Oleh Lilis Komunitas Ibu Peduli Generasi
Permasalahan hidup manusia, sebenarnya itu tidak pernah berhenti. Karena selama kita masih bernapas, Allah Swt akan senantiasa memberi berbagai ujian. Di mana setiap ujian, mungkin bentuknya saja yang sedikit berbeda di setiap insan. Namun semua itu lahir dari potensi yang sama dari kehidupan. Yaitu, terkait dengan kebutuhan hidup dan naluri bisa disebut istilah hajatul u'dhowiyah dan gorijah.
Oleh karena itu, Allah Swt adalah Dzat Yang Maha Tahu. Apapun masalahnya, sudah ada jalan dan memberikan, panduan bagi umat manusia agar mereka bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahannya. Dengan meraih kemenangan, baik di dunia maupun di akhirat. Itulah kehidupan.
Solusi dari setiap masalah tiada lain adalah Islam. Karena Islam adalah sebagai Way Of Life. Pandangan hidup, atau istilah mabda ideologi. Inilah yang akan membuat kita tahu, bagaimana kita harus bersikap, berpikir menyelesaikan problem-problem kehidupan yang kita hadapi saat ini.
Tapi mungkin juga yah! Dalam tataran kadarnya pemahaman atau kesadaran terhadap Ideologi inilah yang menentukan bagaimana orang menyikapi permasalahannya, dan kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan ini. Ini yang akan membedakan nanti, penampakkan seseorang diberikan oleh Allah Swt ujian.
Mudah-mudahan itu, kita ini termasuk sudah mendapatkan hidayah dari Allah Swt dengan berkomitmen menjadikan Islam sebagai Way Of Life sebagai idiologi, menjadikan Islam sebagai kaedah landasan berpikir, berbuat, menyelesaikan permasalahan. Islam juga bisa sebagai qiyadah pikriyah, dan ingin menjadikan Islam itu sebagai pemimpin, bukan hanya sekedar pemimpin diri kita, tapi yang memimpin kehidupan dunia ini adalah Islam.
Yang namanya manusia itu tidak lepas dari ujian. Masalah adalah sudah sunattullah, berarti sunattullah itu sudah ketetapan Allah Swt. Menetapkan bahwa manusia itu akan diuji sampai mati. Kalau ingin tidak ada ujian, ya mati. Tetapi bukan berarti selesai masalah. Karena beda lagi masalah di kehidupan akhirat itu ujian kehidupan dunia sudah selesai. Tapi mempertanggungjawaban terhadap ujian yang sudah dilewati di dunia.
Apakah manusia menyikapi ujian hidup dengan benar atau salah? Di balik ujian tersebut, terdapat konsekuensi yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Ketika kematian tiba, mulut akan terkunci, sementara tangan, mata, kaki, dan anggota tubuh lainnya akan diminta pertanggungjawabannya atas segala perbuatan yang telah dilakukan.
Yang membuat kita tidak boleh kalah dengan masalah di dunia ini adalah kesadaran bahwa ujian di dunia ini akan berakhir dengan kematian. Namun, kematian bukanlah akhir dari masalah, melainkan awal dari pertanggungjawaban di hadapan Allah. Allah telah menetapkan bahwa kehidupan akhirat memiliki dua kemungkinan: Neraka atau Surga. Surga dan Neraka adalah janji Allah, dan janji Allah pasti akan terjadi. Allah telah memberikan gambaran yang sangat jelas tentang Neraka, sehingga kita dapat memahami betapa seriusnya konsekuensi di akhirat nanti. Allah menurunkan Wahyu untuk untuk mengenalkan Islam. Rasullullah saw, ketika berdakwah kepada ummat
Allah sengaja memaparkan hukum-hukum, dalil-dalil, dan akidah terkait keimanan, termasuk hakikat kehidupan dunia dan akhirat, pertanggungjawaban, serta konsekuensi atas perbuatan buruk di dunia dan dampaknya di akhirat. Semua ini dimaksudkan agar manusia memahami dengan jelas konsekuensi dari pilihan.
Allah memberikan gambaran yang jelas tentang Surga dan Neraka melalui ayat-ayat Makiyah yang pertama kali diturunkan. Rasulullah juga memberikan penjelasan yang rinci kepada para sahabat tentang hal ini, sehingga mereka memiliki keyakinan yang kuat yang disebut Tasdikul Jazm, yaitu keyakinan tanpa keraguan sedikit pun. Dengan keyakinan yang kokoh ini, para sahabat mampu menjadi manusia yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia
Rasulullah memberikan perbandingan yang sangat jelas antara kehidupan dunia dan akhirat. Beliau bersabda bahwa kehidupan dunia seperti setetes air yang menempel di ujung jari yang telah dicelupkan ke dalam laut, sedangkan kehidupan akhirat adalah seperti luasnya lautan itu sendiri. Ini menggambarkan betapa kecil dan sementara kehidupan dunia dibandingkan dengan kekekalan dan keagungan kehidupan akhirat.
Banyak manusia yang ketika dihadapkan pada ujian dunia yang sebenarnya ringan, justru tidak mampu menghadapinya dengan baik. Sebagaimana apa yang dialami pasangan suami istri yang lebih memilih untuk mengakhiri hidup. Karena terjebak judol. Ada juga lansia yang mengambil jalan pintas dengan bunuh diri karena merasa tidak kuat menghadapi masalah. Ujian dunia memang terasa berat bagi manusia, tetapi bagi orang beriman, ujian tersebut relatif kecil dibandingkan dengan pertanggungjawaban yang akan dihadapi di akhirat kelak.
Maka, di dalam Qs Al-Asr bahwa tidak cukup kita itu beriman, beramal saleh. Tetapi kita harus mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran (TQS Al-Ashr ayat 3). Mengajak semua muslim untuk tetap Istiqomah didalamnya. Hak adalah kebenaran, dan panceg di dalam kesabaran. Bersyukur pemahaman yang sudah diluruskan, kuatkan keimanan beramal sholeh.
Jangan takut jika kita telah berjanji untuk memperjuangkan Islam. Insya Allah, kita akan diuji oleh Allah. Allah berfirman bahwa janganlah kita mengklaim diri beriman sebelum kita diuji. Ujian adalah tanda kepercayaan Allah kepada kita. Semakin besar ujian, semakin besar pula kepercayaan Allah kepada kita. Kita harus percaya bahwa Allah akan selalu dekat dengan kita jika kita dekat dengan-Nya. Kunci untuk menghadapi ujian adalah bersabar dan menguatkan iman melalui ilmu dan pendekatan kepada Allah. Jangan pernah berputus asa, karena dengan iman yang kuat, kita akan mampu melewati segala tantangan.
Karena, hidup di akhirat, ditentukan oleh hidup kita, oleh hidup di akhir dunia, kita harus punya iman dan ilmu itu mengantarkan kepada amalnya. Intinya kunci dari semua itu, kita harus punya Iman, ilmu.
Maka tujuan kita itu kembali kepada Allah. Benar-benar Islam itu poros hidup. Percayalah jangan putus asa dari Rahmat Allah Swt.
Wallahua'lam bishawab.
No comments:
Post a Comment