Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mengirim Siswa Nakal ke Barak Militer: Solusi atau Eksekusi?

Thursday, May 29, 2025 | Thursday, May 29, 2025 WIB Last Updated 2025-05-29T06:33:13Z
Mengirim Siswa Nakal ke Barak Militer: Solusi atau Eksekusi?*


Oleh: Rahmawati Ayu Kartini 

(Pemerhati Sosial)


Kebijakan Gubernur Dedi Mulyadi (KDM) yang mengirim siswa bermasalah ke pelatihan militer tidak berjalan mulus. Banyak yang pro dan kontra dengan kebijakan ini. Alih-alih menyelesaikan masalah, pendekatan ini justru menunjukkan potret buram sistem pendidikan kita.


*Anak nakal terbentuk sistemik?*


Anak-anak kita saat ini memang berada dalam krisis akhlak. Kasus krisis adab, kekerasan, bullying, pergaulan bebas, dll makin meresahkan. Bahkan gangguan kesehatan mental paling banyak melanda generasi muda kita.


Menyelesaikan itu semua dengan memasukkan mereka ke barak militer selama 3–6 bulan tentu bukanlah solusi yang membina, namun eksekusi (hukuman) terselubung! Atau mungkin sekedar mencari sensasi, mengingat KDM juga dikenal sebagai 'gubernur konten'?


Tentu anak adalah manusia yang memiliki hati nurani. Mereka bukanlah robot yang bisa disetel sistematis. Mereka adalah generasi penerus yang akan menjadi harapan kita di masa depan.


Karena itu, dalam mendidik mereka harus hati-hati. Tidak bisa merubah mereka secara instan. Apa yang harus kita lakukan?


_Pertama,_ pendekatan militeristik berbasis efek jera tidak memiliki akar dalam sistem pendidikan. Sistem pendidikan bertujuan untuk menjadikan seorang yang belum tahu menjadi tahu. Hukuman pun boleh dilakukan, tetap bertujuan untuk mendidik. Bukan memberikan pelatihan militer/disiplin saja tanpa membuat mereka sadar, apa kesalahan mereka.


Anak tidak dibentuk melalui ketakutan, tetapi dengan penanaman iman dan akhlak. Dalam Islam, pendidikan adalah proses membangun syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) yang mencakup pola pikir dan pola sikap berbasis akidah. Bukan sekadar mengubah perilaku secara instan, tapi juga membangun kesadaran dari dalam.


_Kedua,_ kebijakan ini mengabaikan akar persoalan sistemik. Anak tidak menjadi "nakal" dalam ruang hampa. Mereka hidup dalam sistem sekuler liberal yang menormalisasi kebebasan tanpa batas, jauh dari kontrol agama. Budaya pacaran, tontonan amoral, medsos tanpa batas. Semua ini dibiarkan tumbuh bebas. Tapi ketika efeknya muncul pada anak-anak, negara justru menyalahkan mereka dan memilih “solusi cepat” lewat barak militer. Ironis. 


Mungkin saja gemblengan militer membuat anak akan lebih baik dan disiplin daripada sebelumnya. Namun apakah perubahan itu akan langgeng ketika anak kembali pada lingkungan asal? Selama mereka tetap berada dalam ranah kapitalisme liberal, anak yang tidak dibina keimanan dan ketakwaannya akan sulit berubah secara hakiki.


_Ketiga,_ barak militer bisa menciptakan trauma dan stigma sosial. Alih-alih membina, anak justru bisa merasa dijauhi, distigmatisasi, bahkan membenci proses pendidikan itu sendiri. Padahal Islam menekankan ta’lim (pembelajaran), tarbiyah (pembinaan), dan ta’dib (penanaman adab), bukan intimidasi.


Anak menjadi nakal, penyebabnya sangat kompleks. Faktor utama bisa jadi karena kurangnya kasih sayang dari orang tua. Orang tua sibuk mencari penghidupan yang makin sulit, akibat naiknya harga berbagai kebutuhan pokok saat ini. Akibatnya anak akan mencari pelampiasan, dengan mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitar. Bisa dari teman-teman sepergaulan, atau dari HP, yang saat ini lebih membawa mudharat daripada manfaat terutama bagi anak-anak yang masih labil.


Anak yang haus kasih sayang ini, tentu tidak tepat jika dididik dengan pendekatan militer. Justru jiwanya akan makin keras dan masalah kenakalannya tidak  teratasi. 


Mestinya harus diberikan kasih sayang yang cukup pada anak-anak, terutama dari orangtuanya. Karena itu tugas negara adalah memudahkan rakyatnya dalam mendapatkan kebutuhan hidup yang layak. Tidak dimahalkan. 


Negara harus menyediakan lapangan kerja untuk para ayah. Agar para ibu tidak sering keluar rumah untuk membantu menambah penghasilan keluarga, sehingga lebih banyak di rumah dan memperhatikan anak-anaknya. Anak-anak yang cukup mendapat perhatian akan menjadi lebih baik dan beradab.


Selain itu, negara harus memberikan perlindungan kepada anak-anak dari konten-konten di media sosial yang tidak mendidik. Negara harus berupaya keras demi mewujudkan generasi emas tahun 2045. Bagaimana bisa generasi emas terwujud tanpa sistem yang berkualitas?


*Mencabut akar masalah*


Namun semua itu akan sulit dilakukan jika sistem yang mendasari negara ini adalah sistem kapitalisme sekuler. Karena sistem ini tidak berdasarkan agama dan hanya mengejar keuntungan materi. Inilah yang menjadi akar masalah anak nakal. Selama akar masalahnya tidak dicabut, maka persoalan anak nakal tidak akan pernah selesai. Berbagai solusi hanyalah tambal sulam saja.


Sementara solusi Islam sangatlah jelas. Sistem pendidikan Islam yang berbasis akidah, negara yang bertanggung jawab membina generasi, masyarakat yang aktif melakukan amar ma’ruf nahi munkar, serta keluarga yang dibina untuk menjadi murobbi (pendidik) pertama anak-anak mereka.


Ada konsep 3x7 dalam mendidik anak dalam Islam. 7 tahun pertama (0-7 th) anak diperlakukan seperti 'raja'. Anak diberi limpahan kasih sayang, karena pada masa ini akal anak belum sempurna. Anak butuh perhatian besar, karena masih belum bisa mandiri. Pada masa inilah pendidikan aqidah ditanamkan, mengenalkan tentang Allah dan rasul-nya.


7 tahun kedua (7-14 th), anak memasuki masa tamyiz. Anak sudah mampu melakukan sesuatu secara mandiri (makan, mandi, dll). Pada masa ini, anak harus dilatih dengan berbagai tanggung jawab agar kelak bisa terjun ke masyarakat luas.


7 tahun ketiga (14-21 th), anak telah mukallaf (mampu dibebani hukum). Pada masa inilah, anak sudah mampu lepas dari orang tuanya, setelah mendapatkan kasih sayang dan pendidikan yang cukup. Anak sudah siap terjun ke masyarakat untuk menjadi seorang yang bermanfaat. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh para orang tua, namun masih banyak yang belum paham cara mendidik anak sesuai syariat Islam. Tugas negara adalah memahamkan warganya dalam mendidik anak.


Terbukti dalam sejarah, ketika Islam menerapkan konsep mendidik anak dalam sistem Kekhilafahan, yang dihasilkan adalah generasi penerus yang menjadi pemimpin dunia. Sangat sedikit saat itu ditemukan anak nakal. Sebagian besarnya justru menjadi orang-orang yang bermanfaat bagi umat manusia. Bahkan jasa-jasa mereka masih tetap bermanfaat hingga saat ini.


Seperti misalnya, ulama besar Imam Syafi'i yang ilmunya masih dipakai jutaan manusia. Ibnu Sina bapak kedokteran, ilmunya sangat menginspirasi hingga saat ini. Masih banyak lagi lainnya yang tidak cukup disebut satu persatu. Inilah buktinya penerapan sistem pendidikan Islam, bermanfaat dan membawa berkah.


Wallahu a'lam bishowab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update