Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ironi Haji dan Pelayan Dua Kota Suci

Sunday, June 22, 2025 | Sunday, June 22, 2025 WIB Last Updated 2025-06-22T08:13:46Z
Ironi Haji dan Pelayan Dua Kota Suci


Oleh: Rahmawati Ayu Kartini 

(Pemerhati Sosial)


Bagaimana perasaan Anda ketika sudah sampai di bandara tanah suci untuk berhaji dengan pakaian ihram, namun ditolak masuk dan disuruh kembali ke negara asalnya? Atau sudah membayar seratus juta rupiah lebih untuk haji, namun dianggap ilegal bahkan menemui ajal di tanah suci? Kisah-kisah sedih ini dialami oleh jamaah haji Indonesia tahun ini. Bahkan ada yang sudah membayar hampir 1 Miliar pun tidak bisa berangkat, karena haji Furoda yang tidak diterbitkan visa hajinya oleh pemerintah Arab Saudi. 


Banyak yang menyayangkan sikap pemerintah yang slow respon dalam persoalan haji tahun ini. Carut marut pengelolaan haji tahun ini, sungguh memprihatinkan. Karena biaya haji Indonesia termasuk tinggi untuk reguler, namun tidak mendapatkan layanan yang layak. Viral juga di sosmed, tenda para jamaah haji yang lebih mirip dengan kandang kambing karena sempit dan berdesakannya para jamaah yang bercampur antara laki-laki dan perempuan. Tanggung jawab siapa atas semua ini?


*Haji ibadah yang agung*


Ibadah haji adalah perintah langsung dari Allah kepada umat Islam yang mampu, sebagaimana firman-Nya:

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. (QS. Ali Imran ayat 97)


Ibadah yang agung ini sungguh luar biasa pengorbanannya, karena membutuhkan dana yang tidak sedikit serta kekuatan fisik. Karena itu Allah memberikan balasan surga bagi mereka yang hajinya diterima (haji mabrur). Bahkan saking besarnya balasan kebaikan untuk ibadah agung ini, disebut dapat menghilangkan kemiskinan. Sebagaimana hadits berikut ini:


Sertakan umrah kepada haji, karena keduanya dapat menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran dapat menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. (HR. An Nasai)


Namun sayangnya, pengelolaan haji di negeri mayoritas muslim terbesar ini, sungguh ironis. Sudah pengalaman menangani haji selama puluhan tahun mestinya menjadi evaluasi dari berbagai masalah yang terjadi, bukannya semakin baik justru masalah makin bertambah.


Sudah menjadi rahasia umum, negara ini memang terkenal dengan korupsinya di 'lahan-lahan yang basah.' Menteri Agama sebelumnya, Yaqut Cholil Qoumas diduga menyalahgunakan wewenang terkait pengalihan kuota haji reguler ke haji khusus sebesar 50 persen secara sepihak. Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Laode Muhammad Syarif mengatakan penyakit korupsi di Indonesia sudah akut. Yang membuat miris, korupsi sudah masuk ruang yang dekat dengan agama. Dana zakat, haji, masjid, dan Al-Qur'an pun dikorupsi. (tempo.co, 26/11/2016)


Mengapa orang yang mengurus bidang keagamaan bisa korupsi? Karena di negara ini ada kesempatan dalam kesempitan. Artinya, sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan mendukung terciptanya atmosfer tersebut.


Seorang yang berkecimpung dalam bidang agama, karena berpikir kapitalis, kepuasan materi-lah yang akan dicari. Ridho Allah nanti-nanti.. Hidupnya untuk kesenangan duniawi.


Inilah akibat budaya sekuler. Jika agama hanya dianggap urusan pribadi, dalam kehidupannya manusia akan menjadi bebas nilai. Baik itu disebut kyai, ustadz, menteri agama, jika Islam hanya sebatas dianggap urusan pribadi, maka tak ada bedanya ia dengan orang lain yang tak berilmu. Bahkan bisa jadi lebih parah kejahatan yang dilakukannya.


Karena itulah mereka tega memanfaatkan jabatan demi kesenangan. Inilah mental yang dibentuk oleh sistem kapitalisme.


*Ironi pelayan dua kota suci*


Ibadah haji adalah simbol persatuan umat, karena disana umat Islam dipersatukan tanpa memandang perbedaan ras, bahasa, atau status sosial. Namun sayang, semangat persatuan yang dibawa biasanya akan luntur jika mereka kembali ke negara masing-masing. Mereka pun kembali terpecah dalam sekat-sekat nasionalisme dan negara bangsa.


Padahal ibadah haji seharusnya menjadi momentum untuk bersatu dan menunjukkan kepedulian pada sesama muslim khususnya di Palestina. Karena umat Islam itu bersaudara. 


Derita yang dialami Palestina, adalah derita yang harus dirasakan oleh setiap umat Islam. Pemerintah Arab Saudi sebagai pelayan dua kota suci (Makkah dan Madinah), mestinya menjadikan ibadah haji sebagai platform untuk menggalang dukungan dan solidaritas umat Islam sedunia untuk Palestina.


Inilah yang dahulu dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Beliau pernah memerangi dan mengusir kaum Yahudi Bani Qainuqa' karena telah membunuh seorang pedagang muslim yang membela kehormatan seorang wanita muslimah yang dilecehkan oleh pedagang Yahudi.


Mestinya hal itu juga dilakukan pemerintah Arab Saudi untuk membela Palestina. Karena jangankan puluhan ribu nyawa muslim melayang, nyawa satu orang muslim saja begitu berharga dalam Islam. Sebagaimana hadits berikut ini:


Kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan pembunuhan seorang muslim. (HR. An Nasai)


Yang lebih menyakitkan, bukannya menjadi pelayan dua kota suci, pemerintah Arab Saudi pun ternyata menjadi 'pelayan' Amerika Serikat (AS). Baru-baru ini penguasa Saudi menyambut hangat Presiden AS Donald Trump yang datang ke negerinya pada Mei 2025 lalu. Padahal AS adalah penyokong utama zionis Israel yang menjajah Palestina!


Tidak hanya disambut dengan manis, Donald Trump juga dibawai 'oleh-oleh' berupa kesediaan Saudi untuk membeli persenjataan dari AS senilai USD 142 miliar (sekitar Rp. 2354 Triliun). Ini adalah bagian dari komitmen Saudi untuk investasi di AS sebesar USD 600 miliar (sekitar Rp.9756 Triliun) untuk kecerdasan buatan (AI), infrastruktur, teknologi kesehatan dan kerjasama pertahanan.


Sangat ironis! Uang besar itu bukannya mengalir ke Palestina untuk membiayai jihad melawan Israel, justru mengalir pada musuh utama umat Islam. Ini adalah pengkhianatan terhadap umat Islam!


Padahal jihad jauh lebih utama daripada sekedar menjadi pelayan dua kota suci. Hal ini secara tegas dinyatakan oleh Allah SWT:


Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim." (QS. At-Taubah: 19) 


Menurut Ibnu Asyur, ayat ini ditujukan pada kaum muslimin yang enggan berhijrah dan berjihad karena merasa cukup dengan melayani jamaah haji dan membangun Masjidil Haram. Ini menunjukkan bahwa jihad lebih utama daripada melayani jamaah haji dan membangun Masjidil Haram. Maka sudah seharusnya penguasa Arab Saudi mengirimkan tentara ke Palestina untuk mengusir penjajah Israel. Bukan hanya menjadi penonton dan pengecam saja.


Karena itu, sudah saatnya umat Islam menjadikan ibadah haji sebagai momentum persatuan ideologis, persatuan umat atas dasar keimanan dan aqidah. Persatuan hakiki ini hanya bisa terwujud jika ada entitas global umat Islam. Itulah Kekhilafahan Islam yang telah diisyaratkan oleh Rasulullah Saw.


Wallahu a'lam bishowab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update