Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sekolah Rakyat Hanya untuk Anak Miskin Ekstrem ala Kapitalisme

Friday, June 27, 2025 | Friday, June 27, 2025 WIB Last Updated 2025-06-26T22:55:11Z



Oleh Nani Sumarni

Aktivis Muslimah

 

Kemiskinan antar generasi rupanya masih menjadi masalah yang signifikan di Indonesia. Hingga saat ini, pemerintah telah mengupayakan berbagai cara, diantaranya pendidikan berasrama. Dengan program ini, pemerintah berharap dapat memutus rantai kemiskinan yang terjadi saat ini.

 

Sebagaimana dikutip dari pikiran rakyat pada 8 Juni 2025, Kementerian Sosial (Kemensos) bersama pemerintah Kabupaten Bandung telah menargetkan ratusan anak miskin ekstrem untuk bersekolah di sekolah rakyat. Hal ini hanya berlaku bagi masyarakat masuk kategori desil 1 atau kategori miskin dan miskin ekstrem.

 

Masyarakat miskin ekstrem atau kategori desil 1 adalah kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah. Menurut Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), mereka tergolong dalam kategori miskin ekstrem karena tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, sanitasi, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal dan akses informasi.

 

Program pendidikan berasrama (Boarding School) atau sekolah rakyat yang diselenggarakan secara gratis oleh pemerintah hanya dikhususkan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Program ini direncanakan bakal berjenjang mulai dari SD (Sekolah Dasar), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

 

Dengan upaya ini, pemerintah memberikan pendidikan yang lebih baik kepada generasi muda kurang mampu. Dimana setelah lulus, mereka memiliki peluang lebih besar untuk keluar dari kemiskinan dan tidak akan mewariskan kepada keturunan mereka. Karena dengan pendidikan bisa meningkatkan keterampilan dan pengetahuan yang dapat meningkatkan peluang kerja lebih besar.

 

Kesenjangan Sosial

 

Membangun sekolah rakyat dengan tujuan keluar dari kemiskinan sepintas tampak bagus. Akan tetapi, program ini dikhususkan untuk masyarakat miskin justru meningkatkan kesenjangan sosial, antara rakyat kaya, menengah dan rakyat miskin. Sedangkan, pendidikan merupakan hak bagi setiap warga negara Indonesia tanpa memandang status ekonomi, baik kaya maupun miskin. Dalam pemenuhan kebutuhan dasar ini, seharusnya rakyat mendapat perlakuan, pelayanan, dan fasilitas yang sama.

 

Dengan diadakannya sekolah asrama gratis, apakah akan mengurangi problematik pendidikan? Yang kita lihat selama ini, alumni sekolah umum negeri maupun swasta baik berbentuk asrama ataupun bukan, masih banyak masalah yang muncul. Mereka cenderung bersikap hedonism, materialism dan pragmatism. Hal ini akibat dari penerapan sistem kapitalis di negeri ini, dimana sektor pendidikan menghasilkan alumni yang jauh dari nilai-nilai Islami. Sistem ini telah berkembang dalam dunia pendidikan Indonesia, khususnya sekolah dan berbagai efeknya bagi upaya mencerdaskan kehidupan bangsa yang mengakibatkan lemahnya upaya peningkatan kualitas.

 

Di sisi lain, pendidikan yang berkasta muncul karena sekat sosial yang dibentuk sejak awal sistem ini diterapkan. Kesenjangan sosial antara kaya dan miskin hampir terjadi di semua bidang, bukan hanya sektor pendidikan.

 

Pendidikan dalam Islam

 

Dalam Islam, pendidikan tidak sekadar proses penyampaian ilmu, melainkan juga bertujuan membentuk akhlak mulia dan kepribadian sesuai nilai-nilai Islam. Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki manusia supaya menjadi manusia yang mulia, memiliki kepribadian islami yang terlihat dari pola pikir dan pola sikap yang islami, menguasai tsaqofah Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi berikut keahlian yang memadai dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai hamba, Khalifah dan pewaris nabi.

 

Pendidikan dalam sistem Islam bertanggung jawab sepenuhnya dalam menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas termasuk gaji guru, infrastruktur dan fasilitas pendidikan. Dalam sistem ini, tidak adanya pembatas antara rakyat kaya dan rakyat miskin. Karena pendidikan adalah sektor sangat penting dalam membangun generasi cemerlang pemimpin masa depan dan pembangun peradaban mulia.

 

Selain itu, sumber utama untuk kebutuhan pendidikan, negara akan menggunakan kas negara atau baitulmal. Adapun sumber pendanaannya diambil dari fai, kharaj serta kepemilikan umum seperti hasil tambang dll. Ketentuan kepemilikan umum didasarkan pada sabda Rasulullah saw., bahwa “Manusia berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput dan api.” (HR Abu Dawud).

 

Di sisi lain, negara juga akan menjamin kualitas para pengajar. Sistem pendidikan berlandaskan akidah Islam akan mampu melahirkan generasi yang bervisi akhirat, tidak materialistis. Peranan guru dalam pendidikan Islam sangat penting, Ali bin Abi Thalib berkata: Ketahuilah, kamu tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan bekal enam perkara, yaitu: “cerdas, semangat, bersabar, memiliki bekal, petunjuk atau bimbingan guru dan waktu yang lama”.

 

Alhasil, sistem pendapatan atau gaji yang diberikan terhadap guru, sungguh memuliakan profesi pengajar, ini menjadi faktor yang cukup signifikan dalam melahirkan pengajar berkualitas. Dengan Penghasilan guru yang memadai, akan menunjang kesejahteraan mereka, memungkinkan mereka memusatkan perhatian pada pengajaran. Misalnya saja, pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab ra. gaji seorang guru terbilang sangat besar sekitar 15 dinar per bulan.

 

Dengan begitu, sekolah dalam pandangan islam tidak hanya untuk masyarakat miskin ekstrim melainkan hak semua warga negara. Pendidikan yang berkualitas, dipastikan akan lahir masyarakat dan bangsa yang berkualitas yang pada gilirannya dapat mengantarkan kehidupan bangsa yang cerdas dan berkepribadian Islami. Hal ini dibutuhkannya peran negara untuk memberikan pelayanan terhadap pendidikan dan hanya bisa terwujud dengan penerapan Islam Kaffah.

 

Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update