Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ikan Mati Akibat Pencemaran Air di Kampung Naga, Tasikmalaya

Thursday, June 19, 2025 | Thursday, June 19, 2025 WIB Last Updated 2025-06-19T06:36:19Z
Ikan Mati Akibat Pencemaran Air di Kampung Naga, Tasikmalaya


Oleh : Nina Iryani S.Pd


Dilansir dari Radartasik.id, ikan di kolam milik warga di Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, mati di duga tercemar limbah di Sungai Ciwulan, Minggu (15/6/2025) ( Istimewa For Radartasik.id).


Pencemaran air di Sungai Ciwulan yang mengalir di kawasan Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, berpotensi menggangu kunjungan wisatawan. 


Komisi III DPRD Kabupaten Tasikmalaya pun mendorong Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya segera menemukan penyebab kematian ikan Endemik di Sungai Ciwulan yang mengalir di Kampung Naga.


Hal itu penting agar masyarakat Kampung Naga tetap merasa tenang dan aman. Tanpa adanya kecemasan yang bisa mengganggu suasana Kampung Adat yang terkenal ini.


Gumilar Akhmad Purbawisesa, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Tasikmalaya, menyatakan pentingnya segera menemukan penyebab kematian ikan-ikan di Sungai Ciwulan tersebut.


Ia menekankan perlunya penyelidikan terhadap pencemaran air di Kampung Naga, untuk mengetahui apakah ada pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah pabrik, tambang pasir atau faktor lain yang berpotensi merusak ekosistem.


Gumilar juga telah menginstruksikan agar Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Tasikmalaya segera menyampaikan masalah pencemaran sungai tersebut kepada instansi terkait , seperti Dinas Pekerjaan Umum, Tata Ruang, Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (DPUTRPRKPLH), dan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP).


Dia menambahkan Komisi III selalu proaktif dalam mendorong analisis dan upaya maksimal untuk mengidentifikasi penyebab kematian ikan endemik ini.


Pemerintah menurut Gumilar perlu segera mengungkapkan hasil penyelidikan tentang pencemaran sungai tersebut. Agar masyarakat khususnya warga Kampung Naga tidak merasa khawatir.


Kampung Naga sendiri adalah destinasi wisata adat yang telah dikenal luas. Tidak hanya oleh masyarakat Tasikmalaya dan Jawa Barat, tetapi juga oleh wisatawan dari seluruh Indonesia. Bahkan mancanegara.


Gumilar menegaskan pentingnya agar sektor pariwisata di Kampung Naga tidak terganggu akibat isu pencemaran ini. 


"Jangan sampai kunjungan wisatawan ke objek wisata Kampung Naga terjadi penurunan" ungkapnya, Rabu (18/6/2025).


Pemerintah daerah harus segera memberikan klarifikasi bahwa Kampung Naga aman.


Ineu Kapala Bidang Lingkungan Hidup DPUTRPRKPLH Kabupaten Tasikmalaya, mengungkapkan tim fungsional pengendali lingkungan telah turun ke lapangan untuk memeriksa kondisi Sungai Ciwulan di sekitar Kampung Naga.


Tim ini bertugas untuk mencari penyebab kematian ikan di sungai tersebut.


Farhan Fuadi, Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda Bidang Lingkungan Hidup DPUTRPRKPLH Kabupaten Tasikmalaya, menjelaskan saat ini tim masih berada dalam tahap awal pengujian sampel yang diambil dari lokasi. 


Sampel tersebut meliputi air yang digunakan oleh masyarakat, ikan yang mati, dan keterangan dari warga setempat mengenai dampak lingkungan di sekitar sungai.


Farhan menambahkan meskipun pengujian sampel masih dalam tahap awal ia melihat adanya penurunan jumlah ikan mati jika dibanding dengan dua minggu lalu.


"Jadi sekarang sudah mulai berkurang, ikan matinya" ujarnya. 


Hasil pengujian sampel akan diproses dan dianalisis secara menyeluruh.


Setelah itu penyebab kematian akan akan diumumkan setelah koordinasi dengan instansi terkait lainnya.


Farhan juga menyampaikan belum ada perubahan signifikan yang terlihat baik dari warna maupun bau air sungai yang diduga tercemar. Namun, jumlah ikan mati sudah mulai berkurang.


Dilansir dari kabar-singaparna.com, sebelumnya diberitakan warga Kampung Adat Naga dihebohkan oleh matinya ratusan ikan Udikan secara tiba-tiba di sungai Ciwulan dan kolam milik warga. Tidak hanya itu, warga pun mengeluhkan gatal-gatal pasca menggunakan sumber air dari Sungai Ciwulan.


"Hasil awal uji laboratorium terhadap sampel air menunjukkan bahwa kualitas air sungai Ciwulan masih berada dalam ambang batas baku mutu. Namun ini belum cukup untuk menyimpulkan penyebab kematian massal ikan Udikan" ujar Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya. AKP Ridwan Budiarta, Kamis (19/6/2025).


Tak berhenti sampai disitu, polisi juga mencurigai adanya dugaan pencemaran limbah dari wilayah hulu sungai. Polres Tasikmalaya kini tengah berkoordinasi dengan Polres Garut untuk menyelidiki kemungkinan keterlibatan industri penyamakan kulit di Garut yang berpotensi membuang limbah ke aliran sungai Ciwulan.


"Dua warga yang mengalami gatal-gatal sudah ditangani oleh petugas Puskesmas, sebagai antisipasi mereka dianjurkan beralih ke sumber mata air yang lebih aman untuk di konsumsi" ujar Camat Salawu, Nandang.


Allah SWT berfirman:


"Talah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)"

(TQS. Ar-Rum ayat 41).


Allah SWT berfirman:


"Diantara mereka ada orang yang beriman padanya (Al-Qur'an) dan diantara mereka ada (pula) orang yang tidak beriman padanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan"

TQS. Yunus ayat 41).


Allah SWT berfirman:


"Ingatlah ketika (Allah) menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu membuat pada dataran rendahnya bangunan-bangunan besar dan kamu pahat gunung-gunungnya menjadi rumah. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu melakukan kejahatan dibumi dengan berbuat kerusakan"

(TQS. Al-'Araf ayat 74).


Begitu jelas tercemarnya sungai Ciwulan, mati nya ikan-ikan di sekitar Kampung Naga harusnya jadi pelajaran berharga bahwa manusia diberi nikmat oleh Allah untuk dijaga, dipelihara dan digunakan sebaik mungkin. Jangan dicemari oleh limbah pabrik, tambang pasir dan lain-lain hingga merusak ekosistem air, menyebabkan gatal-gatal dan sebaginya. 


Belum lagi kerusakan akhlak yang membiarkan masalah terkontaminasi air akibat limbah berlarut-larut hingga berminggu-minggu, keadaan tidak nyaman bahkan harus mencari sumber air yang lebih aman bukan perkara mudah.


Pabrik yang diduga mencemari lingkungan pun belum ada tindakan apapun. Ini arti dari lemahnya kinerja pejabat dan keamanan sekitar.


Keadaan pencemaran air, lingkungan bahkan polusi udara akan tetap ada di era kapitalis sekuler yang seolah tidak mampu menuntaskan masalah hingga ke akarnya. Ikan mati yang berkurang bukan berarti masalah selesai. Sebab pencemaran air meskipun sudah tidak ada ikan yang mati bisa sebabkan gatal-gatal, tidak layak konsumsi atau keruhnya berubahnya warna air dan adanya bakteri pada air. 


Pabrik-pabrik yang makin pesat dan bertambah jumlahnya, penambangan pasir dan sebaginya turut serta memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. 


Semua tidak lepas dari bisnis. Dari pajak yang hasilnya mengalir ke kas negara, belum lagi gratifikasi. 


Era kapitalis sekuler hanya memperhitungkan untung rugi bukan kesejahteraan rakyat. Dan ini akan terus terjadi bahkan bisa lebih parah di sistem yang tidak berpihak pada rakyat.


Saatnya ganti dengan sistem sempurna, pemerintahan berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Yang sudah terbukti sejahtera dunia akhirat 13 abad diterapkan oleh Rasulullah dan para sahabat. 


Tugas kita, ubah diri kita jadi lebih baik dengan menimba ilmu-ilmu agama dan bermanfaat lainnya lebih peka terhadap lingkungan, dakwah kan kebenaran walau hanya satu ayat. Ajak keluarga, masyarakat dan negara untuk merubah sistem menjadi sistem Islam kaffah agar sejahtera lingkungan, moral dan sebagainya dunia dan akhirat.


Wallahu 'alam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update