Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Global March to Gaza, Mampukah Akhiri Genosida?

Friday, June 27, 2025 | Friday, June 27, 2025 WIB Last Updated 2025-06-27T03:45:48Z
Global March to Gaza, Mampukah Akhiri Genosida?


Oleh : Julia Sara, S.I.Kom 

(Aktivis Muslimah Aceh)


Global March to Gaza (GMTZ) merupakan aksi besar-besaran solidaritas kemanusiaan yang diikuti oleh 50 warga negara dunia dengan jumlah mencapai 10.000 peserta, dari kalangan muslim dan non muslim (Aljazeera..com, 26/05/2025). 



GMTZ dilaksanakan pada Senin (09/06/2025) yang menempuh perjalanan panjang dari kota Al-Arish, Mesir menuju ke perbatasan Rafah, Palestina dengan jarak tempuh 50 KM. Peserta yang ikut aksi ini sangat tahu jika perjalanan kali ini tidak mudah, tapi mereka ingin membangkitkan tekanan publik global agar menghentikan genosida yang terjadi di Gaza (detik..com, 16/06/2025).



Aksi ini juga bertujuan menunjukkan kepada warga Gaza, bahwa tidak semua orang diam atas genosida yang terjadi dan tidak semua orang mendukung perbuatan keji Israel dalam perebutan wilayah dan kekuasaan di negeri para Nabi itu. Aksi GMTZ ini tak hanya sekedar aksi, tapi juga membawa misi kemanusiaan, bantuan pangan serta obat-obatan.


 

Dalam aksi ini, setidaknya memuat 4 tuntutan. Pertama, pembukaan akses bantuan kemanusiaan ke Gaza tanpa syarat. Kedua, penghentian seluruh bentuk agresi militer dan genosida oleh Israel. Ketiga, penarikan penuh pasukan militer Israel dari wilayah Gaza. Keempat, penghentian praktik penjajahan terhadap Palestina (tempo..co, 20/06/2025).



Aksi GMTZ akhirnya tertahan di Mesir sebelum mereka sampai di Palestina. Sama seperti aksi kemanusiaan melalui jalur laut oleh kapal Freedom Flotilla Madleen yang berhasil dicegat oleh pasukan Israel pada 01 Juni lalu, aksi ini juga tertahan, tapi bukan karena pasukan Israel melainkan karena Mesir menutup akses jalan menuju Rafah.



Dengan dalih stabilitas nasional dan keamanan wilayah, Mesir menutup jalan sehingga membuat harapan dan juga semangat membara untuk menemui kaum muslimin di Gaza dari para aktivis akhirnya tertahan. Bahkan, video viral yang beredar di jagat dunia maya (republikaonline, 14/06/2025), menunjukkan bagaimana seorang tenaga medis non muslim yang memaksa masuk wilayah Gaza dengan meminta kebaikan hati para tentara di perbatasan Mesir agar membukakan jalan bagi mereka untuk menolong kaum muslimin yang sudah dipenjara oleh tembok-tembok tinggi, bahkan dirudal tanpa, hingga semua akses bantuan pangan juga obat-obatan untuk masuk ke wilayah Gaza juga ditahan.



Global March to Gaza menunjukkan betapa masih ada kepedulian dan kerinduan akan kedamaian di tanah Para Nabi itu. Bahkan, aksi ini juga menunjukkan betapa kemarahan masyarakat global yang membumbung tinggi dibanding hati nurani para penguasa yang diam saja karena hubungan diplomatik pada Israel dan sekutu di belakangnya.

Selain, jalur aksi melalui darat dan laut, jalur hukum Internasional juga pernah ditempuh untuk menyelesaikan masalah genosida. Namun lagi-lagi, tak ada hasil yang didapati. Hanya menambah emosi dan semakin membuka wajah penguasa yang tersulut dengan tahta duniawi. Sudah tidak ada harapan lagi untuk berharap kepada penguasa kaum muslimin, juga pada lembaga kemanusiaan dan peradilan internasional sekalipun, karena hipokritnya hukum dan HAM yang diterapkan untuk kaum muslim.


GMTZ menunjukkan kemarahan masyarakat global akan diamnya para penguasa hari ini, termasuk Mesir yang menjadi pintu bagi warga Gaza. Namun, demi menjaga stabilitas nasional dan keamanan wilayah sendiri, Mesir memutuskan untuk menutup jalur Rafah dan tidak hanya sampai di situ saja, puluhan aktivis GMTA juga ditangkap dan dideportasi dari Mesir dengan alasan tata administrasi yang tidak lengkap. Padahal, para aktivis sudah menyiapkan diri dan dokumen-dokumen perjalanan seperti Visa agar mudah untuk bepergian ke wilayah lain.


Hal ini semakin membuktikan betapa nasionalisme menjadi sekat pemisah antar kaum muslimin di seluruh dunia. Padahal, kaum kafir saja rela berdemo dan melakukan aksi protes besar-besaran terhadap Israel dan sekutu yang menyokongnya karena alasan kemanusiaan.



Jika karena agama dan akidah yang sama saja tidak bisa menggerakkan hati para penguasa muslim dan cenderung diam bahkan abai, tidakkah dengan rasa kemanusiaan itu bisa menggerakkan militer untuk memerangi Israel walaupun harus merelakan kekuasaan dan wilayahnya sendiri karena sekutu Israel tidak akan tinggal diam, pasti akan menolong Israel seperti yang dilakukan oleh Iran, walaupun lagi-lagi Iran menyerang Israel karena membalas serangan Israel. Menariknya, hal ini justru menjadi kabar bahagia menyaksikan balasan bom dan rudal yang tidak seberapa. Artinya, kaum muslimin sebenarnya bisa menyerang Israel bahkan sekutunya baik sendirian atau berjamaah dan sudah seharusnya kaum muslim bersatu padu membentuk jamaah perang untuk membebaskan Gaza dari genosida.



Global March to Gaza memang tidak akan mampu mengakhiri genosixa di Gaza, tapi ini menunjukkan jika masyarakat global peduli terhadap Gaza dan ingin menghentikan genosida tanpa tepi itu. Jika GMTZ saja bisa menyatukan masyarakat global, maka bukan tidak mungkin kaum muslimin di seluruh dunia bersatu pula. Karena pada hakikatnya kaum muslimin itu satu tubuh seperti sabda Rasulullah Saw. yang artinya : “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586).



Juga pada hadits lainnya, “Permisalan seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari no. 6026 dan Muslim no. 2585).



Maka, inilah momentum untuk bersatu di bawah kepemimpinan global satu kepemimpinan muslim yakni khalifah dalam daulah Islam. Dengan bersatunya kaum muslim dalam daulah, maka mudah saja untuk melakukan jihad memerangi Israel dan sekutunya. Tak hanya genosida di Gaza bisa dihentikan, tapi juga kemakmuran seluruh muslim yang ada di muka bumi juga ikut terlaksana. Dan tak hanya bagi kaum muslim saja, tapi seluruh umat manusia yang ingin hidup di bawah naungan daulah akan terjamin hak-haknya.



Hal ini sudah lama dicontohkan oleh manusia terbaik sepanjang masa yang Allah hadirkan di negeri tandus pandang pasir dan jahiliyah. Rasulullah Muhammad Saw. telah memberikan teladan dan contoh sempurna bagaimana memerangi kaum kafir dan Yahudi agar tunduk di bawah aturan Allah Swt. Rasul mencontohkan praktik kepemimpinan idealnya melalui sistem pemerintahan Khilafah. Yang mana di bawah sistem ini, dakwah dan jihad menjadi politik luar negerinya. Sehingga, wilayah-wilayah yang memerangi Islam akan ditaklukkan pula dengan perperangan. 



Perang Tabuk menjadi salah satu contoh bagaimana kekuatan Khilafah mampu memporak-porandakan perasaan pasukan Romawi yang ingin memerangi kaum muslim. Namun, sebelum Rasulullah dan para sahabat memerangi mereka, pasukan Romawi memilih mundur dan kembali ke wilayah mereka untuk berlindung dari balik benteng-benteng kokoh.



Demikianlah kejumawaan kaum muslimin bisa diraih jika bersatu di bawah naungan daulah Islam, maka sudah saatnya bagi kaum muslimin untuk bergerak karena ideologi Islam sehingga punya visi pembebasan yang sama, tak hanya sekedar rencana tanpa solusi tuntas dan dipatahkan oleh realita hegemoni kekuasaan ideologi kapitalisme. Karena Israel tidak mengerti gencatan senjata atau pun bahasa perdamaian, yang justru pantas mereka dapatkan ialah perperangan untuk menunjukkan betapa lemah dan tak berdayanya mereka tanpa pertolongan dari Allah Swt.



Wallahu'alam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update