Oleh Rika Riyanti Komunitas Ibu Peduli Generasi
Lagi-lagi, kasus pelecehan seksual terus terjadi di negara ini. Lebih parah
nya lagi sekarang, para pelaku bukan lah orang lain atau orang yang tidak dikenal oleh korbannya. Melainkan, mereka para pelaku itu dari anggota keluarganya sendiri.
Beberapa waktu lalu, di sosial media sempat digemparkan oleh sebuah grup yang ramai diperbincangkan. disalah satu platfom media sosial (Facebook). Dimana para anggota grup tersebut menamai grup nya dengan sebutan "Fantasi sedarah." Yang kemudian diganti dengan nama grup "suka duka."
Yang lebih mencengangkan adalah, salah seorang pelaku tersebut adalah seorang ayah. Di mana ia melakukan perbuatan tidak senonoh tersebut kepada anak perempuannya. Yang baru berusia 3 tahun. Adapun salah satu pelaku merupakan seorang kakak laki-laki yang melakukan pelecehan seksual secara tidak langsung kepada adik perempuannya. Sejatinya, pelindung bagi keluarga seluruhnya adalah seluruh anggota keluarga lainnya yang menjadi garda terdepan. Bukan sebaliknya, ini malah menjadi seorang pelaku itu sendiri. Merusak keluarganya sendiri.
Hati mana yang tak perih, melihat fenomena ini. Sungguh menyayat hati melihat fenomena ini. Tak heran, jika penyimpangan ini terus terjadi. Tak ada hukum yang bisa menjerakan mereka, imbas dari perbuatan itu dapat menimbulkan trauma berat bagi korban.
Kejahatan seksual seringkali dipengaruhi oleh cara pandang seseorang dalam memenuhi kebutuhan seksualitasnya. Pandangan sekuler Barat yang menekankan kebebasan tanpa mempertimbangkan nilai-nilai agama dapat menjadi salah satu faktor penyebabnya.
Dalam data statistik kasus pelecehan seksual di Indonesia tahun 2024 menunjukan peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Yang menjadi pertanyaan setiap orang pasti kenapa hal itu bisa terjadi? Bagian mana yang salah dengan pendidikan moral di negri ini sampai bisa menyebabkan hal-hal tersebut terus terjadi berulang-ulang kali?
Mungkin, tidak banyak orang yang tahu bahwa sistem yang dipakai di negara ini adalah kapitalisme sekulerisme bukan sistem islam. Di mana sistem tersebut memisahkan agama dari kehidupan, dan dalam sistem ini menganut 4 kebebasan. Yaitu kebebasan berpikir, dan berperilaku. Kebebasan berpendapat, dan kepemilikan. Dengan ini, sudah jelas karena adanya kebebasan berperilaku, hal ini bisa terus terjadi, dan tidak terkontrol dengan benar.
Oleh sebab itu, sampai sini pun sudah sangat jelas bahwa yang salah adalah sistemnya. Disamping itu, mungkin kurangnya ilmu pengetahuan agama atau bahkan sangat lemahnya iman. Dalam pandangan ini, kebutuhan seksual dapat dipenuhi tanpa batasan, yang berpotensi mengarah pada perilaku seperti perzinahan, homoseksualitas, lesbianisme, atau bahkan pedofilia.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mempertimbangkan nilai-nilai dan etika dalam memahami dan cara pemenuhan seksualitasnya. Kalau tidak, tentu kita akan tetap pada bobroknya moral manusia dalam bingkai kapitalisme.
Akan berbeda dengan pandangan sistem Islam. Perjudian diperangi, perzinaan diberantas, dan segala bentuk kemaksiatan, kriminalitas dibabat habis melalui penegakkan hukum Islam yang tegas. Sebelum melakukan kemaksiatan, masyarakat yang hidup dalam aturan Islam akan senantiasa memperhatikan apa yang telah Allah perintahkan dan larangan-Nya.
Dalam banyak ayat Al-qur'an, sudah sangat jelas bahwa Allah Swt. Mengharamkan hubungan seksual atau pun menikahi wanita yang mahram bagi laki-laki tersebut. Selain itu, kita harus lebih teliti lagi, manakala menemukan nama grup yang menggambarkan sifatnya yang senonoh. Kata-kata yang digunakan sebagai nama grup sangat tidak pantas, bahkan jika dimaksudkan sebagai lelucon. Dalam ajaran Islam, hubungan seksual antara sesama anggota keluarga yang memiliki hubungan darah sangat dilarang dan hukumnya haram.
Seperti firman-Nya yang artinya. "Diharamkan atas kamu menikahi ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara ayahmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan..." (TQS an-Nisa ayat 23)
InsyaAllah, semua masalah baik ringan maupun berat, dengan merujuk pada Alquran dan sunahnya. Semua akan bisa terselesaikan. Asalkan kita mau memperjuangkannya
Wallau'alam bishsawwab
Hanya Islam solusi tuntas dalam setiap persoalan
ReplyDelete