Penulis :Nanih Nurjanah
Dari Komunitas Muslimah Coblong
Gerakan Global March to Gaza yang sedang berlangsung dari Al-Arish menuju Gerbang Rafah menjadi sorotan dunia internasional sebagai bentuk estafet nurani kolektif yang menolak diam atas krisis kemanusiaan di Palestina.
Konvoi ini melibatkan ribuan orang dari berbagai negara. Mereka hadir bukan sebagai perwakilan diplomatik resmi, melainkan sebagai representasi moral dan kemanusiaan.
Ribuan orang mewakili lintas etnis dan benua berhimpun, memulai langkah bersama dari Al-Arish menuju Gerbang Rafah. Mereka bukanlah diplomat. Tak ada mandat resmi dari negara. Yang mereka genggam dan bawa yaitu keyakinan bahwa isu kemanusiaan di Palestina tak bisa terus ditunda.
Mereka datang dari Tunisia, Libya, Maroko, Amerika, Eropa, Asia, termasuk Indonesia. Mereka berlatar belakang pensiunan, perawat, jurnalis, dokter, pegiat HAM, hingga anak muda biasa yang ingin berbuat sesuatu yang lebih dari kata-kata, mereka tak tahan lagi melihat berita dari Gaza. Gelombang nuranilah yang menuntun langkah mereka.
Biasanya Jatuh Sendiri, Kini 2 Pesawat Siluman F 35 Sekaligus Tersungkur dan Hancur Dibom Iran
Chairman Aliansi Kemanusiaan Indonesia (Aksi) Ali Amril menyebut aksi ini sebagai "diplomasi jalanan" yang menandai pergeseran cara dunia merespons tragedi kemanusiaan.
"Ini adalah bentuk diplomasi tanpa podium, tanpa protokol, dan tanpa basa-basi. Gerbang Rafah mungkin dikunci, tapi nurani dunia tidak bisa dibungkam," ujarnya dalam pernyataan, Sabtu (14/6/2025).
Iran Berhasil Jatuhkan 2 Pesawat Siluman F-35, Israel Langsung Rugi Rp2 T, ini Kehebatannya
Ali yang juga dikenal sebagai aktivis gerakan filantropi dunia Islam mengatakan gerakan ini merupakan kelanjutan dari aksi kemanusiaan sebelumnya, termasuk aksi kapal Madleen yang sempat dicegat di laut.
Chairman Aksi (Aliansi Kemanusiaan Indonesia) Ali Amril. - (Dok. Republika)
"Madleen mungkin digagalkan, tapi dentumannya membangunkan dunia. Kini, langkah-langkah kaki di Sinai mengambil tongkat estafet itu," ujarnya.
Menurut Ali, partisipasi masyarakat dunia dalam Global March to Gaza mencerminkan diplomasi baru yang lahir dari penderitaan rakyat Palestina.
"Para peserta bukan diplomat, mereka pensiunan, perawat, jurnalis, dokter, aktivis HAM, hingga anak muda biasa dari berbagai benua yang datang karena tak tahan melihat Gaza terus dibombardir," katanya.
Ia juga menyoroti keterlibatan beberapa warga negara Indonesia dalam barisan konvoi, termasuk sejumlah tokoh publik, seperti Zaskia Adya Mecca, Ratna Galih, Wanda Hamidah, Hamidah Rachmayanti, dan Indadari Mindrayanti
“Kehadiran mereka adalah pesan simbolik dari rakyat Indonesia bahwa keberpihakan terhadap Palestina bukan hanya wacana, tetapi tindakan nyata," ujarnya.
Jejak langkah mereka adalah pesan simbolik dari rakyat Indonesia, bahwa bangsa ini, sejak lama berdiri bersama Palestina. Tidak hanya dengan pernyataan, tapi juga dengan kehadiran fisik dan keberanian bersuara.
Ali menegaskan kunci yang menutup Gerbang Rafah justru menjadi pemantik suara nurani dunia. Ia mengkritik keras tindakan penahanan dan deportasi terhadap peserta konvoi oleh otoritas Mesir.
"Jika mereka yang membawa air dan obat saja diusir, lalu apalagi yang tersisa dari nilai kemanusiaan kita?" ujarnya.
Global March to Gaza, menurut Ali, merupakan tonggak penting dalam sejarah diplomasi kemanusiaan dunia. "Setelah suara dari laut, kini daratan bersuara. Ini adalah estafet diplomasi nurani global yang tidak akan berhenti," ucapnya.
Ali mengajak masyarakat dunia untuk turut serta, baik secara fisik, doa, tulisan, maupun dukungan moral. "Gaza adalah luka dunia. Dan setiap langkah menuju Rafah adalah langkah menuju pemulihan nurani bersama. Dunia sedang bergerak, meski pelan, namun pasti," ujarnya.
Setidaknya ada beberapa poin penting mutakhir yang harus jadi catatan politik dunia khususnya Umat Islam dalam persoalan Gazza dan Aksi Long March for Gaza, yang pertama, Palestina sebagai tanah terjajah selama puluhan tahun sejak berdirinya negara Zionis.
Artinya, persoalan penjajahan Palestina adalah karena berdirinya negara Zionis yang dibidani oleh Inggris dan didukung penuh oleh AS. Sehingga kelihatan besar di permukaan padahal sebenarnya rapuh.
Lihat saja ketika Iran sedang menyerang, kini Israel tampak seperti buah simalakama. Lanjut beresiko, tidak lanjut juga sama. Kedua, kondisi Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah membuka mata dunia dan tagar (all eyes on Rafah) menjadi tranding opini dunia sepanjang tahun sejak serangan tersebut.
Manusia yang punya hati nurani, pikiran, dan mampu melihat kebenaran akan membela Gaza dan mengutuk Israel. Karena faktanya Israel menyerang puluhan ribu warga sipil bukan Hamas.
Korban paling banyak adalah wanita dan anak-anak. Hingga memicu kesadaran dunia dari berbagai latar belakang agama, suku, dan negara untuk membantu Gaza dengan segala kemampuannya. Seperti pakain, obat2an, donasi uang, hingga makanan. Serta menyerukan boikot produk Israel di beberapa negara.
Ketiga, bantuan yang masuk ke Gazza diblokade oleh Israel. Dan blokade menjadi salah satu alat perang untuk semakin memasifkan agenda genosida Israel. Karena kelaparan, kehausan, hantaman cuaca menjadi faktor pendukung dalam menghabisi warga Gaza. Sebab banyak yang telah tewas kelaparan. Kondisi menyedihkan ini membuat dunia makin geram dengan Israel.
Ditambah negara-negara tetangga terdekat seperti Yordnia, Mesir, dan lainnya bisu dan dibisukan. Oleh karena itu muncul gerakan peduli Gaza untuk menunjukkan kepada Israel bahwa Gazza tidak sendiri. Gazza didukung dunia dan siap bergerak untuk memaksa Timur Tengah agar membuka perbatasan.
Keempat, diamnya negara-negara Timur Tengah adalah bukti penghianatan kepada Gaza dan umat Islam sedunia.
Kelima, berikan apresiasi dan dukungan kepada aksi ini agar terlaksana. Karena seharusnya begitulah sikap yang harus diambil. Bergerak! Melepaskan sekat-sekat nasionalisme yang sebenarnya menjadi salah satu penghambat ukhuwah Islamiyah.
Umat Islam harus paham betapa bahayanya paham nasionalisme dan konsep negara bangsa, dilihat dari sisi pemikiran maupun sejarahnya. Keduanya justru digunakan musuh-musuh Islam untuk meruntuhkan khilafah dan melanggengkan penjajahan di negeri-negeri islam.
Umat Islam juga harus paham bahwa arah pergerakan mereka untuk menyolusi konflik Palestina harus bersifat politik, yakni fokus membongkar sekat negara bangsa dan mewujudkan satu kepemimpinan politik Islam di dunia.
Untuk itu urgen untuk mendukung dan bergabung dengan gerakan politik ideologis yang berjuang tanpa kenal sekat dan terbukti konsisten memperjuangkan tegaknya kepemimpinan politik Islam tersebut di berbagai tempat.Karena solusi tuntas Palestina hanya dengan Jihad dan Khilafah.Allahu Akbar
Sumber;
Republika

No comments:
Post a Comment