Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kecurangan Beras di Negara Agraris, Buah Penerapan Sistem Kapitalis

Tuesday, July 29, 2025 | Tuesday, July 29, 2025 WIB

 


Oleh Feni Rosfiani

Aktivis Dakwah

Masalah pemerataan pangan di negara ini belum tuntas, ditambah lagi adanya kasus yang baru-baru ini terkuak yaitu Beras premium yang sengaja dioplos dengan beras kualitas rendah. Dilansir dari Kompas.com (13/7/2025), Menteri Pertanian Andi Armam Sulaiman menyatakan bahwa beras oplosan kini beredar bahkan sampai ke pasar dan supermarket besar, yang dikemas seolah kualitas premium ternyata kualitas dan kuantitas nya sangat menipu. Kerugian negara mencapai 99 triliun rupiah bahkan nyaris 100 triliun rupiah jika hal ini terus dilakukan tanpa diketahui. Sekitar 212 merek beras premium yang dijual di supermarket yang telah dioplos oleh para oknum. Baik dari kualitas beras maupun timbangan yang dikurangi menjadi 4,5kg untuk beras seharusnya berukuran 5kg. Pemerintah memberi waktu kepada para produsen beras dalam waktu 2 Minggu agar mengubah kecurangan ini menjadi produk yang layak dan sesuai standar kembali seperti semula lagi. Jika tidak maka mereka akan diberi sanksi yang lebih berat lagi.

Indonesia adalah salah satu negara Agraris yang kaya akan hasil pertanian, perkebunan, pertambangan dan lainnya, namun meskipun demikian, bukan jaminan kesejahteraan bagi seluruh rakyat nya. Nyatanya masih banyak ditemukan masyarakat yang masih kelaparan dan mengkonsumsi makanan yang tidak bergizi. Negara hanya memegang hanya kurang dari 10%  pasokan pangan. Sehingga negara gagal mengatur ketersediaan pangan bagi rakyatnya. Bahkan sekarang lebih parah karena terjadi pula kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh oknum tertentu. Seperti mengganti kualitas beras dan mengurangi timbangan beras. Semua itu dilakukan tidak lain hanya untuk meraup keuntungan sebesar -besarnya tanpa melihat dengan cara halal atau haram dalam pelaksanaannya. Mirisnya, hal ini dilakukan oleh para produsen besar. Beginilah jika sistem Kapitalisme diemban oleh sebuah negara. Standar perbuatan dan kebahagiaan adalah hanya materi. Bukan ridho Allah SWT. Apalagi di sistem ekonomi kapitalis, sanksi yang diberikanpun sangatlah ringan, sehingga para pelaku sangat mungkin mengulangi perbuatan kecurangan itu di suatu hari nanti saat semua sudah terasa aman bagi mereka. Inilah yang terjadi jika memisahkan agama dari kehidupan seluruhnya.

Dalam situasi seperti ini yang umat butuhkan adalah sistem yang bisa memberi kenyamanan, kesejahteraan dan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat. Sistem itu tidak lain adalah sistem Islam. Hanya dengan sistem Islam, pemimpin senantiasa selalu amanah dalam mengemban tugas-tugasnya dalam melayani rakyat ,bukan malah memperkaya diri sendiri dan keluarga. Jabatan dalam sistem Islam bukan bertujuan untuk meraup keuntungan sebesar -besarnya, tetapi amanah yang dipikulnya sungguh amat berat. Standar perbuatan selalu melihat halal atau haram. Sehingga dipastikan tidak ada satupun pemimpin yang berani ingkar dan melakukan praktik kecurangan dalam mengelola apapun itu. Selain itu, negara akan senantiasa memastikan ketersediaan bahan pangan aman terkendali. Baik dari segi stoknya, kualitasnya, bahkan kuantitasnya. Negara tidak akan membiarkan para pemilik modal mengambil alih pengelolaan sumber daya alam yang ada di negara kita. Jika ditemukan ada yang melakukan kecurangan ini, tentu sanksi yang diberikan oleh negara pun tidak main-main. Tetapi hukuman yang diberikan akan membuat efek jera sehingga tidak akan terulang kembali penyimpangan yang terjadi. Semua yang dilakukan akan sesuai dengan syari'at Islam yang bersumber dari sumber yang paling benar yaitu Al-Qur'an dan as Sunnah. Maka marilah kita terus berjuang dan berdoa agar sistem Islam kembali tegak ke muka bumi ini.

Wallohualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update