Sari Setiawati
Hingga saat ini, penderitaan warga Gaza terus terjadi, dalam ancaman genosida entitas Zionis Yahudi, hingga mencapai korban jiwa lebih dari 55.362 orang, dan lebih dari 128.741 orang yang terluka sejak Oktober 2023.
Bahkan zionis Yahudi telah menjadikan kelaparan sebagai senjata yang begitu menyiksa setelah sebelumnya mereka memblokade semua akses bantuan yang akan masuk ke Gaza.
Mereka senang melihat banyaknya anak, orang dewasa maupun lansia yang mati secara perlahan akibat kelaparan. Mereka bahkan sengaja membuat perangkap berdarah, yaitu membiarkan bantuan masuk lalu menembaki warga yang berusaha mendapatkan bantuan tersebut.
Di tengah tragedi yang dirasakan warga Gaza Palestina, bagaimana kah sikap para penguasa negeri Islam? Apakah sebagian besar dari para penguasa itu masih memiliki sifat ashabiyah (fanatisme kesukuan/kebangsaan dan nation-state [negara-bangsa]) yang telah mengakar, sehingga derita saudara seiman diabaikan? Hanya karena dianggap bukan bagian dari bangsa atau negaranya, bahkan para penguasa negeri-negeri Arab yang berbatasan langsung dengan Gaza, seperti Mesir, diam dalam menghadapi genosida tersebut . Hal ini memperlihatkan betapa buruknya dampak ashabiyah. Lebih dari itu, ashabiyah adalah fanatisme buta yang menutup mata dari kebenaran dan keadilan. Di era modern, ashabiyah menjelma dalam bentuk paham nasionalisme. Sedangkan nasionalisme itu sendiri dan nation state menuntut loyalitas penuh hanya pada bangsa, tanah air dan negaranya saja.
Tragedi yang menimpa Gaza dan seluruh Palestina bukan hanya menyisakan darah dan air mata. Akan tetapi sekaligus menyingkap tabir para penguasa muslim yang penuh keculasan, kemunafikan, dan pengkhianatan, yang tampak pada sebagian besar pemimpin muslim dan Arab, yang justru bungkam dan menghindar dari masalah Palestina. Alih-alih menjadi perisai bagi muslim Gaza, mereka malah menjadi tembok penghalang untuk kebebasan Palestina.
Sesungguhnya ashabiyah telah ada di masa sebelum kedatangan Islam. Namun Islam datang untuk menghapus ashabiyah dan mengganti ikatan ini dengan ikatan Aqidah Islam. Islam dengan tegas mengecam para penguasa yang zalim, culas, dan khianat yang diakibatkan oleh ashabiyah ini, karena meraka sama sekali enggan menolong kaum muslim yang terzalimi. Mereka ini hakikatnya berada di bawah ancaman laknat dan azab Allah SWT. Bagaimana tidak? kaum muslim Palestina, termasuk anak-anak dan wanita dibom, dijatuhi rudal, dilaparkan dan dibantai. Bukan hanya para penguasa yang pasif merespon, tetapi juga mereka yang menghalangi bantuan dan diam dalam pembelaan terhadap Palestina.
Umat Islam harus sadar bahwa para penguasa muslim saat ini tidak menjalankan fungsinya sebagai junnah (perisai) umat. Oleh karena itu, kita harus melepaskan diri dari ikatan ashabiyah dan nation state, dan kembali pada kesatuan umat yang hakiki, berupa penegakkan kembali risalah yang Rasullullah saw ajarkan dan contohkan, dalam kesatuan kaum muslimin di bawah institusi negara yang diwariskan oleh Rasulullah saw. Melalui perjuangan dalam dakwah Islam kaffah, untuk menyadarkan umat dan para pemimpin, sehingga menjadi para penegak agama Allah dan pembela umat Islam, khususnya saudara seiman kita di Palestina yang sudah lama tertindas oleh Zionis Yahudi.
Wallahu a`lam bi ash shawab.

No comments:
Post a Comment