Oleh
Nayla Shofy Arina (Pegiat Literasi)
Tidak terasa kita sudah memasuki Tahun Baru Hijriyah, yakni 1447 H. Tahun Baru Islam dijadikan sebagai momentum refleksi dan muhasabah serta menetapkan resolusi untuk masa depan yang lebih baik. 1 Muharram mengingatkan kita semua pada peristiwa hijrahnya Rasulullah Muhammad saw dan para sahabat yang menggambarkan sejarah awal dimulainya kehidupan kaum muslim, dan menjadi momentum perubahan masyarakat jahiliah menjadi masyarakat Islam. Inilah makna yang paling penting dari peristiwa hijrah Rasulullah Muhammad saw dan para sahabat.
Namun kenyataannya sejarah momentum Muharram yang dtandai hijrahnya Rasulullah Muhammad saw ke kota Madinah tidaklah memberikan pengaruh nyata pada kehidupan kaum muslim saat ini. Justru umat lebih dekat dan antusias ketika pergantian tahun masehi yang dasar sejarahnya adalah diluar Islam. Perhatian umat kepada Tahun baru Islam nyaris tak berbekas pada benak umat, kehilangan dan ketidakmampuan merangkai sejarah penanggalan awal tahun hijriyyah pada akhirnya memberikan pengaruh pada persoalan yang masih terus menimpa umat Islam dan kini nasib umat makin suram.
Kondisi yang sangat jauh berbeda pada kehidupan Rasulullah Muhammad saw dan para sahabat dengan kondisi yang dialami kaum muslim saat ini. Umat kian terpuruk dari segala aspek baik dari aspek hukum, sosial, politik, peradilan, ekonomi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari termasuk mengakses layanan kesehatan dan pendidikan.
Generasi semakin jauh dari Islam, pelecehan, penghinaan, serta penindasan terus menerus ditujukan kepada Islam dan umatnya, seperti di Myanmar, Suriah, India, Bangladesh, Afganistan, Irak, Yaman dan masih banyak terjadi di negeri-negeri lainnya, ditambah dengan genosida di Palestina yang masih terus terjadi hingga detik ini, serangan demi serangan dilakukan, menjatuhkan korban sebanyak 55.362 jiwa dan 128.741 korban luka-luka, sedangkan umat Islam dan para pemimpinnya dinegeri masing-masing masih tersekat dengan Nasionalisme, sibuk dengan kepentingan pribadi dan kelompok, antar sesama muslim saling bertikai dan menyalahkan satu sama lain.
*Islam Saat Ini*
Tahun baru Islam seharusnya menjadi momen introspeksi umat Islam. Sebagaimana predikat yang Allah swt sematkan kepada umat Islam yakni khairu ummah atau umat terbaik seperti dalam Q.S Ali Imran ayat 110 “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik”.
Umat seharusnya merenungkan kembali bahwa banyaknya problem yang dihadapi sehingga kehilangan kemuliaannya sebagai umat terbaik adalah karena masih diatur dengan Sistem Kapitalis-Sekuler yang menjauhkan peran Allah swt serta aturannya dari kehidupan, dan dari sistem ini melahirkan paham yang bercabang nan merusak, seperti munculnya paham liberal yang menganut kebebasan tanpa batas, nasionalisme yang menjadikan pemimpin-pemimpin di negeri muslim menutup mata dan lebih peduli dengan kepentingan nasionalnya dan membatasi negara mereka daripada melindungi atau menolong saudara mereka yang tertindas di belahan dunia lain.
Musibah demi musibah terus menimpa umat Islam akibat dari paham-paham yang dengan nyata merusak dan akibat dari ketiadaan kekuasaan Islam yang melindungi, umat Islam kian terpuruk karena jauh dari aturan Allah. Padahal Allah swt sudah memperingatkan kepada kita semua dalam QS Thaha ayat 124, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".
*Hijrah dan Perubahan*
Momentum hijrah seharusnya menjadi muhasabah bagi kaum muslim yang tengah hidup dalam berbagai kenestapaan untuk menemukan kembali jati dirinya sebagai umat terbaik. Sebagaimana peristiwa hijrahnya Rasulullah Muhammad saw dan para sahabat yang membawa perubahan masyarakat dari jahiliah menuju terwujudnya peradaban gemilang yakni peradaban Islam yang disebut dengan khilafah.
Realitas ini semestinya menyadarkan umat Islam bahwa sistem pemerintahan islam (khilafah) adalah solusi realistis bagi seluruh problem hasil dari penerapan sistem Kapitalis. Bahkan tegaknya khilafah Islam menjadi solusi bagi masalah Palestina. Islam memerintahkan untuk memerangi siapa saja yang memerangi kaum muslim dan mengusir mereka dari tanah-tanah mereka. Allah Swt. berfirman dalam Q.S Al-Baqarah ayat 190-191 “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian.” Dan “Bunuhlah mereka dimana saja kalian jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.”
Namun realitasnya, kekuatan untuk melawan musuh tidak bisa bertumpu pada kekuatan individu atau sekelompok orang dengan sumber daya yang tidak berimbang, sedangkan musuh yang dihadapi adalah entitas sebuah negara yang di back up oleh kekuatan global, dibawah kepemimpinan Amerika Serikat (AS).
Di sisi lain, kebangkitan khilafah merupakan mimpi buruk dan ancaman bagi negara-negara Barat dan penguasa-penguasa negeri Arab yang berkhianat pengusung Ideologi Kapitalisme. Karena bagi mereka, Islam adalah kekuatan politik yang akan menumbangkan hegemoni mereka. Ketakutan akan hadirnya khilafah tampak dari berbagai pernyataan, salah satunya dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu ia mengatakan “kami tahu siapa yang kami hadapi. Kami tidak akan membiarkan berdirinya kekhalifahan beberapa kilometer jauhnya di Pesisir Mediterania.”
Sedangkan dari Perdana Menteri Inggris, Toni Blair menyebut sebagai salah satu ideologi jahat, ia menyebut ciri-ciri tersebut adalah ingin mengeliminasi Israel, menjadikan syariat Islam sebagai sumber hukum, menegakkan Khilafah, dan bertentangan dengan nilai-nilai liberal. (NYTimes/16/7/2005).
Adapun Amerika, Presiden George W. Bush Jr. sempat berkata, “Teroris AL-Qaeda dan mereka yang memiliki ideologi yang sama adalah Sunni yang kejam. Mereka didorong oleh visi Islam yang radikal dan menyimpang yang menolak toleransi, menghancurkan semua perbedaan pendapat dan membenarkan pembunuhan pria, Wanita, dan anak-anak yang tidak bersalah dalam upaya meraih kekuasaan politik. Mereka berharap untuk mendirikan utopia politik yang penuh kekerasan di seluruh Timur Tengah, yang mereka sebut kekhalifahan, dimana semua orang akan diperintah sesuai dengan ideologi kebencian mereka.”
Dari sinilah tampak relevansi kebutuhan penegakkan sebuah sistem politik Islam yang disebut Khilafah. karena khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh umat Islam yang akan menegakkan syariat Islam dan menjalankan misi dakwah. Salah satu perealisasian adalah jihad fi sabilillah sebagai bentuk tanggung jawab kaum muslim menolong saudara yang tertindas terkhusus di Palestina.
Sebagaimana nasihat Al-‘Alamah Syekh Atha Abu Rasytah, seorang ulama mukhlis, pemimpin Gerakan ideologis yang memperjuangkan khilafah, “Sungguh kita paham bahwa musuh-musuh Islam akan menilai perealisasian hal itu (khilafah) sebagai hal yang mustahil. Mereka mengulang-ulang ucapan kelompok mereka sebelumnya seraya mengolok-ngolok, mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya.” Q.S Al-Anfal ayat 59
Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya menyebutkan, “Siapa saja yang ingin mengetahui kemuliaan Khilafah, hendaknya ia melihat buahnya. Sebabnya, sesuatu itu dapat diketahui kemuliaannya dari buah yang dihasilkannya. Khilafah merupakan sebab keselamatan umat manusia, baik fisik maupun agama mereka. Di dalamnya nyawa akan terjaga, ilmu dan amal akan tercapai, rezeki akan diperoleh, serta perilaku saling menzalimi akan terhindarkan.” (Al-Mishbah al-Mudhi fi Khilafah al-Mustadhi hlm.134)
Khilafah adalah satu-satunya sistem yang menjamin kemaslahatan umat, baik di dunia maupun di akhirat. Ibnu Khaldun menyatakan bahwa “Khilafah yaitu pemerintahan atas rakyat dengan berdasarkan sudut pandang syariat demi kemaslahatan manusia di akhirat. Serta demi kemaslahatan manusia di dunia yang berpulang pada kemaslahatan akhirat. Ini karena segala kondisi di dunia ini menurut Allah Swt. akan diperhitungkan berdasarkan kemaslahatannya di akhirat.” (Tarikh Ibnu Khaldun). Semoga khilafah segera kembali tegak. Wallahu a’lam bisshowab

No comments:
Post a Comment