Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sekolah Elit, Pendidikan Dipersulit

Wednesday, May 14, 2025 | Wednesday, May 14, 2025 WIB Last Updated 2025-05-14T06:12:59Z

 



Oleh: Astina


Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa rata-rata lama pendidikan atau sekolah penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas hanya mencapai 9,22 tahun. Ini setara dengan lulusan kelas 9 atau sekolah menengah pertama (SMP). Temuan ini menjadi cerminan bahwa Pendidikan Indonesia masih didominasi oleh capaian jenjang menengah pertama, dan banyak penduduk belum melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.


Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan. Faktor utama penyebab ketimpangan pendidikan berawal dari permasalahan yang mendasar yakni: Pertama, keterbatasan akses dan infrastruktur pendidikan memadai. Kedua, kondisi geografis antara pulau satu dengan pulau lainnya memiliki jarak tempuh yang lama, sering kali akses jalan yang ditempuh hanya dapat menggunakan jalur laut untuk sampai ke sekolah. Ketiga, hambatan sosial dan budaya seperti konstruksi sosial yang menganggap pendidikan bukan menjadi hal yang penting dan sebagainya. Keempat, keterbatasan guru. Kondisi ini, sering kali menjadikan tiga Mata Pelajaran (Mapel) yang berbeda diampu oleh guru yang sama dikarenakan jumlah guru dalam lingkungan sekolah tersebut tidak mencukupi. 


Kelima, guru dengan kualitas rendah. Fenomena guru yang pilah-pilih tempat mengajar acapkali dilakukan. Mayoritas guru kebanyakan mengajar di daerah perkotaan sementara sangat sedikit guru dengan sukarela mengajar di daerah terpencil. Hal ini menjadikan sumber daya guru yang cakap sering kali ditemukan di kota besar (Maulido et al, 2024; Rahmadi, 2020).


Sistem saat ini menjadikan pendidikan sulit di akses bagi masyarakat dengan ekonomi rendah. Terlebih lagi untuk mengakses sekolah yang bagus, yang dilengkapi denga sarana dan prasarana yang membantu dalam proses pembelajaran di sekolah. Sehingga masyarakat yang tinggal di daerah 3T akan mengakses sekolah terdekat dan mampu membiayai secara ekonomi.

Pemerintah memang menyediakan bantuan sekolah gratis untuk pelajar kurang mampu tapi jumlahnya sangat sedikit sementara pelajar yang kurang mampu itu banyak. Sehingga bantuan pendidikan yang diberikan tidak menutupi semua pelajar yang tidak mampu dan menyebabkan masih banyak anak yang putus sekolah karena biaya pendidikan yang tidak mampu untuk dipenuhi.


Diluar sana banyak pelajar yang cerdas secara pemikiran, dan mampu menerima pelajaran dengan baik. Sayangnya karena biaya pendidikan yang mahal menjadikan para pelajar tersebut tidak bisa menggapai cita-citanya karena terkendala pada biaya pendidikan.


Negara Indonesia memiliki banyak sumber daya manusia yang berkualitas jika dibentuk dan dididik menjadi manusia yang berkualitas. Sayangnya saat ini para pelajar tidak dibentuk seperti itu, para pelajar diberikan pendidikan agar memahami pelajaran yang diberikan, menjadi anak yang pintar, mampu menyelesaikan semua pelajaran denga baik, tetapi kurang dalam ilmu agama, sopan santun dan memahami konsep kehidupan. Sehingga pelajar yang mendapatkan pendidikan seperti itu kebanyakan memiliki orientasi untuk mendapatkan materi dan penghasilan sebanyak-banyaknya.


Pendidikan saat ini sangat disayangkan jika tujuannya hanyalah materi. Pendidikan harusnya membentuk generasi muda untuk menjadi penerus bangsa bukan hanya dalam ilmu dunia tetapi juga ilmu akhirat. Sehingga dalam menjalani kehidupan para generasi muda mampu untuk menentukan jalan hidupnya dengan tujuan beribadah kepada Allah dan mementingkan kebutuhan umat.


Selain itu, perlu diperhatikan juga para sarjana yang lebih memilih bekerja tidak sesuai dengan gelar pendidikan yang dimiliki, karena kurangnya lapangan pekerjaan, gaji yang tidak sepadan dengan kebutuhan hidup. Sehingga lebih banyak yang memilih untuk bekerja sebagai pelayan toko sembako, took baju, sales motor, sales mobil dan pekerjaan lainnya yang seharusnya seorang sarjana bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik jika lapangan pekerjaan terbuka lebar. Oleh karena itu para generasi muda menganggap menjadi seseorang yang berpendidikan tinggi tidak menjamin akan hidup enak bahkan sukses. Karena tidak semua sarjana memiliki pekerjaan yang sesuai dengan gelar yang didapatkan, meskipun bekerja sesuai dengan gelar, gaji yang didapatkan juga hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. Beginilah potret sistem kapitalis saat ini, yang tidak menjamin pendidikan dan kesejahteraan ummat.


Dalam Islam, pendidikan adalah hak setiap warga, miskin ataupun kaya. Negara wajib menyediakannya secara gratis dan merata untuk membentuk manusia berilmu dan bertakwa dan berketrampilan tinggi. Khilafah memiliki sumber dana yang mumpuni untuk mewujudkannya. Dana pendidikan diambil dari Baitul Mal, khususnya pos fai', kharaj, dan kepemilikan umum. Negara mengelola langsung pendidikan tanpa campur tangan swasta.


Islam pada dasarnya menjunjung tinggi prinsip persamaan dan kesempatan yang sama dalam belajar, sehingga terbukalah bagi semua orang mendapatkan hak pendidikan tanpa harus dibeda-bedakan apa statusnya. Oleh karenanya dalam sistem pendidikan Islam pada zaman dulu sifatnya gratis dan terbuka.


Institusi pendidikan sebagai lembaga yang menyelenggarakan proses berjalannya pendidikan tentu membutuhkan biaya untuk menunjang kemaslahatan lembaga, gaji guru atau perawatan gedung, dan berbagai biaya akomodasi lainnya.


Untuk menunjang hal tersebut didirikanlah Baitul Mal. Baitul Mal atau lembaga pengumpul dan penyalur harta dari kalangan umat Islam sudah berdiri sejak masa pemerintahan Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam. Kebijakan tersebut kemudian dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin, seperti Abu Bakar Ash Shiddiq RadiyaAllahu ‘anha. Pada masa Abu Bakar RA, Baitul Mal difungsikan sebagai penyimpan kekayaan negara dan penyalur harta benda. Sumber keuangan Baitul Mal tersebut berasal dari zakat, upeti, rampasan perang, dan urusan kehakiman.


Fakta sejarah di era keemasan Islam membuktikan, bahwa kualitas output pendidikan yang dihasilkan oleh Khilafah telah mendapatkan pengakuan dunia. Menariknya, pendidikan kelas satu seperti itu diberikan dengan gratis alias cuma-cuma kepada seluruh warga negaranya. Karena itu, pendidikan gratis dan bermutu dalam sistem Khilafah bukanlah isapan jempol.


Di Cordoba, Spanyol, mengutip dari abusyuja.com menjelaskan bahwa pada zaman itu masjid yang dilengkapi madrasah, dengan berbagai fasilitas pendidikan lainnya. Lembaga pendidikan telah menelorkan ulama sekaliber Al Qurthubi, As Syathibi, dan lain-lain. Tidak hanya ahli tafsir dan usul, akademi pendidikan di era Khilafah juga berhasil melahirkan para pakar di bidang kedokteran seperti Ali At Thabari, Ar Razi, Al Majusi dan Ibn Sina; di bidang kimia seperti Jabir bin Hayyan; astronomi dan matematika, Mathar, Hunain bin Ishaq, Tsabit bin Qurrah, Ali bin Isa Al Athurlabi dan lain-lain; geografi, seperti Yaqut Al Hamawi dan Al Khuwarizmi; historiografi, seperti Hisyam Al Kalbi, Al Baladzuri, dan lain-lain.


Pendidikan gratis tetapi bermutu bisa diwujudkan oleh Islam, karena Islam mempunyai sumber pendapatan yang sangat besar. Selain itu, kekayaan milik negara dan milik umum dikelola langsung oleh negara yang hasilnya didistribusikan kepada rakyat melalui pembiayaan pendidikan, kesehatan dan layanan publik yang lain.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update