Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Genosida Palestina dan Bungkamnya Muslim: Tanda Krisisnya Ummat

Friday, May 30, 2025 | Friday, May 30, 2025 WIB Last Updated 2025-05-30T14:49:24Z
Genosida Palestina dan Bungkamnya Muslim: Tanda Krisisnya Ummat

Oleh : Saqiraz Azzahrah


Sejak Oktober 2023, Israel secara brutal telah melakukan genosida terhadap rakyat Palestina. Dilansir dari media Turki, Anadolu, lebih dari satu tahun telah berlalu, dan hingga kini jumlah korban tewas telah mencapai 51.533 jiwa, sementara korban luka tercatat sebanyak 117.248 orang. Tragisnya, masih banyak warga Palestina yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan akibat serangan yang tiada henti. Berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar negeri, telah mengusulkan berbagai solusi untuk menghentikan tragedi kemanusiaan ini. Namun, hingga saat ini belum tampak tanda-tanda penyelesaian yang nyata.

Salah satu solusi yang ditawarkan pemerintah Indonesia adalah evakuasi warga Gaza ke Indonesia. Tentu, langkah ini merupakan bentuk kepedulian dan niat baik. Akan tetapi, evakuasi bukanlah solusi yang menyentuh akar permasalahan. Sebab, yang dipahami oleh Zionis Israel bukanlah bahasa diplomasi atau evakuasi, melainkan kekuatan dan perlawanan. Evakuasi justru hanya akan memindahkan masalah, sementara kezaliman di Palestina tetap berlangsung.

Perlu dipahami, rakyat Palestina tetap memilih bertahan di tanah air mereka bukan karena tidak mampu pergi, melainkan karena keyakinan mereka sebagai muslim bahwa Palestina adalah tanah kharijiyyah, tanah milik seluruh kaum muslim. Kewajiban mempertahankan Palestina bukan hanya tanggung jawab muslim yang tinggal di sana, tetapi juga seluruh umat Islam di dunia. Oleh sebab itu, berbagai kampanye solidaritas dan seruan boikot terhadap produk-produk yang berafiliasi dengan Israel menjadi salah satu bentuk dukungan yang bisa dilakukan umat Islam di berbagai belahan dunia.

Sayangnya, saat ini kesadaran itu perlahan memudar. Banyak masyarakat Indonesia yang masih menganggap enteng persoalan ini, bahkan tetap menggunakan produk-produk yang jelas memiliki keterkaitan dengan kepentingan Zionis. Memang, boikot bukanlah solusi utama, tetapi langkah kecil ini setidaknya menjadi bentuk kepedulian dan kontribusi nyata kaum muslim terhadap perjuangan saudara-saudara mereka di Palestina.

Lebih memprihatinkan lagi, kondisi kaum muslim saat ini tak hanya abai dalam aksi boikot, tetapi juga bungkam terhadap tragedi yang terjadi di Palestina. Banyak yang memilih bersikap apatis, tidak menyuarakan opini, bahkan enggan mengikuti perkembangan terkini seputar nasib rakyat Palestina. Nasionalisme sempit menjadi alasan sebagian umat Islam, merasa lebih baik mengurusi urusan dalam negeri daripada peduli terhadap persoalan umat di negeri lain. Padahal, jika menengok sejarah, negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia adalah Palestina. Ironisnya, ketika Palestina membutuhkan pertolongan, justru banyak dari kita yang bersikap acuh tak acuh.

Dalam pandangan Islam, Rasulullah ﷺ telah menegaskan bahwa kaum muslim itu bagaikan satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan sakitnya. Artinya, saat saudara muslim di Palestina disakiti, seharusnya umat Islam di berbagai penjuru dunia turut merasakan luka yang sama. Namun, kenyataannya, ikatan persaudaraan itu kini tampak longgar dan kehilangan kekuatannya.

Hal ini terjadi karena pemahaman umat Islam terhadap agamanya masih sebatas ibadah ritual semata, seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Padahal, syariat Islam adalah aturan yang lengkap dan menyeluruh, mencakup seluruh aspek kehidupan, mulai dari hal terkecil dalam kehidupan pribadi hingga persoalan besar dalam bernegara. Bahkan urusan adab masuk dan keluar kamar mandi pun diatur dalam ajaran Islam.

Oleh karena itu, penerapan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh) menjadi sebuah kebutuhan. Jika aturan Islam diterapkan dalam ranah sosial, politik, dan ekonomi, maka akan lahir institusi yang mampu menaungi dan melindungi umat Islam. Kesejahteraan dan keamanan umat akan terjamin. Tidak seperti kondisi saat ini, di mana di Palestina setiap hari terjadi pembunuhan, penculikan, kekerasan, bahkan pemerkosaan karena tidak ada institusi pelindung bagi umat muslim di sana.

Sejarah mencatat, di masa kekhilafahan Islam, ketika seorang wanita muslimah dilecehkan di pasar dengan cara diikat kerudungnya hingga tersingkap, Khalifah Al-Mu’tashim Billah langsung mengerahkan puluhan ribu pasukan untuk membebaskan daerah tersebut. Begitulah cara Islam menjaga kehormatan dan keamanan rakyatnya. Bahkan, non-muslim yang hidup di wilayah kekuasaan Islam pun mendapatkan perlindungan yang sama tanpa diskriminasi.

Sayangnya, kesejahteraan dan keamanan tersebut sudah tidak lagi ada. Karena itu, menjadi kewajiban umat Islam untuk kembali menghadirkannya. Salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan melakukan dakwah Islam — menyebarluaskan ajaran Islam secara menyeluruh, mengajak umat kembali memahami dan menerapkan syariat secara utuh dalam kehidupan.

Tragedi kemanusiaan di Palestina bukan hanya persoalan kemanusiaan biasa, tetapi juga persoalan akidah dan tanggung jawab seluruh umat Islam. Sebagai muslim, kita tidak bisa hanya diam dan bersikap apatis. Tindakan nyata seperti boikot, kampanye solidaritas, hingga dakwah Islam harus terus digalakkan. Hanya dengan penerapan syariat Islam secara menyeluruh, umat Islam akan kembali memiliki institusi pelindung yang mampu menjaga kehormatan, keamanan, dan kesejahteraan mereka, serta membebaskan Palestina dari cengkeraman penjajah. Sudah saatnya umat Islam bangkit dari kebisuan dan peduli atas penderitaan saudara-saudaranya di Palestina.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update