Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Islam Kaffah)
Sedikitnya 15 orang, termasuk 10 anak-anak, dilaporkan tewas dalam serangan Israel yang menghantam kerumunan warga di luar posko layanan kesehatan di Gaza tengah pada Kamis (10/7/2025) kemarin. Serangan tersebut mengenai sejumlah keluarga yang sedang mengantre untuk mendapatkan bantuan gizi dan layanan kesehatan di pos medis di Deir al-Balah.
Serangan ini terjadi di tengah negosiasi yang masih berlangsung mengenai gencatan senjata selama 60 hari. Presiden AS Donald Trump menyampaikan optimismenya bahwa kesepakatan mungkin tercapai minggu ini atau minggu depan. Israel menuntut agar dizinkan untuk melanjutkan aktivitas militer di Gaza setelah gencatan senjata, sementara Hamas menginginkan jaminan bahwa Israel tidak akan memulai kembali pertempuran.
Sudah lebih dari sekian purnama zionis tak henti menjadi monster pembunuh berdarah. Merekap terus menerus memberlakukan pengepungan dan pembunuhan rakyat Gaza yang tengah berada di ambang kelaparan dan penderitaan.
Sekalipun telah digugat di Mahkamah Internasional (ICJ) atas genosida Palestina. Namun, entitas zionis ini tak terpengaruh. Mereka tetap memborbardir Gaza, bahkan dengan biadabnya mereka melepaskan tembakan ke arah kerumunan warga Gaza yang sedang menunggu bantuan kemanusiaan.
Sayangnya, saat zionis membabi buta, Palestina porak poranda, darah membanjiri tanah Gaza, ruang hidup rakyat Palestina renta binasa, dunia hanya terdiam dan pura-pura buta. Minim aksi. Hanya kecaman, kutukan, dialog dan diplomasi yang dilakukan oleh hampir seluruh negeri yang sampai saat ini tak berubah pola untuk segera menyudahi.
Cacat Progressif
Sampai saat ini permasalahan Palestina tidak kunjung usai. Para penguasa negeri-negeri muslim mengalami berbagai cacat yang hampir permanen jika tidak melepaskan penerapan tatanan kehidupan sekuler atau pemisahan agama dari kehidupan. Cacat Progressif seakan menjadi prestasi yang menyakiti nasib rakyat Palestina. Tuna wicara, tuna rungu, tuna netra seakan menjadi cacat yang mendunia saat bicara tentang Palestina.
Tatanan ini begitu asyik masyuk merasuki pemikiran bagi tata dunia modern dengan tatanan pemikiran sekuler. Demokrasi dan negara bangsa pun terlahir. Dari siniiah problem Dunia yang tidak terselesaikan dimulai. Tiadanya pemecahan masalah dari aturan yang menyelesaikan masalah (Allah Ta'ala) dan tiadanya kesatuan umat, semakin membentuk ketidakpedulian yang mendunia. Berbagai drama dipentaskan oleh negeri negeri muslim. Demikian pula tidak ketinggalan, kamuflase pun dilakukan AS. Dia mengikuti aksi yang dilakukan Yordania. Sebuah drama antagonis kembali dilakukan AS. Musuh memerankan sebagai penolong. Drama tetaplah drama. Kenyataanya AS tetaplah penyuplai Israel dalam memerangi (menggenosida) Palestina. Zionis adalah anak emas AS. Sangat mustahil pula jika mengharapkan PBB menjadi juru damai yang di dalamnya ada AS, Inggris, dan sekutu zionis. Karena sejatinya mereka akan menganulir upaya apa pun untuk membebaskan Palestina dari penjajah zionis.
Menyedihkan, saat zionis tak lagi mengerti bahasa diplomasi, negeri-negeri kaum Muslimin malah terus menerus melakukannya. Padahal rakyat Palestina sudah tidak kuat menjeritkan seruan memohon pertolongan. Jawaban jihad belum ada yang menyambut dari negeri Muslim manapun sekalipun mereka sangat dekat dengan wilayah Palestina.
Seluruh fakta dengan jelas menunjukkan bahwa dunia telah cacat. Terdiam, membisu, membuta atas apa yang terjadi pada rakyat Palestina. Padahal Palestina adalah barometer kondisi umat hari ini. Jika Palestina terjajah, semua negeri muslim juga dalam kondisi terjajah. Jika Palestina dapat dibebaskan, seluruh negeri muslim juga akan terbebas. Ini semua adalah keniscayaan karena dunia saat ini disetir ideologi kapitalis sekuler.
Butuh Penyadaran Penuh
Palestina adalah milik kaum muslim selamanya, tidak untuk dibagi, apalagi dihancurkan, oleh tangan-tangan kotor penjajah dan menjadi rebutan negara adidaya. Palestina milik kaum muslim yang pembebasannya dimulai pada masa Khalifah Umar bin Khaththab radiyallahu ‘anhu pada 637 Masehi atau 15 Hijriah. Pada saat itu, kunci Baitulmaqdis diserahkan oleh Patriark Sophronius, seorang pemimpin agama Kristen Ortodoks di Yerusalem, kepada Khalifah Umar bin Khaththab radiyallahu‘ anhu. Penduduk Yerusalem sepakat menyerahkan kota secara damai kepada umat Islam.
Oleh karena itu butuh penyadaran penuh untuk kaum Muslimin agar bangkit untuk benar-benar membebaskan Palestina. Harus ada kesadaran penuh bahwa sekelompok kecil manusia paling keji dan pengecut di dunia, telah menduduki tanah kaum muslim yang diberkahi secara keji. Mereka membunuh, menggusur, membuat kelaparan, dan menghujani saudara Gaza membabi buta.
Sudah tidak bisa lagi mengulur waktu. Sudah saatnya barak-barak tentara kaum Muslimin tidak menjadi tempat berdiam para tentara. Sudah seharusnya mereka bergerak dan membebaskan tanah yang diberkahi serta membersihkannya dari Zionis Yahudi, juga untuk menebarkan ketakutan kepada mereka yang berada di belakang bangsa-bangsa penjajah.
Sudah saatnya kaum muslim mendukung kelompok dakwah ideologis internasional yang memimpin dengan tulus, mengemban proyek kebangkitan umat, dan mengajak kaum muslim untuk bekerja sama agar menuju kemenangan, kehormatan, dan martabat yang didambakan.
Sudah saatnya, umat Islam benar-benar faham bahwa berusaha mewujudkan negara bagi kaum muslim yang sesungguhnya, yaitu berdirinya negara Khilafah Islamiah yang mengikuti metode kenabian adalah kewajiban. Karena saat kaum muslim bergerak bersama dengan visi yang sama maka akan membangun kesadaran dan kekuatan umat untuk terus fokus berjuang di jalan dakwah sesuai dengan thariqah (metode) Rasulullah.
Sungguh, hanya thariqah dakwah Rasulullah yang akan mengantarkan kepada kemenangan Islam secara hakiki. Thariqah dakwah untuk menegakkan Khilafah mencakup tiga tahapan dakwah yang dipraktikkan oleh Rasulullah ﷺ di Makkah hingga berhasil menegakkan Daulah Islam di Madinah.
Sungguh, tahap pembinaan dan kristalisasi tsaqafah Islam yang dilakukan Rasulullah ﷺ secara intensif dengan menjadikan Islam sebagai ideologinya, serta ilmu dan tsaqafah yang didapatkan dalam pembinaan diamalkan secara langsung dalam realitas kehidupan, telah mewujudkan para hamilah dakwah yang tangguh dan terpercaya yang dari diri mereka terpancar keimanan dan ketaqwaan yang kuat.
Tahap interaksi (tafa’ul) dengan masyarakat hingga Islam menjadi jalan hidup bagi setiap muslim pun dicontohkan Rasulullah ﷺ. Pasa tahap ini terjadi pergolakan antara umat dengan orang-orang yang menghalangi diterapkannya Islam. Dan ini terjadi di masanya dan juga saat ini yaitu keberadaan penjajah Barat, penguasa dan orang-orang zalim, juga para pengikut ideologi sekuler kapitalisme serta pemikiran turunannya. Berinteraksi dengan masyarakat dilakukan untuk memberikan pemahaman dan kesadaran mereka akan pentingnya ideologi Islam dan sistem Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Hingga sampai pada tahap menerima kekuasaan secara menyeluruh melalui dukungan umat Rasulullah ﷺ riilkan saat itu di Madinah yakni terbentuknya Daulah Islam. Negara Khilafah yang terdorong dari keinginan umat Islam yang muncul dari kesadaran dan pemahaman Islam secara kafah .
Demikian seharusnya kesadaran ini dimunculkan dan harus senantiasa ditumbuhsuburkan. Tanpa menyepakati solusi dua negara sebagai bentuk persetujuan damai, karena ini yang memicu lahirnya entitas benalu bernama Zionis di tanah Palestina yang notabene sudah menjadi milik kaum muslim ratusan tahun, serta dijaga oleh para khalifah dari masa ke masa. Kesadaran penuh ini harus terus berlanjut agar umat memahami bahwa secara hakiki solusi pasti untuk akhiri derita Palestina hanyalah jihad dan Khilafah.
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment