Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Refleksi Meneladani Ketaataan Nabi Ibrahim as di Masa Kini

Saturday, June 14, 2025 | Saturday, June 14, 2025 WIB Last Updated 2025-06-14T06:11:09Z
#opini, #nusantaranews,#opininusantaranews

Sari Setiawati

  

Saat hari Idul Adha  langit semesta dan bumi bergemuruh dengan kalimat takbir dan di Tanah Suci jutaan jemaah haji menunaikan ibadah agung dan menggemakan zikir, doa serta kalimat talbiyah berisi pujian keagungan Allah Swt sekaligus rintihan kerinduan akan rahmat dan ampunanNya. Inilah Yawm an-Nahar. Hari Raya Kurban, salah satu dari dua hari terbaik untuk semua insan yang beriman. Hari Raya Kurban nan agung, kita selalu diingatkan dengan keteladanan Nabi Ibrahim as. dan keluarganya. Beliau adalah sosok hamba Allah yang menghabiskan seluruh hidupnya dalam perjuangan di jalan-Nya. Menegakkan kalimat tauhid secara nyata serta menentang keyakinan dan pemahaman batil kaumnya.


Bahkan Nabi Ibrahim as. sanggup berhadapan dengan penguasa kufur dan zalim. Ia menyampaikan dakwah tauhid ini secara terbuka dan terangan-terangan. Padahal risiko yang ia hadapi amatlah besar. Selain itu Nabi Ibrahim as.beserta keluarganya memberikan keteladanan dan ketaatan pada Allah tanpa keraguan sedikit pun.


Betapa tidak ketika Allah SWT memerintahkan dirinya untuk meninggalkan sanak-keluarganya di negeri yang kering dan tandus, maka perintah itu ia laksanakan tanpa kebimbangan. Dan puncak ketaatan dan pengorbanan Nabi Ibrahim as. adalah ketika Allah SWT memerintahkan penyembelihan putra tercintanya, Ismail as. Namun, dengan keyakinan dan keikhlasan, Nabi Ibrahim as. dan Ismail as. melaksanakan perintah Allah tersebut tanpa sedikit pun kebimbangan. Karena itu Allah pun membalas pengorbanan mereka dengan penuh penghargaan. 


Sebab itu, lantas apa alasan yang akan disampaikan seorang Muslim kelak dihadapan Allah SWT di akhirat saat dirinya membatasi ketaatan hanya pada ibadah ritual atau mahdhah seperti (sholat, zakat dan puasa) dan aspek akhlak saja? Atau hanya dalam urusan muamalah saja?. Namun pada saat yang sama menolak untuk menaati hukum-hukum Allah yang lain?. Ia menolak syariah Allah dalam bidang ekonomi, politik, hukum, pemerintahan, jihad dll?. 


Mengapa kaum Muslim begitu sempurna melaksanakan hukum pengurusan jenazah, misalnya, tetapi berani mengabaikan aturan Islam dalam kehidupan?. Seolah-olah aturan agama ini ditujukan hanya untuk mengurus orang mati saja. Padahal masih banyak syariat-syariat Islam yang diabaikan.


Bahwasannya ketaatan kepada Allah jelas membutuhkan pengorbanan. Hal itu dilakukan semata-mata demi kemuliaan Islam, persis seperti yang dilakukan oleh Nabiyullah Ibrahim as yang menjalankan ketakwaan secara totalitas danmenyeluruh dalam setiap aspek kehidupan. Namun tak ayal diri ini enggan berjuang dan berkorban saat dirasa akan merugikan harta, kedudukan atau keluarga. Sungguh ironis, padahal kita mengklaim cinta pada agama, tetapi enggan berjuang dan berkorban dengan pengorbanan terbaik dan terbesar untuk kemuliaan Islam. 


Disatu sisi ada orang yang mau berjuang dan berkorban untuk ibadah, tetapi enggan berjuang dan berkorban demi penerapan aturan Islam secara kaffah, padahal itu adalah kewajiban umat Muslim secara keseluruhan. Akibat ketiadaan penerapan aturan Islam dalam institusi negara yang dicontohkan oleh Rasulullah saw ketika d Madinah, yang dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dan pemimpin- pemimpin kaum muslimin berikutnya selama belasan abad, umat merasakan derita luar biasa. Kejahatan merajalela, premanisme berkuasa, korupsi makin makin menggila, dan sumberdaya alam dikuasai oleh pihak swasta dan asing secara semena-mena.


WalLahu A'lam bhiswwab

#opini, #nusantaranews,#opininusantaranews

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update