Oleh Silpianah
Baru-baru ini anggota konggres Amerika Serikat (AS) bernama Randy Fine, melontarkan seruan yang tidak manusiawi terhadap warga Palestina. Ia menyarankan penggunaan bom nuklir terhadap wilayah di Jalur Gaza.
Dilansir oleh BeritaSatu.com, (24/05/2025), Komentar kontroversial yang dikeluarkan Randy Fine disampaikan dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis (23/5/2025). Dia membandingkan Gaza dengan Hiroshima dan Nagasaki, yang merupakan dua kota di Jepang yang dijatuhi bom atom oleh AS pada akhir Perang Dunia II. Serangan bom nuklir tersebut menewaskan sekitar 215.000 orang dalam beberapa bulan pertama.
Seruan menggunakan bom nuklir di Gaza tersebut memicu kritik luas, baik dari komunitas internasional maupun pegiat HAM, yang menyebutnya sebagai ujaran kebencian dan pelanggaran atas norma-norma kemanusiaan global.
Hamas yang merupakan gerakan perlawanan Palestina, melakukan kecaman keras terhadap pernyataan anggota kongres AS tersebut. Dalam pernyataan resminya, Hamas menilai seruan dari politikus Partai Republik itu merupakan bentuk hasutan genosida terhadap rakyat Palestina. (BeritaSatu.com, 24/05/2024).
"Seruan ekstremis ini adalah kejahatan besar dan memperlihatkan mentalitas fasis rasis yang menguasai pikiran politisi Amerika,” ungkap Hamas, seperti dikutip Antara dari Anadolu.
Hal ini menjadi bukti nyata bahwa umat Islam mendapatkan penghinaan yang luar biasa. Seakan tak cukup genosida yang selama ini dilakukan oleh zionis Israel pun sudah teramat keji. Ribuan nyawa melayang. Ratusan ribu terluka. Jutaan lainnya hidup dalam ancaman dan kengerian.
Namun, sangatlah miris. Dunia tetap diam. Tak ada satupun penguasa dunia terutama di negeri-negeri muslim yang melakukan upaya nyata untuk menghentikan kekejian dan kebiadaban tersebut. Mereka para penguasa tetap membisu demi menjaga kekuasaanya, padahal Gaza telah dihancurkan sedemikian rupa.
Bukankah sudah sangat jelas bahwa kaum Muslim itu bersaudara? Bahkan ditegaskan baik dalam al-Qur'an maupun as-Sunnah. Persaudaraan kaum muslim diikat oleh aqidah yang sama yaitu aqidah Islam.
Allah SWT berfirman, "Sungguh kaum mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah kedua saudara kalian dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapatkan Rahmat." (TQS. al-Hujarat [49]: 10).
Rasullullah Saw. pun telah menegaskan, "Mukmin dengan Mukmin lainnya bagaikan satu bangunan. Sebagiannya menguatkan sebagian lainnya." (HR Bukhari, at-Tirmidzi, an-Nasa'i, dan Ahmad).
Gambaran kerusakan dan kekejaman di Gaza menunjukan buruknya sistem hidup hari ini yang tak memuliakan manusia sebagai mahluk terbaik ciptaan Allah Swt. Dalam Islam, harga nyawa seorang muslim sangatlah mahal. Allah Swt menetapkan pembunuhan satu nyawa yang tak berdosa sama dengan menghilangkan nyawa seluruh umat manusia.
Rasullullah Saw, bersabda:
"Kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan pembunuhan seorang Muslim." (HR an-Nasa'i).
Islam menghormati nyawa manusia bahkan dalam perang sekalipun. Islam memerintahkan untuk berlaku baik dan menjaga nyawa penduduk sipil serta fasilitas umum. Islam melarang menyerang orang-orang yang tidak ikut berperang seperti wanita, anak-anak dan orangtua. Islam melarang membunuh hewan, merusak tumbuhan dan kebun. Islam mempunyai peraturan perang yang begitu indahnya. Penerapan Islam jelas akan menjaga kemuliaan manusia dan menjadi Rahmat seluruh alam.
Sebab itulah tak ada satupun darah kaum muslim yang tertumpah sepanjang sejarah penerapan Islam, melainkan akan diberikan pembelaan yang besar dari umat maupun dari daulah Islam.
Ketika Islam diterapkan di muka bumi ini, umat mempunyai Junnah (perisai) yang melindunginya dari berbagai ancaman. Seperti diceritakan dalam Sirah Ibnu Hisyam, seorang pedagang Muslim membela seorang perempuan yang dilecehkan (disingkapkan pakaiannya) oleh seorang pedagang Yahudi, namun pedagang Muslim tersebut justru dibunuh ramai-ramai oleh kaum Yahudi Bani Qainuqa. Maka Rasullullah memerintahkan para sahabat untuk memerangi dan mengusir mereka dari Madinah setelah mengepung mereka selama 15 malam.
Begitu juga kisah heroik Khalifah Al Mu'tasim Billah terjadi ketika Islam diterapkan. Khalifah Al-Mu'tasim Billah menorehkan sejarah dimana ia sangat memuliakan wanita. Ketika itu ada seorang budak wanita muslimah yang diganggu oleh orang Romawi di sebuah pasar. Pakaian wanita tersebut dikaitkan ke sebuah paku sehingga ketika ia berdiri tersingkaplah sebagian auratnya. Merasa dilecehkan, wanita itu berteriak meminta tolong kepada Khalifah. Kemudian apa yang dilakukan Khalifah Al-Mu'tasim Billah adalah sesuatu yang heroik.
Khalifah Al-Mu'tasim mengerahkan pasukannya untuk membela wanita tersebut. Dikisahkan bahwa pasukannya memanjang dimana kepala pasukan telah sampai di Amurriyah (Sebuah kota kekuasaan Romawi) sementara ekor pasukan berada di Baghdad (Pusat pemerintahan Bani Abbasiyah).
Bertempurlah pasukan Muslim dan Romawi. Pertempuran tersebut dimenangkan oleh pihak Muslim dimana 30.000 pasukan Romawi terbunuh dan 30.000 lainnya ditawan. Pembelaan Muslimah tersebut sekaligus pembebasan tanah Amurriyah dari jajahan Romawi.
Setelah pertempuran usai, Khalifah Al-Mu'tasim menemui & berkata kepada muslimah tersebut "Wahai saudariku, apakah Aku telah memenuhi seruanmu atasku?"
Begitu seriusnya Khalifah Al-Mu'tasim melindungi kehormatan dan memuliakan seorang wanita.
Namun, kisah heroik tersebut sangat bertolak belakang dengan penguasa negeri-negeri muslim saat ini. Tidak ada satupun dari mereka yang berani mengerahan pasukan untuk melindungi umat Islam. Khususnya kaum Muslim Palestina saat ini. Palestina membutuhkan sosok seperti Khalifah Al-Mu'tasim Billah. Sungguh Umat Islam merindukan penguasa yang mampu menjadi perisai yang melindungi mereka.
Maka sudah seharusnya kita menyadari bahwa sistem hidup hari ini sangatlah rusak. Sistem dimana bayi-bayi yang tak berdosa dibunuh dengan brutal. Sistem ini tidak layak memimpin dunia dan mengatur hidup manusia.
Kembali kepada kehidupan Islam adalah sebuah keniscayaan. Umat Islam harus berjuang menerapkan Islam secara kaffah di muka bumi ini. Kemuliaan hanya akan terwujud dengan Islam. Dan tidak akan tegak Islam kecuali penerapan secara Kaffah oleh Khilafah Rasyidah.
Wallahu a'lam bi ash-shawab.

Derita Palestina telah berlangsung selama puluhan tahun, membentang dari generasi ke generasi. Namun, apa yang membuat luka ini tak kunjung sembuh adalah ketiadaan junnah—perisai pelindung bagi mereka. Dunia Arab dan Islam, yang seharusnya menjadi benteng solidaritas dan pertahanan, tampak lumpuh oleh kepentingan politik dan retorika kosong. Ketika rakyat Palestina digempur, dibunuh, dan diusir dari tanah mereka, yang mereka butuhkan bukan hanya simpati, tetapi tindakan nyata. Tanpa junnah, mereka terus menjadi sasaran kezaliman, sementara dunia hanya menonton. Palestina tak hanya butuh doa—mereka butuh pembelaan yang sejati.
ReplyDelete