariqah dakwah Rasulullah-lah yang menjadi cahaya penuntun menuju kemenangan agung umat Islam, jalan mulia yang kelak akan menyapu bersih penjajahan Zionis dari tanah suci Palestina, membebaskannya dengan kehormatan dan kemuliaan, sebagaimana cahaya fajar mengusir gelapnya malam.
Allaahu a'lam bi ash-shawab.

No comments:
Post a Comment