Oleh Novie
Saya membaca artikel Kompas.com berjudul “Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Indonesia Hanya 9 Tahun, Setara Lulus SMP” (4 Maret 2025) dengan rasa prihatin yang mendalam. Fakta bahwa rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia hanya sekitar 9,22 tahun menunjukkan bahwa akses pendidikan belum merata dan masih menjadi persoalan serius, terutama di daerah tertinggal
Seperti yang disebutkan dalam artikel, ketimpangan antarwilayah sangat mencolok. Di Jakarta, rata-rata lama sekolah mencapai 11,5 tahun, namun di Papua Pegunungan hanya 5,1 tahun—bahkan belum menyelesaikan jenjang SD. Angka ini mencerminkan adanya kesenjangan struktural yang belum berhasil diatasi.
Meskipun pemerintah telah menggulirkan berbagai program seperti KIP dan sekolah gratis, realitanya banyak anak dari keluarga miskin yang masih kesulitan mendapatkan akses pendidikan yang layak. Faktor ekonomi, jarak sekolah yang jauh, minimnya sarana dan prasarana, hingga kualitas guru yang tidak merata memperparah kondisi ini.
Kita seolah didorong untuk menjadi bangsa yang cerdas dan maju, tapi sistem yang ada belum sungguh-sungguh mendukung itu. Pendidikan masih terlalu mahal dan terlalu bergantung pada kemampuan ekonomi keluarga. Jika dibiarkan, ketimpangan ini akan terus melanggengkan kemiskinan antar generasi.
Saya berharap pemerintah tidak hanya mengejar angka, tapi benar-benar membenahi sistem pendidikan dari akar—dengan memastikan akses yang merata, kualitas yang adil, dan pendidikan yang memanusiakan rakyat, bukan sekadar mencetak pekerja pasar.
Model sistem pendidikan yang handal sebenarnya telah lama ada. Sistem pendidikan Islam yang melahirkan bukan semata SDM berkualitas namun juga peradaban yang tinggi berkelas telah dicontohkan oleh generasi pendahulu umat ini. Kala itu Islam menjadi mercusuar dunia. Ilmu pengetahuannya melahirkan berbagai inovasi yang tak terbayangkan di zamannya. Eropa yang berada dalam kegelapan berbanding terbalik dengan Islam yang di puncak keemasan.
Sayangnya, kegemilangan itu sirna seiring dengan runtuhnya sistem Kekhilafahan yang menerapkan Islam secara sempurna. Umat ini bahkan telah meninggalkan identitasnya sebagai umat yang kuat dengan ketinggian akhlak dan peradabannya kemudian membebek kepada Barat. Walhasil, hari ini kita menyaksikan kebodohan dan kemunduran yang sangat nyata.
Maka, untuk menjadi bangsa yang berkualitas lagi cemerlang dengan peradaban yang andal, tidak ada cara lain, kecuali mengembalikan penerapan Islam kaffah ke dalam kancah kehidupan. Karena hanya Islam kaffah yang terbukti secara historis mampu mengenyahkan kebodohan, kerusakan, juga keangkaramurkaan,, bukan hanya dari bumi Indonesia, tapi dari setiap jengkal tanah di bumi ini. Wallahu a'lam.

No comments:
Post a Comment