Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

PEMBATASAN KELAHIRAN SOLUSI KEMISKINAN?

Wednesday, May 14, 2025 | Wednesday, May 14, 2025 WIB Last Updated 2025-05-14T10:52:06Z

Oleh Maya, S.Pd (Aktivis Muslimah)

Wacana vasektomi untuk para penerima bantuan sosial (bansos) yang diusulkan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pada akhir April lalu menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Dedi meyakini vasektomi akan membantu mengurangi angka kemiskinan warga Jawa Barat. Hal itu dilihat dari temuan dan laporan yang dia terima bahwa masyarakat prasejahtera mayoritas memiliki anak lebih dari dua orang.

Rencana itu menuai perdebatan di masyarakat luas. Juga Mendapat penentangan serta kritikan dari berbagai pihak seperti Komnas HAM dan MUI. Setelahnya Gubernur Jawa Barat itu memberikan klarifikasinya dan meluruskan bahwa penerima bansos tidak diwajibkan untuk menjalani prosedur vasektomi. Namun Dedi Mulyadi tetap menyarankan agar penerima bansos untuk melakukan program Keluarga Berencana (KB).

Diyakini bahwa pertambahan jumlah anak atau naiknya populasi penduduk menjadi penyebab kemiskinan. Banyaknya jumlah anggota keluarga akan menjadikan jumlah pengeluaran bertambah. Jika pendapatan tidak bertambah mau dikasih makan apa?

Pendapat seperti ini sudah ada sehak zaman dahulu. Dulu orang-orang Arab jahiliah takut menjadi miskin jika mereka memiliki anak. Lalu Allah SWT mengingatkan:

"Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah Yang akan memberikan rezeki kepada mereka dan kepada kalian. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar" (TQS al-Isra’ [17]: 31).

Setiap Muslim wajib meyakini bahwa setiap makhluk bernyawa di muka bumi ini telah mendapatkan jaminan rezeki Allah SWT.

Pendapat bahwa pertambahan jumlah anak atau naiknya populasi penduduk menjadi penyebab kemiskinan adalah pendapat yang kurang tepat. Tidak ada korelasi antara kemiskinan dan pertambahan populasi penduduk apalagi jumlah anak.

Penyebab Kemiskinan

Menurut hemat kami, penyebab kemiskinan hari ini adalah penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang batil dan rusak. Dalam sistem ini terjadi penguasaan kekayaan negara oleh segelintir orang. Akibatnya, muncul ketimpangan sosial yang lebar dan dalam. Menurut Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), 50 persen aset nasional dikuasai hanya oleh 1 persen orang kaya di tanah air. 

Penumpukan kekayaan pada segelintir orang ini menyebabkan roda ekonomi tidak berputar. Akibatnya, daya beli menurun, usaha lesu bahkan bangkrut, pengangguran bertambah, warga kesulitan mengakses pendidikan dan angka kemiskinan pun bertambah. Inilah lingkaran setan kemiskinan yang dihasilkan penerapan sistem kapitalisme. 

Sistem kapitalisme juga membuat negara membolehkan kekayaan alam dikuasai oleh perusahaan asing maupun dalam negeri. Padahal banyak bukti, eksploitasi pertambangan oleh perusahaan swasta dan asing, misalnya, tidak menaikkan taraf hidup warga setempat. Banyak daerah yang mempunyai kekayaan alam berlimpah dan menjadi jadi salah satu penyumbang devisa terbesar untuk negara, namun rakyatnya tidak sejahtera. Rakyat tidak merasakan hasilnya dan masih tetap dalam kemiskinan.

Ironinya, warga miskin justru disalahkan karena menikah dan punya anak, apalagi jika anaknya banyak. Pada saat yang sama, negara tidak banyak berperan dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya. Negara malah lebih berpihak pada kaum kapitalis-oligarki.

Sudah cukup bukti kalau penyebab kemiskinan dan kesengsaraan umat hari ini adalah ideologi kapitalisme. Maka dari itu, sudah saatnya kita mengubur ideologi batil tersebut. Penggantinya tidak lain adalah Islam. Islamlah satu-satunya ideologi yang haq dan paripurna. Islam adalah sistem kehidupan yang memberikan solusi terbaik untuk umat manusia. Penerapan Islam sebagai ideologi dan sistem kehidupan pasti akan mendatangkan berkah dan ridha Allah SWT. Tidak cukupkah derita umat pada hari ini akibat penerapan ideologi kapitalisme?

Musibah apa saja yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan kalian sendiri, sementara Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian) (TQS asy-Syura [42]: 30).

WalLâhu a’lam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update