Oleh D Budiarti Saputri
Tenaga Kesehatan
Kunjungan Presiden Prancis, Emmanuel Macron beberapa waktu lalu memang sudah selesai. Tetapi, beritanya masih menjadi kabar hangat di beberapa media massa, termasuk terkait kunjungannya ke candi Borobudur.
Kedatangan Macron yang menghasilkan kerja sama dalam bisnis sapi dan sawit ini, mendapatkan sambutan hangat dari Presiden Prabowo Subianto. Prabowo menganggap bahwa kunjungan Macron sebagai kehormatan besar bagi Indonesia. Dikutip dari kompas.com (28/5/2025)
Di sisi lain Prancis adalah salah satu negara barat yang melegalkan Islamophobia. Menurut Alain Gabon, pakar Islam dari Universitas George Town, selama masa jabatannya, Emmanuel Macron serta berbagai pemerintahannya secara konsisten berupaya membawa Islamofobia negara dan masyarakat ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut Julien Talpin, seorang peneliti ilmu politik di Pusat Penelitian Ilmiah Nasional (CNRS),
Kepemimpinan Presiden Emmanuel Macron merupakan masa yang “suram” bagi Muslim Prancis – dengan penerapan undang-undang separatisme pada musim panas 2021 yang sangat penting. Meskipun pemerintah Prancis sendiri mengatakan Undang-Undang itu untuk memperkuat sistem sekuler, tetapi yang jelas banyak terdampak dengan undang-undang ini adalah kebebasan umat Islam di sana untuk menjalankan ibadah mereka. Dikutip dari Sindonews.com (13/3/2024)
Sambutan hangat dan meriah atas kedatangan kepala negara Perancis ini jelas melukai hati umat Islam. Seperti yang diketahui bahwa Prancis adalah negara nomor satu yang melegalkan Islamophobia atau kebencian terhadap Islam. Kaum muslimin tidak boleh lupa akan negara-negara yang membuat kebijakan yang memusuhi Islam dan umatnya. Perancis adalah contoh negara yang sering membuat kebijakan yang menguatkan islamophobia, seperti pelarangan hijab, kasus kartun yang menghina Nabi saw., dll.
Sikap tegas dan menunjukkan pembelaan atas kemuliaan agama seharusnya ditunjukkan oleh pemimpin negeri muslim, terlebih sebagai negara dengan umat Islam yang jumlahnya mayoritas. Namun dalam sistem sekuler kapitalisme, dimana hubungan negara dilihat berdasarkan manfaat, maka pemerintah abai atas sikap suatu negara terjadap Islam. Mereka tidak lagi memedulikan bagaimana orang tersebut bersikap pada Islam dan umatnya. Yang mereka pikirkan apakah kerja sama tersebut memberikan manfaat atau tidak.
Islam memberikan tuntunan bagaimana bersikap terhadap orang yang memusuhi agama Allah. Apalagi jika banyak kebijakan yang menyengsarakan umat Islam. Dalam Islam, negara-negara di dunia hanya dibagi dua, yaitu Darul Islam dan Darul Kufur. Islam juga sudah menentukan tuntunan bersikap terhadap negara kafir sesuai posisi negara tersebut terhadap Daulah Islam. Negara seperti Amerika, Inggris, dan Prancis, nyata-nyata ada dalam posisi sebagai negara kufur muhariban fi’lan telah memerangi kaum muslim baik secara langsung maupun tidak langsung. Seperti secara terang-terangan membantu pembantaian muslim Gaza oleh entitas Zionis. Itulah sebabnya, dalam konteks negara Islam yang menerapkan Islam kaffah, tidak mungkin dibangun adanya kerja sama, apalagi menjalin hubungan mesra, karena itu berarti melakukan pengkhianatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan kaum muslim khususnya yang sedang tertindas.
Pemimpin umat Islam tidak mungkin mau berjabat tangan dan bermanis muka pada para pemimpin yang tangannya berlumuran darah umat Islam. Mereka justru akan terdepan membela umat Islam yang diperangi karena agama, hingga kemuliaan kembali ke tangan umat Islam. Tuntunan Islam ini seharusnya menjadi pedoman setiap muslim, terlebih penguasa. Apalagi di tengah penjajahan Palestina yang mendapat dukungan dari penguasa barat.
Umat Islam seharusnya memiliki negara yang kuat dan berpengaruh dalam konstelasi hubungan negara-negara di dunia sebagaimana pernah diraih oleh Negara Islam. Umat harus berjuang kembali untuk mewujudlkan negara Islam yang menerapkan Islam kaffah, dimana negara inilah yang menjadi negara adidaya dan disegani oleh negara kafir. Sehingga mampu menjadi perisai untuk umat, melindungi akidah, nyawa harta dan kehormatan Islam di seluruh dunia. Wallahualam bissawab.

No comments:
Post a Comment