Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Konspirasi Kedatangan Bill Gates

Monday, May 19, 2025 | Monday, May 19, 2025 WIB Last Updated 2025-05-19T13:18:46Z
Konspirasi Kedatangan Bill Gates

Oleh: Novita Ratnasari, S. Ak

 (Penulis Ideologis)


Pendiri Microsoft Group Bill Gates, melakukan kunjungan ke Indonesia. Sosok pembinis asal Amerika, bahkan berdasarkan riset, Ia merupakan orang terkaya di dunia versi Forbes selama 18 tahun, dari kurun waktu 1995-2017. Tentu dengan rekam jejak digital yang spektakuler, kunjungan ke Indonesia bukan sekedar transit.


Melansir dari portal Tempo.co, Kamis (8/5/2025) serba-serbi agenda Bill Gates di Indonesia, setidaknya ada dua. Pertama, pantau program makan bergizi gratis (MBG), dan yang kedua, rencana uji coba vaksin TBC. 


Agenda yang penuh teka-teki sekaligus mengundang dilema publik. Kenapa?


Bill Gates Apresiasi Program MBG


Pertama, menyoal program MBG, masih belum usang di memori masyarakat, terkait carut-marutnya program tersebut. Mulai dari narasi ulat satu mengandung banyak protein, porsi sedikit dan cukup kerupuk menjadi lauk MBG di daerah Papua, sempat beredar video panitia membawa pulang makanan MBG, hingga ratusan siswa keracunan makanan MBG di Bogor.


Uniknya, Bill Gates memberikan apresiasi usai memantau langsung program MBG di SD Negeri Jati 03, Pulogadung, Jakarta Timur. Sejatinya, ketika kita melihat berdasarkan view helikopter, kita dapati fakta bahwa ternyata tidak seluruh sekolahan menerapkan MBG sesuai SOP. Tentu untuk menarik benang merah menyoal SOP yang diberlakukan disetiap sekolah, harus dikaji serius dan mendalam. 


Sangat disayangkan, apresiasi program MBG oleh Bill Gates ketika banyak kecurangan, kejanggalan, hingga muncul keraguan publik. Secara tekstual, apa yang diucapkan Bill Gates memang benar adanya. Program MBG akan memberikan multiplier effect nasional, namun jika itu tepat sasaran dan sesuai SOP.


Ironis, di negeri ini, gizi buruk bukan satu-satunya problema. Mirisnya lagi, gizi buruk ada kerana kemiskinan yang sistemik. Justru program MBG ini membutuhkan anggaran yang fantastis. Namun ingatkah, berapa banyak buruh yang kena badai PHK dalam rangka efisiensi anggaran?


Belum lama, viral curahan netizen usai kena phk, hingga ramai unggahan "anak makan gratis di sekolah, pulang ke rumah ayah dan ibunya diphk."


Indonesia Menjadi Target Uji Coba Vaksin 


Kedua, rencana uji coba vaksin TBC M72 yang dikembangkan oleh Bill Gates. Apakah artinya Indonesia menjadi kelinci percobaan? 


Sedangkan, sekarang masyarakat berada di zona banjir informasi. Rasanya, tidak menjadi rahasia publik lagi jika Bill Gates bukan ahli di bidang kesehatan, melainkan seorang pengusaha Information Technology (IT). Akankah, bisnis berkedok kesehatan rakyat?


Ingatkah, vaksinasi pencegahan covid-19 yang berujung ajang bisnis. Mulai dari munculnya beragam varian, seperti Sinovac, Sinopharm, Moderna, serta AstraZeneca. Hingga sertifikat vaksin boster sebagai syarat pelamar kerja.  Akankah momen itu akan terulang kembali?



Meskipun, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Aji Muhawarman menyampaikan bahwa uji coba vaksin ini tidak berbahaya, namun realitasnya publik sedang dihantui rasa khawatir. Hingga saat ini, topik ini ramai diperbincangkan warganet, komentar netizen pun beragam mencuat di berbagai platform media sosial. "Coba yang jadi kelinci percobaan, yang kemarin koar-koar oke gas oke gas," ujar netizen.


Kenapa Indonesia Jadi Kelinci Percobaan?


Di Indonesia penyakit TBC  menjadi masalah kesehatan serius di masyarakat. Berdasarkan Global TB Report 2024, Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia perihal beban kasus TBC setelah India. Diperkirakan terdapat 1.090.000 kasus TBC serta 125.000 kematian setiap tahun, yang artinya ada sekitar 14 kematian per jamnya. 


Analogi sederhananya, angkat penyakit tinggi, biaya murah karena konteks nya uji coba, kemudian regulasi longgar dengan dalil kesehatan.


Sehingga wajar, Aji Muhawarman mengklaim jika keterlibatan Indonesia dalam riset ini, mencerminkan komitmen negeri ini dalam mendukung global memberantas TBC. 


Namun, siapa yang akan menjadi pengawas? Siapa yang akan bertanggung jawab penuh jika uji coba ini gagal?


Coba kita telisik lebih dalam dan cemerlang, ternyata Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa Pendiri Bill & Melinda Gates Foundation Bill Gates, telah memberikan dana hibah kepada Indonesia sejak tahun 2009. Sebesar US$ 159  atau sekitar Rp 2,6 triliun (asumsi kurs Rp 16.552 per dolar AS). Dana tersebut sebagian besar digunakan untuk penelitian serta uji coba vaksin, termasuk TBC, polio, serta malaria.


Terlihat ada simbiosis mutualisme di sini, berjalan beriringan sejalan dengan tujuan yang sama. Alih-alih memberantas TBC, aji mumpung ada uji coba vaksin TBC M72, jika berhasil tentu program sukses, jika gagal berdelik di balik uji coba. Tentu dari pihak Bill Gates, mengeluarkan dana raksasa mengharapkan keuntungan berlimpah dari eksperimen ini. Akan dibanjiri orderan vaksin, produksi makin tinggi, harga makin naik, untung jangan ditanya.


Memang banyak negara yang hari ini eksis dengan corak sistem ekonomi Kapitalisme, termasuk Amerika. Sangat mudah mengidentifikasi keberadaan Kapitalisme, misalnya fasilitas publik dikuasai oleh swasta. Seperti jalan tol, tempat parkir, rumah sakit, tambang, minyak sawit, gas, dan sumber daya alam lainnya. 


Jika ingin menggunakan layanan publik tetapi harus bayar, berarti di tempat tersebut sudah terkontaminasi atau bahkan menerapkan Kapitalisme tunggal, karena kebijakan sistem Kapitalisme bertumpu pada keuntungan sebesar-besarnya, bukan kesejahteraan. 


Dalam kasus ini merujuk pada fasilitas kesehatan, sejatinya fasilitas kesehatan itu adalah layanan publik yang bebas dan mudah diakses oleh setiap orang dengan cuma-cuma alias gratis.




Fasilitas Kesehatan Era Islam


Memang ada fasilitas kesehatan diakes gratis? Ada, dan pernah diterapkan sekitar 1400 tahun lamanya. Sayangnya, sejarah itu tidak eksis karena dikubur dan kaburkan.


Senada dengan hadits riwayat Hakim yang menjelaskan bahwa Islam memberikan perhatian penuh terhadap kesehatan umat.


“Mintalah oleh kalian kepada Allah ampunan dan kesehatan. Sesungguhnya, setelah nikmat keimanan, tidak ada nikmat yang lebih baik yang diberikan kepada seseorang selain nikmat sehat.” (HR Hakim).


Dari hadist ini, terlihat kesehatan disandingkan dengan keimanan. Esensi iman adalah taat dan tunduk kepada aturan Allah. Sedangkan, setelah nikmat iman, tidak ada nikmat yang lebih baik yang diberikan selain kepada orang sehat. Selaras dengan sabda Rasulullah Saw. “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan disukai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR Muslim).


Islam merupakan agama sekaligus aturan hidup yang sempurna dan paripurna. Dalam bidang kesehatan, Islam sangat memperhatikan setiap individu untuk mudah mengakes jaminan kesehatan. Artinya, untuk seluruh warga negara pemerintahan Islam, baik Muslim maupun kafir yang mau hidup dan tunduk di bawah aturan Islam, maka mendapatkan jaminan yang sama tanpa pandang bulu.


Dalam Islam, kepala negara atau khalifah sebagai eksekutor, tentu untuk mengurus umat, bukan untuk kepentingan pribadi atau segelintir orang, dan sesuai panduan dan aturan Islam. Rasulullah Saw. bersabda, “Imam (khalifah) yang menjadi pemimpin manusia laksana penggembala. Hanya ialah yang bertanggung jawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR Bukhari).


Hal ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para khalifah setelahnya, misalnya ketika Rasulullah mendapatkan hadiah dokter dari Muqauqis, Rasulullah lantas menjadikan dokter tersebut sebagai dokter umum bagi umat.


Kemudian, Rasulullah tidak mengambil pungutan biaya sepeserpun terhadap umat. Untuk administrasi dan upah dokter, Rasulullah mengambil dana dari pengelolaan sumber daya alam. Karena sumber daya alam dalam pandangan Islam, harus dikelola negara dan hasilnya untuk kesejahteraan umat.


Apabila, umat terjangkit penyakit yang menular seperti TBC, negara memberi penanganan dengan tepat dan cepat. Sehingga memutus rantai menular, ketika pasien diisolasi, negara pun wajib memberikan jaminan pangan, papan, dan kesehatan untuk umat dengan cuma-cuma. Jikalau ada vaksin, tentu tidak dipungut biaya, dan konteksnya bukan uji coba, tetapi pelayanan kesehatan yang aman dan semestinya.


Sangat jelas dan transparan bahwa Islam sesuai fitrah manusia, memuaskan akal serta menentramkan jiwa. 


Wallahu'alam Bishowab []

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update