Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Resiliensi Menyongsong Cahaya Khilafah Islamiah

Thursday, May 22, 2025 | Thursday, May 22, 2025 WIB Last Updated 2025-05-21T19:00:46Z

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Firman Allah Ta'ala, 

وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَٰطِلُۚ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقٗا ٨١

Katakanlah, ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sungguh yang batil itu pasti lenyap.’”  (QS Al-Isra’ [17]: 81).

Resiliensi merupakan kemampuan seseorang dalam mengatasi, melalui, dan kembali kepada kondisi semula setelah mengalami kejadian yang menekan (Reivich & Shatte, 2002). Resiliensi berasal dari bahasa latin “re-silere” yang memiliki makna bangkit kembali (Connor & Davidson, 2003). 

Menarik. Sesungguhnya ada yang lebih progressif saat mengulik kata bangkit. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menuturkan, bangkitnya manusia karena pemikirannya. “Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya,” tulisnya dalam buku Peraturan Hidup dalam Islam bab Thariqul Iman yang diterjemahkan dari kitab aslinya Nizham al-Islam, yang diterbitkan Tim HTI-Press, Jakarta, Cetakan ke-11, 2013. Menurutnya, agar manusia mampu bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia.

Pemikiran yang mendasar dan menyeluruh inilah yang akan membentuk dan memperkuat mafahim (persepsi) terhadap segala sesuatu,” ungkapnya. An-Nabhani menilai, mafahim (persepsi) terhadap segala sesuatu akan mempengaruhi tingkah lakunya dalam mengatur kehidupan nya. “Tingkah laku manusia selalu berkaitan erat dengan mafahim yang dimilikinya,” tegasnya.

Resiliensi yang diukurkan sebagai upaya bangkit kembali, mewujud jika pemikiran selalu terkait dengan aturan Allah Ta'ala dan ajaran Rasulullah saw. yang senantiasa memancarkan cahaya kebenaran (Din Al-Islam). 

Cahaya ini  tidak akan pernah surut oleh gelapnya kebatilan. Cahaya ini adalah kebenaran yang selamanya akan bersinar hingga menjelang alam semesta hancur pada  masa yang dijanjikan-Nya. 

Allah Ta'ala telah menegaskan bahwa cahaya kebenaran (Islam), akan selalu ada. Sebaliknya, kebatilan akan binasa hingga tiada lagi kekufuran, kemusyrikan, dan penyembahan terhadap berhala setelah terbitnya fajar Islam. Demikian sebagaimana diuraikan Al-‘Allamah Muhammad ‘Ali ash-Shabuni (w. 1442 H). Hal itu diikuti dengan informasi (khabar) pastinya kegagalan ragam upaya musuh-musuh Islam memadamkan cahaya Islam. Firman Allah Ta'ala,

يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.” (QS Ash-Shaff [61]: 8).

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ ٩

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang musyrik membencinya.” (QS Ash-Shaff [61]: 9).

Nash mulia di atas, mengaruskan paradigma yang harus melekat pada diri setiap muslim, yakni bahwa cahaya Islam harus senantiasa bersinar. Mereka yang meniti jalan yang disinari Islam akan selamat. Mereka yang berada di atas jalan yang benar hingga maut menjemput. Sebaliknya, mereka yang menyalahi Islam akan binasa. 

Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّه لَمْ يَكُنْ نَبِي قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًا عَلَيْهِ أَن يَدُلَّ أُمَّتَه عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُه لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُه لَهُمْ وَإِنَّ أُمَّتَكُمْ هَذِه جُعِلَ عَافِيَتُهَا فِي أَوَّلِهاَ وَسَيُصِيبُ آخِرَهَا بَلَاء وَأُمُورٌ تُنْكِرُوَ نها وَتَجِيءُ فِتْنَة فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا وَتَجِيءُ الْفِتْنَة فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِه مُهْلِكَتِي ثُم تَنْكَشِفُ وَتَجِيءُ الْفِتْنَة فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِه هَذِه فَمَن أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّة فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُه وَهُوَ يُؤْمِنُ بالله وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

Sungguh tidaklah seorang nabi sebelum diriku diutus, melainkan ia pasti menuntun umatnya pada kebaikan yang telah ia ketahui (diajarkan Allah) kepada mereka, dan memperingatkan mereka atas bahaya yang ia ketahui (mengancam) mereka. Sungguh, umat kalian ini dijadikan keselamatan pada permulaannya. Yang terakhir akan ditimpa cobaan dan berbagai perkara yang kalian ingkari (tidak disukai), lalu timbul fitnah (bencana) hingga satu sama lain saling merendahkan dan timbul fitnah hingga seorang mukmin berkata, ‘Inilah yang membinasakanku!’ Kemudian, fitnah tersebut hilang dan timbul fitnah lainnya hingga seorang mukmin lainnya berkata, ‘Ini! Ini!’ Siapa saja yang ingin terbebas dari siksa neraka dan memasuki Jannah-Nya, hendaklah ia menemui kematiannya dalam keadaan mengimani Allah, Hari Akhir, dan hendaklah ia berjasa menghadirkan kepada orang-orang sesuatu yang ia sukai untuk dihadirkan kepada dirinya (suatu kebaikan).” (HR Muslim dan An-Nasa’i).

Hadis yang mulia ini memperingatkan tibanya masa tatkala fitnah datang silih berganti (cobaan berat). Mereka yang selamat adalah mereka yang istikamah dalam keimanan menegakkan Islam hingga maut menjemput. Firman Allah Ta'ala, 

يَوۡمَ نَدۡعُواْ كُلَّ أُنَاسِۢ بِإِمَٰمِهِمۡۖ فَمَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَقۡرَءُونَ كِتَٰبَهُمۡ وَلَا يُظۡلَمُونَ فَتِيلٗا ٧١

“(Ingatlah) suatu hari saat Kami memanggil tiap umat dengan pemimpinnya. Siapa saja yang diberi kitab amalannya di tangan kanannya, mereka akan membaca kitabnya itu. Mereka tidak dianiaya sedikit pun.” (QS Al-Isra’ [17]: 71).

Bukankah Allah Swt. mengajari hamba-hamba-Nya doa agar istikamah dalam kebenaran, doa yang disyariatkan wajib dibaca berulang ketika menghadap Allah Swt. dalam salat?

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧

Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (QS Al-Fatihah [1]: 6–7).

Allah Swt. pun mengajarkan doa,

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ٨

(Mereka berdoa), “Duhai Tuhan kami, janganlah Engkau menjadikan hati kami condong pada kesesatan sesudah Engkau beri kami petunjuk, dan karuniailah kami rahmat dari sisi-Mu, karena sungguh Engkaulah Maha Pemberi (karunia).” (QS Ali Imran [3]: 8).

Bagi mereka yang tenggelam dalam kebatilan, hendaklah ingat dengan pesan bijak dari Amirulmukminin, Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab ra., yang dinukil oleh Ibn Katsir dalam Musnad Amîr al-Mu’minîn Abi Hafsh ‘Umar bin al-Khaththâb ra. (II/775). Dikisahkan, ‘Umar menulis surat kepada bawahannya, Abu Musa al-Asy’ari ra..

إِنَّ مُرَاجَعَةَ الْحَقِّ خَيْرٌ مِنَ التَّمَادِي فِي الْبَاطِلِ

Sungguh, kembali pada kebenaran (kebaikan) lebih baik daripada berlarut-larut dalam kebatilan.

Penyair bertutur:

عجِبْتُ لقوْمٍ أضَلّوا السّبيلَ *

وقد بيّنَ الله سبلَ الهدى

فما عرفوا الحقّ لماّ استبانَ *

ولا أبصروا الفجرَ لماّ بدا

Aku heran kepada kaum yang tersesat dari jalan kebenaran, sedangkan Allah telah menjelaskan jalan petunjuk. Mereka tidak mengenal kebenaran tatkala terang-benderang, tidak pula melihat fajar tatkala terbit.

Perlu difahami bahwa kebangkitan tetap tidak dapat disebut kebangkitan yang benar selama tidak didasarkan pada asas pemikiran Islam. Jadi, kebangkitan yang sahih itu hanyalah kebangkitan Islam. Ini karena hanya Islam saja yang berdasarkan asas ruhiah.

Lalu bagaimana sebetulnya metode untuk mencapai kebangkitan itu sendiri? Jelas dengan menegakkan pemerintahan yang didasarkan pada pemikiran, bukan didasarkan pada peraturan, perundangan, atau pun hukum. Penegakan negara yang berdasarkan pada perundangan dan hukum tidak mungkin mencapai kebangkitan. Malah sebaliknya, jika itu yang terjadi akan sangat membahayakan kebangkitan itu sendiri. Jadi, tidak mungkin kebangkitan itu diraih, kecuali dengan menegakkan pemerintahan dan kekuasaan atas dasar pemikiran.

Dari pemikiran inilah muncul pemecahan-pemecahan praktis untuk menanggulangi segala persoalan kehidupan. Dengan kata lain, dari pemikiran tersebut keluar segala bentuk peraturan, perundangan, dan hukum.

Tatkala Eropa mengalami kebangkitan, maka kebangkitannya didasarkan pada suatu pemikiran, yaitu pemisahan urusan agama dengan negara (sekularisme) dan kebebasan. Begitu pula Amerika, tatkala mengalami kebangkitan, kebangkitannya didasarkan pada suatu pemikiran, yaitu sekularisme dan kebebasan.

Rusia tatkala mengalami kebangkitan, kebangkitannya didasarkan pada suatu pemikiran, yaitu materi dan perubahan/evolusi materi. Evolusi materi adalah perubahan sesuatu dengan sendirinya dari suatu keadaan menuju keadaan lain yang lebih baik. Rusia menegakkan pemerintahannya pada 1917 yang didasarkan pada pemikiran semacam ini hingga Rusia bangkit.

Negeri Arab tatkala mengalami kebangkitan, sesungguhnya kebangkitannya didasarkan pada pemikiran Islam. Hal ini tampak tatkala diutusnya Rasulullah saw. dengan membawa risalah dari Allah. Di atas landasan ini ditegakkan pemerintahan dan kekuasaan. Negeri Arab pun bangkit tatkala mereka meyakini dan berpegang teguh pada pemikiran Islam dan di atasnya dibangun pemerintahan dan kekuasaan.

Semua ini merupakan argumen yang pasti bahwa metode untuk mencapai kebangkitan adalah dengan menegakkan pemerintahan di atas suatu pemikiran. Bukti lain yang menunjukkan bahwa menegakkan pemerintahan di atas dasar peraturan, perundangan, dan hukum tidak mampu mencapai kebangkitan adalah apa yang dilakukan Mustafa Kamal di Turki. Ia menegakkan pemerintahan di atas dasar peraturan dan perundangan-undangan untuk meraih kebangkitan, seraya mengambil peraturan-peraturan dan perundang-undangan Barat. Kemudian, di atasnya dibangun pemerintahan. Ia menjalankannya sekuat tenaga secara praktis melalui tangan besi. Meskipun demikian, tetap saja Turki tidak mampu meraih kebangkitan, malah mengalami kemunduran.

Jadilah Turki sebagai salah satu negeri yang mundur, padahal Lenin muncul hampir bersamaan dengan Mustafa Kamal. Namun, Lenin mampu membangkitkan Rusia menjadi negara yang kuat, bahkan tergolong negara yang terkuat sekarang. Penyebabnya tiada lain karena Lenin mendirikan pemerintahan di atas landasan suatu pemikiran, yaitu pemikiran Komunisme. Dari pemikiran ini, muncul pemecahan-pemecahan terhadap problematika kehidupan sehari-hari berupa peraturan dan perundang-undangan yang dijadikan solusi terhadap segala bentuk problematika dalam bentuk hukum yang bersandar pada pemikiran tersebut. Dengan kata lain, dari pemikiran ini dibangunlah pemerintahan sehingga mampu meraih kebangkitan.

Pada 1917, Lenin membangun pemerintahan Rusia di atas landasan suatu pemikiran. Rusia pun bangkit. Sementara itu pada 1924, Mustafa Kamal membangun pemerintahan di atas landasan peraturan dan perundang-undangan untuk membangkitkan Turki, tetapi ia tidak mampu. Malah Turki menjadi terbelakang sebab pemerintahan dibangun di atas landasan peraturan dan perundang-undangan. Ini adalah faktor yang tidak berhasil membangkitkan, bahkan membahayakan Turki.

Contoh lainnya adalah apa yang dilakukan oleh Gamal Abdunnaser di Mesir. Sejak 1952, pemerintahannya dibangun di atas landasan peraturan dan perundang-undangan. Pertama-tama, sistem pemerintahan diubah menjadi sistem pemerintahan Republik, menggantikan sistem kerajaan. Kemudian dilakukan land reform dengan membagi-bagikan lahan pertanian. Setelah itu berpaling pada peraturan-peraturan Sosialis sehingga negaranya disebut sebagai negara Sosialis, tetapi kebangkitan tidak pernah mampu diwujudkan.

Malahan Mesir saat ini sudah termasuk negeri-negeri terbelakang dari sisi pemikiran, ekonomi, dan politiknya, dibandingkan dengan sebelum 1952, yaitu sebelum terjadi kudeta militer. Begitu pula anggota-anggota parlemennya saat ini, dibandingkan dengan anggota-anggota parlemen (saat itu dinamakan Majelis Umat) sebelum 1952, kemampuan pemikiran dan politiknya sangat berbeda. Perubahan yang terjadi di Mesir tetap tidak mampu membangkitkannya karena pemerintahannya dibangun di atas landasan peraturan dan perundang-undangan. Ini karena yang mampu membangkitkan hanyalah pemerintahan yang dibangun berlandaskan pada suatu pemikiran.

Oleh karena itu resiliensi bangkitnya pemikiran pada fithrahnya yaitu kembali pada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya, meruntuhkan ego radikal penolakan sistem Khilafah Islamiah. Menyongsongnya menjadi sangat mendesak untuk direalisasikan. Penolakan hanya akan menumbuhkan kehancuran demi kehancuran. Tidakkah kita ingin hidup  bahagia sampai akhir zaman? 

Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update