Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sekat Nasionalisme Benteng Yang Sesungguhnya menuju Gaza

Friday, June 20, 2025 | Friday, June 20, 2025 WIB Last Updated 2025-06-20T08:15:37Z
Sekat Nasionalisme Benteng Yang Sesungguhnya menuju Gaza


Oleh Imas Aslamia


Munculnya gerakan Global March To Gaza (GMTA) belakangan ini menjadi topik hangat yang menyita perhatian publik, tak hanya di Indonesia tetapi juga secara global. Gerakan ini merupakan aksi damai yang bertujuan menyuarakan dukungan terhadap kebebasan rakyat Palestina dari tekanan dan kekerasan yang dilakukan oleh Israel.


Aksi ini menujukkan bentuk respons atas sikap diamnya komunitas internasional dan menjadi seruan untuk pembebasan Palestina sekaligus mengisyaratkan bahwa tidak bisa berharap kepada lembaga-lembaga internasional dan para penguasa hari ini.


Gerakan Global March to Gaza merupakan aksi jalan kaki kurang lebih 50 kilometer yang dimulai dari Al-Arish menuju Gerbang Raffah.


Konvoi ini melibatkan ribuan orang dari berbagai negara, diantaranya

dari Tunisia, Libya, Maroko, Amerika, Eropa, Asia, termasuk Indonesia. Mereka juga berasal dari agama yang berlainan dengan latar belakang status sosial yang berbeda-beda ada yang dari pensiunan, perawat, jurnalis, dokter, pegiat HAM,termasuk sejumlah tokoh publik hingga anak muda biasa yang ingin berbuat sesuatu yang lebih dari kata-kata, mereka tak tahan lagi melihat berita dari Gaza. 


Gelombang nurani kemanusiaanlah yang menuntun langkah mereka menuju gerbang Raffah, mereka mengorbankan hartanya, waktunya dan tenaganya atas nama kemanusiaan. Ketika seluruh peserta tiba di Gerbang Raffah untuk menyerukan dibukanya akses kemanusiaan ke Gaza.  Pemerintah Mesir secara terbuka menentang blokade Israel di Gaza bahkan dikabarkan ada ratusan orang yang ditangkap dan ditahan pemerintahan setempat 


Pemerintah Mesir juga dilaporkan mendeportasi puluhan aktivis yang berencana mengikuti konvoi kemanusiaan dengan tujuan melawan blokade Israel di Jalur Gaza. Bahkan tersiar  sebuah vidio ketika seorang Dokter dari non muslim yang memohon-mohon kepada tentara Muslim agar di izinkan masuk ke ke pintu Raffah, agar mereka membuka hatinurani mereka untuk menolong saudara semuslimnya, namun sekeras apapun permohonan itu sepertinya tidak membuat hati para tentara ini luluh.


Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan peserta Global March to Gaza harus mengantongi izin terlebih dulu. Pihak kementerian juga mengaku menerima "banyak sekali permintaan" akses menuju perbatasan Mesir-Gaza.


"Mesir berhak melakukan tindakan yang diperlukan untuk menjaga keamanan nasional, termasuk meregulasi keluar-masuk dan pergerakan individu di wilayahnya, khususnya di daerah perbatasan yang sensitif," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Mesir dikutip dari Associated Press,


Sudah banyak aksi-aksi yang dilakukan untuk membela palestina mulai dari kecaman, kutukan, pemboykotan, donasi bahkan sampai pada aksi Global To Gaza namun semua itu tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan.

Tertahannya mereka di pintu Raffah justru makin menunjukkan bahwa gerakan kemanusiaan apapun tidak akan pernah bisa menyolusi masalah Gaza karena ada pintu penghalang terbesar yang berhasil dibangun penjajah di negeri-negeri kaum muslimin, yakni nasionalisme dan konsep negara bangsa. 


Paham inilah yang telah menjadikan hati nurani para penguasa muslim dan tentara mereka mati yang membuat mereka tidak lagi bisa melihat yang mana lawan dan yang mana kawan hingga rela membiarkan saudaranya dibantai di hadapan mata bahkan ikut menjaga kepentingan pembantai hanya demi meraih keridaan negara adidaya yang menjadi tumpuan kekuasaan mereka yakni Amerika. 


Umat Islam harus paham betapa bahayanya paham nasionalisme dan konsep negara bangsa, dilihat dari sisi pemikiran maupun sejarahnya. Keduanya justru digunakan musuh-musuh Islam untuk meruntuhkan khilafah dan melanggengkan penjajahan di negeri-negeri islam. 


Umat Islam juga harus paham bahwa arah pergerakan mereka untuk menyolusi konflik Palestina harus bersifat politik, yakni fokus membongkar sekat negara bangsa dan mewujudkan satu kepemimpinan politik Islam di dunia.


Untuk itu urgen untuk mendukung dan bergabung dengan gerakan politik ideologis yang berjuang tanpa kenal sekat dan terbukti konsisten memperjuangkan tegaknya kepemimpinan politik Islam tersebut di berbagai tempat.


Hanya kepemimpinan umat yang satu dan mendunia yang bisa membebaskan genosida di Palestina dan dinegri-negri kaum muslim lainnya, untuk itu sangat urgent juga untuk merealisasikan kepemimpinan tersebut tidak lain hanyalah Sistem kepemimpinan Islam (khilafah) dimana pemimpin akan berfungsi sebagai Ra'in (pengurus)dan Junah (pelindung) bagi masyarakatnya.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update